"Apa yang ku tahu tentang hidup, adalah hal yang tak terlihat oleh mata. Seperti geliat-geliat nasib yang merangkak menuju keabadian. Untuk apa menangis, jika tak kan terisi perut karenanya.
Tapi jika ingin menangis, menangislah karena kau hidup tanpa seorang pun yang membutuhkanmu ada, dan karena Tuhan tak menganugerahimu air mata.
Di sudut jalan itu kulihat seonggok manusia dengan telapak tangan menganga. Siapa yang ingin sepertinya? Tak ada! Bahkan tidak dirinya sendiri. Hidupnya adalah belas kasihan manusia dan sisa-sisa harapan yang kandas begitu saja.
Tapi aku tak kan sama! Walau mungkin hidup bagiku hanyalah ketika malam tiba, ketika manusia terpejam dan nafsu merajalela" (Wahyu Wiji Astuti)
Artikel ini dimuat di Harian Inilah Koran, edisi Senin, 6 Februari 2012, hal Aspirasi (8)
Oleh : Yanu Endar Prasetyo
Kritik dan kecaman yang membanjiri DPR belakangan ini secara tidak
langsung juga merupakan tamparan keras bagai partai politik (Parpol) di
Indonesia. Gaya hidup mewah, pemborosan anggaran hingga indikasi korupsi yang
melilit politisi yang duduk di DPR dan DPRD seakan melengkapi ambruknya
integritas wakil rakyat yang notabene
dicetak dan dikader oleh Parpol tersebut. Bukan sekarang saja, hampir setiap
tahun sejak reformasi digulirkan, gedung wakil rakyat tidak pernah sepi dari
berbagai skandal yang menggaduhkan ruang publik. Tindakan asusila, pornografi,
kinerja buruk, jual beli peraturan dan anggaran, tidur dan membolos ketika
rapat, hingga politik uang dalam pemilihan pejabat publik silih berganti menjadi
headline di media.
Artikel ini dimuat di Harian Inilah Koran, Edisi Jumat 27 Januari 2012, halaman Aspirasi (8)
Oleh : Yanu Endar Prasetyo
Fenomena
makin merebaknya pengemis di bawah umur benar-benar membuat gelisah. Saya
prihatin dari dua sisi sekaligus, pertama
dari makin beragamnya penyebab mereka turun ke jalan dan kedua dari dampak pembiaran (baik oleh pemerintah maupun masyarakat
sendiri) terhadap fenomena ini yang sungguh sangat dahsyat dimasa mendatang.
Dilihat dari aspek penyebab bertambahnya pengemis di bawah umur, nampaknya
tidak lagi hanya sekedar desakan ekonomi, tetapi sudah menunjukkan indikasi
kebudayaan kemiskinan yang semakin akut. Jika dahulu kita hanya melihat
pengemis difabel atau lansia, maka fenomena hari ini menunjukkan sebuah potret
“keluarga utuh” yang turun ke jalan. Mereka terdiri dari perempuan (sambil
menggendong bayi, entah bayi sendiri, orang lain atau justru korban perdagangan
manusia), anak-anak di bawah usia 15 tahun, difabel, dan lansia.
Ketika penat dan suntuk melanda, apa yang Anda lakukan? Jika Anda adalah
orang yang suka membuang kelesuan dengan cara jalan-jalan keluar rumah (“mencari
angin”) maka tidak ada salahnya Anda berkunjung ke Situ Wanayasa yang berlokasi
di Kabupaten Purwakarta ini. Di tempat wisata keluarga ini, Anda akan mendapatkan
angin yang benar-benar luar biasa, kencang, sejuk dan dingin. Meski lokasinya
bukan di tepi laut (pantai), namun tiupan angin yang berhembus di sekeliling
Situ (semacam bendungan air) ini sama nikmatnya dengan angin pantai. Dengan
berdiri atau duduk di bukit kecil yang berada di tengah situ, sembari memandang
permukaan air yang begitu tenang, maka segala penat, jenuh dan suntuk anda akan
lenyap seketika terbawa angin wanayasa ini.
Temans, ini sedikit catatan dari sosialisasi beasiswa studi ke Amerika Serikat,
Fulbright-Aminef, yang saya hadiri kemarin (jumat, 20/01/12, pkl 09-11) di Gedung
Rektorat IPB, Lantai 6. Barangkali ada yang berminat mau belajar ke negeri
Obama bisa lewat jalur beasiswa ini. Meski dikenal dengan seleksi yang ketat,
tetapi apa salahnya menjajal keberuntungan kita. Seperti kata orang bijak, “beasiswa
bukan hanya untuk orang pintar, tetapi bagi mereka yang mau bersungguh-sungguh”.
Tetapi saya akan sampaikan apa yang sempat tercatat di notes saya, untuk lebih
lengkap dan detailnya bisa juga dilihat di website mereka yaitu di : www.aminef.or.id
untuk macam-macam programnya http://beasiswa.dikti.go.id untuk formulirnya dan juga e-mail untuk bertanya langsung ada di infofulbright_usa@aminef.or.id. Beberapa gambaran umum tentang Fulbright-Aminef dan alasan mengapa harus
studi di Amerika antara lain :
Sejak membuka
lembar pertama, saya tidak bisa berhenti membaca novel karya Langit Kresna
Hariadi ini. Demikian memikat jalan cerita dan bahasa tutur penulisnya, membuat
saya tidak bisa melepaskan buku ini sebelum tuntas membacanya. Alhasil, ditengah perjalanan, di dalam
angkot hingga di tengah-tengah diskusi kuliah (maaf pak dosen J) saya “terpaksa” mencuri waktu demi menelan habis kisah dalam novel
serial kedua "Gajah Mada : Bergulat dalam Kemelut Takhta dan Angkara” ini
secepat mungkin. Lebih dari sekedar menuruti rasa penasaran yang ditimbulkan oleh
alur ceritanya, tetapi juga karena banyak sekali pelajaran kehidupan yang dapat
dipetik di setiap lembar kisahnya.
Dosen Fakultas Ekologi Manusia IPB, Warga Negara RI - tinggal di Bogor Jawa Barat
Bogor, 13.01.2012
Kepada YTH
Dr. Susilo Bambang Yudhoyono - Presiden RI,
di Jakarta
Semoga surat elektronik ini menjumpai anda dalam keadaan sehat, dan tidak sedang dirundung resah dengan keadaan negeri ini, seperti saya sedang resah oleh karenanya.
YTH Presiden RI, pekan-pekan ini negeri ini menyaksikan gejolak gerakan anarkhis yang tak terhitung jumlahnya di desa-desa dan aras bawah lapisan sosial negeri ini. Sekiranya anda dulu saat belajar di IPB sempat mempelajari ilmu-ilmu sosiologi pedesaan, maka anda akan segera paham bahwa akar persoalan itu sesungguhnya bukan kekerasan biasa. Gejolak ini berakar kuat padakrisis pedesaan di pelosok-pelosok negeri yang bertali-temali dengan krisis penguasaan sumber-sumber penghidupan(tanah, air, hutan, dsb). Sayangnya, waktu terlalu cepat dan anda tidak sempat berkenalan dengan sosiologi pedesaan. Dengan ini, hendak dikatakan bahwa krisis yang terjadi bukanlah krisis ekonomi biasa, tetapi krisis itu berkaitan erat dengan suasana kebatinan sosiologis rakyat Indonesia di pedesaan yang penghidupannya merasa terancam.
Artikel Ini dimuat di Harian Inilah Koran, Edisi Kamis 8 Desember 2011, Hal Aspirasi
Oleh : Yanu Endar Prasetyo
“Hari mulai
siang bukan karena ayam berkokok, melainkan ayam berkokok karena hari mulai
siang!” demikian salah satu cerita dari Egmond Rostand yang dikutip oleh
Bung Hatta dalam otobiografinya (2011:108). Bung Hatta menulis itu dalam kaitan
untuk menggambarkan hubungan antara pemimpin dan kehendak rakyat yang
dipimpinnya. Menurutnya, pemimpin sejati bukanlah seperti ayam yang
merasa bahwa tanpa ia berkokok maka matahari tidak akan muncul. Akan tetapi
pemimpin sejati ialah yang paling mampu merasakan kegelisahan dan keadaan
rakyatnya (seperti makin susahnya hidup karena banyaknya koruptor) dan kemudian
ia berjuang untuk membangun kesadaran semua orang (berperang melawan korupsi). Lalu,
apa kaitannya ayam berkokok dengan peristiwa kebangsaan kita akhir-akhir ini?
“…ternyata
tidak terjadi perubahan dari budaya lisan ke budaya tulis, sehingga wajarlah
jika kita masih dianggap sebagai bangsa yang kehilangan ilmu pengetahuan (lost
science in the third world) karena jarang bangsa lain yang mengetahui (membaca)
penemuan-penemuan ilmiah kita”
Sebuah perkawinan luar biasa
berlangsung sudah. Putra orang nomor satu di negeri ini mempersunting putri
orang nomor satu dari salah satu partai besar yang sekaligus adalah menteri koordinator
perekonomian RI. Peristiwa bahagia ini tentu saja menyedot banyak perhatian.
Selain karena melibatkan nama-nama besar, juga karena terlalu sayang untuk dilewatkan
begitu saja. Membayangkan pernikahan dua keluarga pembesar negeri itu, laksana
penyatuan dua buah kerajaan di masa lalu. Sebuah dinasti keluarga baru telah
terbentuk.
Inilah Koran, Kamis 24 November 2011, Hal 8 (Aspirasi)
Oleh : Yanu Endar Prasetyo
(artikel versi lengkap)
Keluarga Mang Djaja (55 tahun) baru saja menyelenggarakan pesta hajatan pernikahan putrinya yang kedua. Putrinya ituberumur 18 tahun dan baru saja lulus
SMK. Bagi Mang Djaja dan keluarga, menyelenggarakan pestapernikahan merupakan sebuah kewajiban. Sebab, sesuai tradisi di
Sunda – dan masyarakat Jawa – pada umumnya, pihak perempuan adalah tuan rumah
utama dalam upacara pernikahan. Sedangkan pesta di keluarga laki-laki sifatnya
opsional, boleh ada boleh tidak.
Sebuah konsep dapat bermakna dan berubah melampaui arti/makna
aslinya. Namun, biasanya pemahaman kita terhadap sesuatu dapat dikembangkan
dengan mengetahui makna turunannya itu. Etimologi dari kata “sosial” seharusnya
dapat membantu kita memahami apa arti modal sosial dan bagaimana ia berbeda
dari bentuk-bentuk kapital lainnya?
Kata “sosial”
adalah salah satu kata sifat yang paling luas digunakan dalam bahasa Inggris.
Ini terkait dengan kata benda “masyarakat” yang berasal dari bahasa Latin “socius” yang berarti “teman atau kawan”. Hal ini
mengindikasikan bahwa apa itu “sosial” aslinya diturunkan dari fenomena
“pertemanan”, yang menyiratkan makna kerjasama, solidaritas, saling
respek/menghargai, dan kepekaan terhadap kepentingan umum.
Konsep modal sosial telah sedemikian luas diterima
di kalangan komunitas profesional pembangunan. Akan tetapi, ia masih saja
menjadi konsep yang sulit dipahami. Antusiasme terhadap konsep modal sosial ini
mengingatkan kita pada bagaimana konsep partisipasi juga sangat
diterima dalam teori maupun praktek pembangunan dalam kurun 1970an, walaupun bagi
banyak orang konsep ini juga masih dianggap sebagai sesuatu yang abstrak
(meskipun ia lebih pada masalah preferensi daripada soal studi empiris atau
penerapannya)
Perhatian terhadap dua konsep ini (modal sosial dan
partisipasi) didorong oleh masalah yang sama. Sebab, banyak pengalaman di dunia
nyata yang menunjukkan bahwa inisiatif pembangunan yang tidak mempertimbangkan
dimensi manusia – termasuk faktor-faktor
seperti nilai-nilai, norma-norma, budaya, motivasi, solidaritas – akan
cenderung kurang berhasil dibanding dengan yang mempertimbangkan dimensi
manusia. Bukan hal yang aneh kalau model pembangunan yang mengabaikan semua itu
akan berujung pada kegagalan.
“Di alam Neoliberalisasi, buruh yang mudah dipecat
(disposable labour) merupakan figur utamanya”
(Harvey, 2009:285)
“Neoliberalisme menginginkan peran negara dibatasi
dalam pasar. Akan tetapi, sesungguhnya negara itulah sebagai pusat dari sistem
kapitalis modern ini, karena dialah yang dengan murah hati mengeluarkan
kebijakan yang selalu menguntungkan korporasi besar”
(Noam Chomsky)
Sebagai sebuah praktek pembangunan, Neoliberalisasi memang memberikan
dampak keberhasilan yang sangat besar, khususnya bagi lapisan atas atau kelas
elit. Bagaimana tidak, Neoliberalisasi ini telah berhasil memberi ruang bagi
terbangunnya kembali kelas-kelas kapitalis baru. Lihatlah Neoliberalisasi yang
berlangsung di China, bagaimana kesenjangan antara kelas elit (partai penguasa
dan korporasi) dengan kelas buruh justru semakin mencolok. Tengoklah – bahkan
di Indonesia sendiri – bagaimana industri media dimonopoli oleh segelintir
orang atau korporasi super kaya, sehingga memungkinkan mereka untuk
menyebarluaskan agenda-agenda tersembunyi dari kelas elit tersebut. Pesatnya
pertumbuhan sektor keuangan dan jasa keuangan seringkali digembar-gemborkan
sebagai kesuksesan Neoliberalisme. Bisa kita lihat, kota-kota yang menjadi
pusat keuangan dan komando bisnis global (Manhattan, Tokyo, London, Paris,
Frankfurt, Hong Kong, Shanghai, dll) telah menjadi daerah yang berlimpah
kekayaan dan teramat megah dengan ribuan gedung pencakar langitnya. Di lantai
gedung-gedung megah inilah berlangsung perdagangan antar lantai yang
menghasilkan kekayaan fiktif nan berlimpah. Sebuah bisnis spekulatif telah
berkembang pesat. Namun, siapa yang menikmati semua keberhasilan itu?
Disadari atau tidak, Negara-negara di seluruh dunia
hari ini secara berjamaah telah berbai’at
pada agama tunggal pembangunan bernama Neoliberalisme. Ibarat kepercayaan dalam
arti sebenarnya, paham Neoliberal ini juga memiliki Nabi-Nabi, firman-firman
dan doktrin-doktrin yang menopang perkembangannya. Secara fundamental,
Neoliberalisme adalah agama yang bertauhid atau meng-esa-kan pasar sebagai
“tuhannya”. Dengan kata lain, aktivitas transaksi pasar adalah pemandu utama
bagi segala aktivitas dan tindakan manusia. Dalam Neoliberalisme kita diajarkan
bahwa kesejahteraan manusia hanya akan diperoleh jikalau kita menempatkan
kebebasan dan keterampilan entrepreneurial individu dalam suatu kerangka
kehidupan yang menjunjung tinggi kepemilikan individu, pasar bebas dan
perdagangan bebas (Harvey, 2009:3). Negara dalam rumus Neoliberal memiliki tugas
untuk menjaga agar kerangka tersebut bisa berjalan, misalnya dengan menegakkan
hukum, menjaga pertahanan dan keamanan, serta menyediakan
infrastruktur publik lainnya demi berjalannya ekonomi pasar. Namun, Negara sama
sekali tidak boleh turut campur dalam wilayah pasar itu sendiri.