19 April 2016

SUBANG BARU




Yanu Endar Prasetyo
Tim Relawan Pengkaji Informasi Publik (TRPIP)

Entah sengaja diundang atau tidak, kehadiran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai “tamu” di Kabupaten Subang memang cukup mengagetkan berbagai kalangan. Bagaimana tidak, tak tanggung-tanggung, pucuk pimpinan alias orang nomor satu di Kabupaten Subang langsung resmi mengenakan rompi oranye KPK. Tragedi ini bak petir di siang bolong, sebab peristiwa ini terjadi tepat di ujung rangkaian pesta Ulang Tahun Kabupaten Subang ke 68 yang berlangsung sangat meriah dengan berbagai pemecahan rekor MURI. Meskipun menurut pandangan sebagian kalangan, tersangkutnya bupati dalam kasus korupsi di Kabupaten Subang bukanlah hal baru. Dua Kepala Daerah sebelumnya (Maman Yudia dan Eep Hidayat) juga pernah lengser akibat tersandung kasus korupsi. Pertanyaannya, mengapa kasus seperti ini bisa terulang kembali? Tidakkah muncul efek jera dan pembelajaran dari kasus-kasus sebelumnya?

21 March 2016

TRPIP : Dari SKB sampai Paripurna DPRD


Tim Relawan Pengkaji Informasi Publik (TRPIP) merupakan wadah relawan yang terbentuk dari berbagai elemen dan komunitas di Kabupaten Subang. Terbentuknya TRPIP ini diawali dari diskusi publik tentang Industrialiasi di Kabupaten Subang yang diselenggarakan di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kab. Subang. Dari hasil Diskusi Publik tersebut, seluruh partisipan menyepakati untuk melakukan riset kolaboratif terkait dengan isu Industrialisasi di Kabupaten Subang, salah satunya adalah riset ilmiah yang memotret bagaimana kondisi sosial dan ekonomi buruh perempuan di Kabupaten Subang. Kegelisahan tentang isu buruh perempuan ini muncul seiring maraknya pendirian pabrik Garmen di Kabupaten Subang yang sebagian besar mempekerjakan buruh perempuan.


05 March 2016

Situs Subang Larang : Antara Mitos dan Sains


Anda orang Subang? Tinggal di Subang? Pernah mendengar tentang Subang Larang? Belum? Ya, wajar saja, mungkin ada yang pernah mendengar, ada juga yang baru mendengar pertama kali. Jika kita bertanya apa itu Subang Larang, maka akan banyak sekali versi yang beredar di tengah masayarakat. Coba saja lakukan survei dengan bertanya pada sepuluh orang di sekitar Anda, jawabannya akan sangat bervariasi. Wajar, karena memang Subang Larang bisa dikategorikan sebagai Cerita Rakyat yang berkembang di tatar Sunda, sehingga banyak sekali versi dan detail-detail yang beragam dalam kisah ini. Sebagai Pengantar, mungkin Anda bisa membaca artikel berikut ini --> "Menguak sejarah Nyai Subang Larang" atau artikel ini sebagai pembanding --> "Kisah cinta Prabu Siliwangi dan Nyi Subang Larang (Ratu Galuh) Mangku Bumi". Keduanya bercerita tentang Subang Larang sebagai mitos yang kemudian memiliki petilasan/maqom berupa makam yang dipercaya masyarakat berada di Subang, tepatnya saat ini berada di Nanggerang, Kecamatan Binong, Kab. Subang, Jawa Barat. Berkat mitos dan kepercayaan itu, setiap hari dan terutama pada selasa kliwon, lokasi situs Subang Larang ini dipadati warga dari berbagai pelosok negeri, tentu saja dengan berbagai niat, tujuan dan ritual yang berbeda.

Sensasi Mandi di Mata Air Cimincul

Mata Air Cimincul berlokasi di tengah hijaunya persawahan Desa Pasanggrahan, Kecamatan Kasomalang, Kabupaten Subang. Untuk menuju kesini relatif mudah. Dari Bundaran Tugu Nanas Jalan Cagak, Anda bisa lurus terus sampai melewati pasar Kasomalang. Tidak jauh dari pasar, Anda akan bertemu dengan pertigaan yang mengarah ke Desa Pasanggrahan. Setelah belok kanan di pertigaan (agak sedikit menanjak) kita tinggal berjalan lurus terus sampai melewati Kantor Desa Pasanggrahan. Sekitar 1 Km dari situ akan ada gang kecil menurun ke arah kiri (jika ragu bisa bertanya kepada warga sekitar hehehe) dan tralalala.....sampailah kita di Mata Air Cimuncul yang tersembunyi dibalik hijaunya persawahan warga :) Sampai saat ini tidak ada tiket masuk alias Free!! hanya siapkan saja uang untuk parkir kendaraan seikhlasnya...asyik dan seru bukan?!

Segarnya Berendam di Curug Cijalu Subang

Bingung mau weekend kemana? Jika belum tau mau kemana, mungkin berwisata ke air terjun atau curug bisa menjadi pilihan tepat untuk Anda! Ada salah satu lokasi curug yang sudah cukup representatif untuk liburan keluarga di Kabupaten Subang. Ya, Curug Cijalu! lokasinya berada di Kecamatan Serang Panjang. Kecamatan ini merupakan perbatasan anatara Kabupaten Subang dengan Kab. Purwakarta. Tertarik? cobalah berkendara (sepeda, mobil, motor) dari Jalan Cagak ke arah purwakarta/wanayasa. Perjalanan menuju ke lokasi ini pun sangat menyegarkan mata, karena di kiri kanan jalan adalah hamparan sawah dan perbukitan nan hijau. Jalanan juga mulus. Setelah melewati Kec. Sagalaherang, Anda akan masuk ke Kec. Serang Panjang. Ikuti terus jalan ini sampai Anda menemukan pertigaan dengan papan nama dan Gapura yang cukup mencolok bertuliskan Curug Cijalu. Ikuti jalan tersebut kurang lebih 7 km ke dalam. Untuk tiket masuk saat saya kesana (2016) hanya Rp. 15.000/orang. Murah meriah bukan? dijamin, tidak akan menyesal sepulang dari Curug Cijalu!

16 December 2015

DISKURSUS PEMEKARAN PANTURA SUBANG


Oleh : Yanu Endar Prasetyo
Social Engineer & Pegiat TRPIP Subang

Ada dua hal yang membuat Saya menulis esai pendek tentang topik yang mungkin sedang menjadi isu “panas” sekaligus “sensitif” di Kab. Subang ini. Pertama, momentum meninggalnya Indonesianis terkemuka, penulis buku “Imagined Communities”, Prof. Bennedict Anderson. Ia adalah salah satu pemikir serius yang mendalami studi soal nasionalisme dalam arti luas dan sempit. Sebuah kerangka paradigmatik untuk mengupas “konflik” antara nasionalisme dan kedaerahan, antara penyeragaman dan otonomi serta relasi antara identitas bersama (bangsa) dan identitas individu (etnis).
Dengan pisau analisis ini penulis tergelitik untuk meletakkannya dalam konteks perebutan hegemoni di level regional-lokal yang menyeruak. Misalnya, wacana penggantian nama provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Pasundan, pasang surut isu pemekaran wilayah Cirebon dari Jawa Barat, bahkan termasuk polemik identitas “sampurasun” vs “campur racun” yang hangat diperbincangkan di media sosial kita belakangan ini.
Kedua, tentu saja pasang surut wacana pemekaran Pantura Subang itu sendiri yang dalam satu dekade belakangan terus muncul dan tenggelam dalam diskursus politik di Kabupaten Subang khususnya. Dalam konteks terakhir inilah tulisan ini dibuat. Tidak bermaksud memperkeruh keadaan, namun tulisan ini mencoba mengurainya secara reflektif-sosiologis bagaimana isu ini bisa muncul, dikelola dan berbagai faktor yang patut dipertimbangkan oleh para elit dan lini massa yang berkepentingan di dalamnya.

Territorial Reform(s) dan Tafsir Kedaerahan

05 October 2015

Kuliner di Musi Banyuasin

Berikut beberapa kuliner di Musi Banyuasin dan Palembang yang wajib kamu cicipi bila suatu saat singgah di kota ini. Karena dari kuliner inilah cita rasa Sumatera Selatan bisa kau nikmati hingga rasa itu tak akan pernah hilang dari memori pengecapmu, guys :D  


<--- Es Kacang Merah

29 September 2015

Pesona Alam Pulau Lombok

Ini kesekian kalinya saya pergi ke Lombok, Nusa Tenggara Barat. Meskipun cukup sering, setiap menginjakkan kaki ke negeri seribu masjid ini selalu membawa kesan yang berbeda. Walaupun pulau Lombok "sekecil" itu, rasanya belum pernah merasa benar-benar bisa tuntas mengelilinginya. So, berikut beberapa pesona yang sempat terpotret dengan pandangan mata langsung selama perjalan di Lombok, negeri penuh pesona ini :)

Pantai Pink

Pantai ini berada jauh di lombok timur. Kita bisa mencapainya dengan naik perahu atau via jalur darat yang cukup jauh dengan jalan yang masih dalam tahap pembangunan. Disebut pantai pink karena pasirnya berwarna pink saat terkena sinar matahari siang (jam 10-2 siang). Dan kalau kita lihat pasirnya pun memang mengandung serpihan pasir berwarna kemerahan. Bibir pantainya memang pendek, tapi jangan tanya lagi soal keindahannya. Top markotop. Oh ya, sebelumnya thanks berat atas foto-foto keren dari master fotografi kita Bang Erwin Astro untuk gambar-gambar spektakuler dibawah :)


25 September 2015

SUBANG PERLU CITY BRANDING





Oleh : Yanu Endar Prasetyo
Social Engineer
Pasundan Ekspres, 26 September 2015 


Ini adalah persoalan bagaimana mengemas identitas sebuah kota atau kabupaten. Seperti yang dikemukakan dalam hasil penelitian oleh Efe Sevin (2014)  bahwa place branding atau city branding merupakan sebuah jaringan sosial dan komunikasi semantik sekaligus yang mengeksplorasi hubungan antara kota, orang-orang dan pesan yang ingin disampaikan. Identitas semacam ini penting karena secara tidak langsung akan mendorong pemilik identitas (warga) untuk mengidentifikasikan bagaimana ia harus berpikir, bersikap, berperilaku hingga ke alam bawah sadarnya. Sebagai contoh jika seseorang tinggal di sebuah kota yang berlabel kota santri, maka tindak tanduknya, cara berpakaian, adat kebiasaannya akan menyesuaikan dengan nilai dan norma ideal layaknya seorang santri. Atau misalnya penduduk di Pulau Dewata Bali yang dikenal sebagai destinasi wisata kelas dunia, maka ia akan mengidentifikasikan dirinya juga sebagai warga global yang siap berjumpa dengan wisatawan dari seluruh belahan dunia. Tidak perlu jauh-jauh, Bandung misalnya yang terkenal sebagai Paris van Java, tentu spirit sebagai trend center dunia fashion, hiburan, kuliner dan wisata belanja lainnya terasa kental di segenap jantung kota Bandung. Orang pun tahu dan sadar apa saja yang akan dilakukannya ketika berkunjung ke kota Bandung. What to see, what to do and what to buy? Komplit.

10 September 2015

TOL CIPALI & PELUANG EKONOMI BAGI KABUPATEN SUBANG


PELUANG DAN TANTANGAN
PENGEMBANGAN AGRIBISNIS, PARIWISATA DAN INDUSTRI KECIL
DI KABUPATEN SUBANG

Oleh :
Drs. Sukirno, MS[1] & Yanu Endar Prasetyo, S.Sos. M.Si[2]
Pusat Pengembangan Teknologi Tepat Guna
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia


ABSTRAK

Jalan Tol Cipali telah diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo pada tanggal 13 Juni 2015. Jalan bebas hambatan yang melewati belasan desa di Kabupaten Subang ini juga telah dilewati para pemudik pada lebaran tahun 2015 lalu. Hampir 1 juta kendaraan melewati Tol Cipali sepanjang arus mudik dan balik tersebut. Kehadiran Tol ini tentu saja memberi dampak, baik positif maupun negatif, terhadap perekonomian di kabupaten Subang. Dampak positif tentu saja terbukanya peluang pasar baru bagi produk-produk khas Subang, bertambahnya kunjungan wisatawan yang lewat maupun bermalam, dan lain sebagainya. Peningkatan mobilitas manusia sewajarnya diikuti dengan peningkatan jumlah uang yang dibelanjakan di Kabupaten Subang. Dampak kurang baiknya mungkin saja dirasakan oleh para pelaku ekonomi di jalur Pantura dan jalur Kalijati-Sadang yang terindikasi menurun jumlah wisatawan yang melewatinya. Kajian tentang dampak ekonomi ini kehadiran Tol ini sesuatu yang penting dan menarik. Jika kehadiran jalan tol dianggap sebagai peluang, maka perlu road map pengembangan agribisnis berbasis komoditas lokal di kabupaten Subang yang dikoneksikan dengan potensi pariwisata dan industri kecil di wilayah Kabupaten Subang secara komprehensif. Pemanfaatan teknologi dan inovasi untuk pengembangan komoditas unggulan menjadi mutlak diperlukan dalam rangka mendukung percepatan pengembangan agribisnis, pariwisata dan industri kecil di Kabupaten Subang.

Kata Kunci : Tol Cipali, Agribisnis, Pariwisata, Industri Kecil, Subang

   

04 September 2015

SOSIOLOGI DALAM PRAKTIK

Oleh : Yanu Endar Prasetyo


“Reason has always existed, but not always in a reasonable form.”
(Karl Marx, 1843)[3]






A.   Jati Diri Sarjana Sosiologi
Mempelajari ilmu tentang masyarakat (sosiologi) merupakan proses kompleks dan dinamis antara pengenalan terhadap “diri[4] (ke dalam) dan pemahaman terhadap “lingkungan” (ke luar) sekaligus. Sejalan dengan pemikiran G.H. Mead tentang makna diri tersebut, penulis meyakini bahwa kelompok sosial selalu muncul terlebih dahulu sebelum kemudian lahir individu yang bisa berpikir dan sadar diri. Ada proses auto-refleksi terhadap hakekat ke-diri-an kita sebagai bagian dari sebuah komunitas yang dinamis, sekaligus proses pembelajaran dalam memotret fenomena sosial diluar diri dengan penalaran dan analisa yang kritis. Ibarat seorang fotografer, semakin Ia memahami karakter kamera dan lensa yang dipakainya, maka akan semakin bagus hasil bidikannya. Semakin tinggi jam terbang memotretnya, maka semakin peka sang fotografer itu terhadap aspek pencahayaan, obyek, dan sudut pandang yang harus diambil untuk menghasilkan karya seni yang berkelas. Pun halnya dengan kita sebagai individu maupuan sebagai seorang sarjana sosiologi.

14 August 2015

LIPI Luncurkan Layanan Jasa TTG Satu Pintu di Subang

Pusat Pengembangan Teknologi Tepat Guna (Pusbang TTG) – Lembanga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Subang, hari ini, Kamis (13/8/2015) menggelar Media Gathering dan Launching Layanan Jasa TTG Satu Pintu di kantor Pusbang TTG – LIPI, jalan KS Tubun No. 5 Subang. Acara diisi dengan dialog bertema “Sumbangsih LIPI bagi Pembangunan di Kabupaten Subang”. Hadir sebagai narasumber  Ketua DPRD Kabupaten Subang, Ir. Beni Rudiono, Ketua Dekopinda Kabupaten Subang, H. Daeng Ma’mur Thahir, SE dan Lukman Nurhakim, S.Ikom dari media massa. Selain diskusi, pada kesempatan itu dipaparkan pula hasil-hasil Litbang Pusbang TTG serta demo alat teknologi tepat guna. Kepala Pusbang TTG LIPI Subang, Yoyon Ahmudiarto mengungkapkan acara ini dimaksudkan untuk mempererat silaturahmi antara stake holder, sosialisasi berbagai kegiatan LIPI dan diseminasi hasil litbang, serta untuk memperkuat kerjasama dengan media untuk menyebarluaskan informasi hasil penelitian.


30 July 2015

Peran KIM dalam Pemetaan Inovasi Akar Rumput



Oleh : Yanu Endar Prasetyo
 
Potensi kabupaten Subang tidak hanya terletak pada kekayaan sumber daya alamnya saja, melainkan juga tersembunyi pada potensi sumber daya manusianya yang tak kalah besar. Salah satunya adalah potensi inovator-inovator akar rumput. Siapa itu inovator akar rumput? Mereka adalah orang-orang yang mampu menyelesaikan masalah keseharian yang dihadapinya dengan ide, kreativitas, teknologi dan inovasi yang diciptakannya sendiri atau secara berkelompok. Kreativitas tersebut kemudian diakui dan digunakan pula oleh komunitas atau masyarakat di sekitarnya. Orang-orang kreatif seperti ini tidak selalu dikenal, bahkan seringkali tersembunyi. Mereka juga kerap tidak mendapat fasilitas, bantuan atau pendanaan dari lembaga formal seperti pemerintah dan swasta. Mereka adalah orang-orang yang bekerja dalam “sunyi”, tanpa hingar bingar pemberitaan namun kreativitasnya menjadi solusi bagi orang-orang di sekitarnya.

27 July 2015

Global Exploration di Hutan Pendidikan Iklim Blanakan

Detara Foundation yang bermarkas di Bogor bekerja sama dengan Global Exploration menyempatkan diri membawa 23 pelajar dari Belanda berkunjung dan berinteraksi dengan pelajar serta masyarakat lokal di Hutan Iklim Blanakan, Subang, pada minggu kemarin (26/7/2015). Beberapa kegiatan peduli lingkungan digelar bersama, mulai dari kegiatan pungut sampah, pendidikan sanitasi (gosok gigi bersama anak-anak SD di desa Muara), menanam pohon, membuat papan-papan peringatan dan lain sebagainya di hutan buatan hasil isisiasi masyarakat dengan Pertamina tersebut. Tidak hanya kegiatan yang bertema lingkungan, namun juga kegiatan sosial budaya lainnya digelar, seperti lakon asal-usul blanakan yang dibawakan dalang kecil menggunakan wayang kertas, kemudian pertunjukan tari merak sampai dengan menari dan joged bersama dilakoni dengan penuh semangat kekeluargaan dari semua peserta. Beberapa komunitas di Subang juga hadir mendukung kegiatan Global Eksploration ini, seperti dari Sobat Budaya Subang, Suling (Suara Lingkungan) Subang, Facebookers Subang, Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) Subang, Himpunan Alumni IPB Subang, dan beberapa media seperti Pasundan Ekspres dan KotaSubang.com. Acara berlangsung dari pagi sekitar pukul 9.00 sampai dengan pukul 14.00 WIB. Berikut foto-foto di kemeriahan acara yang keren tersebut, Check It Out!