30 December 2008

Mempertahankan Kebudayaan Sunda




Semakin hari, makin rumit rasanya mengklasifikasikan masyarakat dengan berbagai perangkat kebudayaannya. Terkadang, budaya dengan masyarakat penghasil budaya itu, tak lagi memiliki kaitan dan ikatan yang kuat. Penafsiran filosofis maupun historis atas berbagai simbol maupun etika budaya yang tersisa, nampak makin bias, miskin, dan hampir punah. Masyarakat telah berbaur semrawut menjadi semacam mozaik abstrak. Anthony Giddens (2002) menyebutnya sebagai masyarakat Kosmopolitan. Tak ada batas jelas antara identitas budaya-ku, budaya-mu dan identitas budaya yang lain.
Keresahan di atas juga dirasakan oleh Bangsa kita yang memiliki beragam etnis, agama, dan adat istiadat. Kita, Bangsa Indonesia, tidak pernah tuntas dengan mega proyeknya untuk mendefinisikan apa dan bagaimana rupa “kebudayaan indonesia” atau “kebudayaan nasional” itu yang sesungguhnya? Tak terbayangkan bagaimana kerumitan mencari benang merah dari ribuan kebudayaan daerah untuk mengkonstruksi sebuah kebudayaan nasional yang utuh dan tunggal. Seperti obsesi Raja Akhenaten dan Ratu Nefertiti yang memberangus dewa-dewa polytheis Mesir Kuno, untuk mengkreasi sebuah tatanan budaya dan religi baru yang bersandar pada monotheisme dewa Ra (Dewa Matahari). Namun, mimpi itu akhirnya hancur lebur menjadi debu, karena rakyat tidak berkenan meninggalkan budaya dan sesembahan lamanya (Nick Drake, 2007).
Nampaknya, pembelaan terhadap suatu kebudayaan (kepercayaan, tradisi, dan kebiasaan) yang dianut suatu bangsa, akan muncul tatkala budaya itu berada dibawah tekanan. Baik tekanan yang berupa “upaya penyeragaman” maupun tekanan dalam bentuk “ancaman kepunahan”. Meskipun demikian, hipotesis di atas tidak serta merta benar. Tergantung seberapa kuat orang-orang yang dirugikan akibat kepunahan suatu kebudayaan itu bereaksi? Kekuatan itulah yang nantinya akan mempengaruhi dan membangkitkan gairah anggota masyarakat yang lebih luas untuk ikut mempertahankan budayanya dari kepunahan. Karakter masyarakat yang ditempa oleh sejarah panjang masa lalunya, akhirnya akan sangat berpengaruh.
Relevan dengan itu semua adalah adanya kenyataan yang menunjukkan terjadinya peminggiran (marginalisasi) budaya Sunda oleh generasi etniknya sendiri (Ahmad Gibson, 2007). Hal ini dapat dilihat dari beberapa gejala, seperti hilangnya pengaruh elit Sunda dalam medan politik nasional (Moeflich Hasbullah, 2006) dan dari sisi tradisi, punahnya 70% lebih kaulinan Sunda (permainan tradisional) dari aktivitas masyarakatnya saat ini (Pusat Kajian Mainan Rakyat, 9/12/2007, okezone.com). Belum lagi jika dilihat dari aspek lain, seperti penggunaan bahasa, kesenian, upacara adat, dan aspek budaya lainnya. Nampaknya, karakter masyarakat Sunda, turut menentukan seberapa kuat kebudayaan Sunda mampu bertahan dari arus perubahan yang melanda dunia saat ini?

Sejarah dan Karakter Budaya


Membaca sejarah di masa lalu, bisa jadi menjadi salah satu penunjuk gambaran karakter masyarakat Sunda. Meskipun sekedar dari permukaan. Seperti kisah Palagan Bubat, yang tertuang manis dalam novel Dyah Pitaloka karangan Hermawan Aksan (2007), menunjukkan karakter etnik yang permisif dan khusnudzon (berprasangka baik). Prabu Linggabuana, Raja Sunda saat itu, rela melanggar patikrama leluhur demi pinangan Hayam Wuruk (Raja Majapahit) dan mimpi mempersatukan Sunda dan Majapahit. Ketulusan dan kelurusan niat itu, yang jarang dimiliki oleh elit politik, akhirnya memaksa mereka berperang di kandang musuh (akibat intrik Gadjah Mada) untuk mempertahankan kehormatan Sunda dan akhirnya hancur dalam keharuman nama.
Kisah yang lain, konon, runtuhnya kerajaan Hindu Pajajaran adalah akibat agresi dari kerajaan Islam Banten. Namun, dibalik itu sebenarnya adalah kisah pertarungan Bapak dan Anak, Prabu Siliwangi dan putranya, pangeran Walangsungsang yang telah memeluk Islam (O.Sahidi, 1999:24). Prabu Siliwangi tidak melawan putranya melalui perang. Ia lebih rela lengser keprabon dan moksa demi keyakinannya dan untuk melindungi rakyat Pajajaran dari pertumpahan darah. Mengalah demi anak, cinta perdamaian dan melakukan apapun demi menjaga keyakinan, adalah karakter yang tergambarkan dari episode sejarah ini.
Pada masa Kolonialisme, kekalahan Belanda dan berkuasanya Inggris, memulai babak baru politik agraria para tuan tanah di tatar Sunda. Tanah sunda nan subur dan cocok untuk perkebunan, dikuasai oleh swasta dan tuan tanah dari bangsa Asing. Pribumi hanya menjadi kuli dan jongos di negerinya sendiri. Kalaupun ada para priyayi yang diangkat menjadi pejabat, tak lebih tinggi kedudukannya dari para penjajah. Karakter masyarakat Sunda sebagai petani kebun dan tegal (huma) pada masa itu, berbeda dengan komunitas petani sawah yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang kebersamaan mereka melahirkan banyak pergolakan massif dan heroik.
Mekipun demikian, masih banyak titik balik sejarah lain yang dapat menggambarkan karakter khas masyarakat Sunda. Soekarno pun memulai revolusi-nya dari Bandung. Siapa pula yang tidak pernah mendengar lagu “Halo-Halo Bandung” yang menggambarkan heroisme perjuangan rakyat Sunda? Bahkan sekarang, fanatisme Maung Bandung terhadap klub sepak bola kesayangannya, Persib, pun masih menunjukkan eksistensi dan harga diri sebagai Urang Sunda yang cukup tinggi. Tapi begitulah uniknya masyarakat. Terkadang mereka begitu marah dan emosional ketika harga diri dan identitasnya terusik. Namun, di saat yang lain, mereka bisa begitu permisif menerima kebudayaan luar atau bahkan tidak peduli warisan budaya leluhurnya pelan-pelan menghilang.
Oleh karena itu, yang memainkan peran paling penting dari upaya mempertahankan kebudayaan adalah karakter masyarakat etniknya itu sendiri. Bagaimanapun laju perubahan, akulturasi, asimiliasi, bahkan agresi kebudayaan bertubi-tubi menghantam, jika karakter kolektif masyarakat itu hidup, maka mereka akan mampu bertahan. Riwayat masyarakat Sunda adalah sejarah yang kenyang oleh Agresi. Alam yang subur seringkali memang melenakan dan melemahkan karakter gigih dari masyarakatnya. Namun, komunalisme kekerabatan Sunda yang erat bisa menjadi modal agar kebudayaan tetap lestari.
Dibalik keberagaman yang kita lihat di tengah masyarakat, selalu ada yang seragam dan cenderung identik di antara mereka. Pun sebaliknya, di balik entitas yang nampak seragam, jika kita tengok lebih dalam, maka sesungguhnya mereka terdiri dari berbagai hal yang beragam. Mempertanyakan asal-usul kita, siapa kita? dan mengapa keadaan menjadi begini dan begitu? Adalah modal penting untuk mempertahankan suatu entitas kebudayaan. Siapa lagi kalau bukan kita?

Panen Ikan Mas di Ciherang


11 December 2008

Konferensi Sosiologi se-Asia Pasifik 2009

Improving the Quality of Social Life in Asia Pacific: a Challenge for Sociology

Intensive social change and transformation at the local, national and global level have resulted in a more dynamic, integrated, and yet still diverse Asia Pacific region. Different social configurations have emerged in sub-regions and in nations: some are better off while others remain stagnant or have gone into a decline.� The Asia Pacific region has become more stratified in every sector of life. Gaps are widening between rich and poor countries, between urban and rural areas, in relation to gender, and among classes and ethnic groups. The worst problems for the region include growing poverty due to rising food and fuel prices, environmental degradation, political and business corruption, and the eruption of social conflicts based on socio-cultural identities and/or politico-economic resources.
Responding to this situation, it is demanded of sociologists - both as academics and public scholars - to use their 'sociological imagination' to provide conceptual definitions, indicators, and theoretical explanations of current trends and phenomena. These analyses should be complemented by participatory social policy development and the creation of workable solutions to improve the quality of social life. Moreover, sociologists should offer models for implementing good governance, and for developing productive synergies between society and corporations.� It can be argued that society deserves more comprehensive solutions for social transformation from sociology, rather than merely remaining the object of study.
The APSA 2009 Bali Conference aims to broadly and critically define and analyse contemporary social issues in the region, and to suggest solutions to improve the quality of social life in Asia Pacific societies. The conference theme will be reflected in the sessions, papers, discussions and recommendations of the conference.
OBJECTIVES OF THE CONFERENCE
1. The main goal of the 9th APSA conference is to provide an opportunity for academics and professionals with a broadly sociological background and/or related fields of study to participate, and to share their research and theorising.
2. Since this conference is not only an academic gathering, the purpose is also to develop collaboration and cooperation among sociological institutions, academics, policy makers and professionals to contribute to the improvement of communities in the region.
3. The goal is also to attract new sociologists (including postgraduate students) in the Asia Pacific region to participate and contribute to the development and application of sociology.

Abstract and Papers Submission
Abstracts and papers are submitted to this following e-mail address : apsa9@ymail.com
Deadline for abstract submission : December 31, 2008
Announcement of selected abstract : February 28, 2009
Deadline for paper submission : May 14, 2009