29 December 2016

Digital Divide: Inequality and Alienation on the Era of Digital Democracy

Digital technology revolution is changing the future of the world. Although digital technology has reduced the barriers of time and distance, at the same time it also producing the so-called “digital divide,” which is another form of inequality. There are two levels of the digital divide; the first level is the lack of access to IT and the second level is inequality in the utilization of these technologies. This paper analyzes various forms of the digital divide, especially from the aspect of socio-demographic variables and their impact on democracy and politics in the era of mass society. A literature review shows that digital technology is changing the democracy and its study; internet use for politics is also not equal depending on skills and motivational factors; and its affects how religious communities change their perceptions regarding the use of the Internet and negotiate the discrepancy between their needs and its advantages.Technological alienation comes to be an increasingly dominant description of capitalist society as a whole. In technological alienation, human beings are not only dominated by the commodities they produce, but also by their instruments of production, including digital technology (Internet).

Keywords: Digital Divide, Democracy, Inequality, Alienation, Technophobia, Technophilia

24 December 2016

Rethinking Community: Places, Rituals, and Social Relations



“Community” is a word that pleasant to be felt. For myself, there is a good feeling, sense, and imagination when hearing community. I feel like being part of something that completes me as a human being. Hearing these words may bring our imagination on things that are interesting in our lives, such as the place where we were born, the family where we grew up, the school where we meet playmates, a religion in which we hold, and to the work that we enjoy being surrounded by peoples that have in common with us. This word brings us to the places and people with all the different routine and ritual. Our relationship with the place, people, and environment subsequently continue to shape our identity today and in the future.

A.  Community, Place, and Technology

Communities often refer to the group of people in a particular place. For example, people who live in a small town, rural, urban, churches, mosques, schools and places in other physical association. The shared sense of place involves relationships with people, culture, and environment (Flora, 2016:14). The sense of community that inherent to the place defined by some sociologists, such as Robert Park, Earnest Burgess, Roderick McKenzie, and Louis Wirth from the Chicago School of Social Ecology. Their early work, which was published in 1925, examines the urban settlement of the City of Chicago. They provided the simplest possible description of a community as a collection of people occupying a more or less clearly defined area, but a community is more than that. A community is not only a collection of people, but it is a collective of institutions. Not people, but institutions, are final and decisive in distinguishing the community from other social constellations (Halsall, 2014:93).  

04 December 2016

Observing Social Life in the Small Town Midwest

Julianne Couch Book’s Review (2016)


“Where do you live?” and “how long you have lived here?” are the two questions for establishing one’s local community status. Responses are often dichotomized as those of newcomer versus native (hunter, 2014:85-99). Studying our hometown, like Julianne’s book, may give a researcher some benefits; familiarity, empathy, trust, access, and legitimation. In her books, she tried to describe how to make a living life in the small town Midwest which has psychological and sociological ties with her personal life. She often moved from one city to the other in the Midwest area for the reasons of family and work, so she called herself comes from “Wyo-wA,” that mean, “Wyoming-Iowa.” Familiarity makes the author’s insider knowledge led to both understanding and deeper access to the community.

Observation and interview conducted by Julianne into every small town belonging to the category of the frontier and remote (FAR) in her book have found many interesting things. Although all of this small town with a population fewer than 4,000 people was look similar, infact, they have specific problems which differ from one another. There is a small town which suddenly being depopulated due to the closure of industry and college which was experienced by Tarkio, a small town in the Missouri. There is a small town that has so many natural amenities but unincorporated and isolated like Centennial in Wyoming or Knox County in Nebraska. There is also a small town that has a relatively vibrant rural life like two small towns along the Mississippi River: Bellevue, with their vibrant tourism in Iowa and New Madrid, with their ethnicity diverse and fascinating geological history in Missouri.

21 November 2016

Resensi Buku : Bernie Sanders dan Masa Depan Politik Amerika



“He’s not moving party to the left. He’s moving a generations to the left”

Pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) tidak hanya menghasilkan fenomena Donald Trump sebagai presiden terpilih, tetapi juga menjadi panggung bagi kemunculan politisi liberal paling berpengaruh di AS saat ini : Bernie Sanders. Senator dari Vermont yang sudah berusia tujuh puluh lima tahun ini adalah fenomena ekstrem dan tidak biasa dalam perpolitikan Amerika. Bukan saja karena ia hanya dianggap sebagai kuda hitam, melainkan juga karena gagasan dan pemikirannya yang sama sekali berbeda dengan arus utama di AS. Pemikirannya memang khas liberal yang mendukung sepenuhnya hak-hak dan kebebasan individu, akan tetapi gagasannya di bidang ekonomi dan politik justru mencerminkan pandangan sosialis atau kiri. Bahkan, gerakan protes anti-Trump yang masih marak di berbagai kota di AS selepas hasil pemilu kemarin juga tak lepas dari pengaruh seorang Bernie.

Suara kerasnya dalam menentang oligarki elit politik amerika dan kerakusan segelintir korporasi besar, yang ia sebut dengan “the 1 percent”, itu telah membuat merah telinga status quo di AS. Bukan hanya itu, ia juga mengkampanyekan “health care for all”, “making higher education affordable”, kritik kerasnya pada media yang lebih banyak menjual gosip daripada mengabarkan permasalah riil bangsa Amerika, sampai dengan kegigihannya mendukung kampanye perubahan iklim telah memberi warna ideologis yang berbeda dalam Pilpres AS. Gagasannya memang terasa ganjil di kalangan mapan dan elit, akan tetapi ia mendapat dukungan yang sangat luas dari generasi muda AS. Hasilnya, ia memenangi dua puluh dua negara bagian, mendapatkan 1,3 juta suara yang mayoritas anak muda dan hampir saja mengalahkan Hillary dalam perebutan tiket presiden dari partai Demokrat. Kejutan dan prestasi yang bukan main-main.

15 November 2016

Kota, Budaya dan Bencana

Yanu Endar Prasetyo
pasundan ekspres, 15 November 2016

Masa depan peradaban manusia berada di Kota. Sebab, pada tahun 2030 nanti, lebih dari enam puluh persen penduduk dunia akan tinggal di perkotaan. Oleh karena itu, jika salah dalam merencanakan dan mengelola kota akan berujung pada bencana dan krisis multidimensi yang berkepanjangan. Isu-isu yang berkembang dalam pembangunan kota ini tentu saja bervariasi antar negara. Untuk negara maju seperti Amerika Serikat misalnya, isu penting saat ini adalah soal integrasi penduduk dan komunitas (akibat banjir imigran dan masalah rasial), tingginya kriminalitas (akibat bebasnya kepemilikan senjata api), dan ketimpangan ekonomi (meningkatnya pengangguran dan tunawisma). Bagi negara seperti Indonesia yang sedang bertumbuh pesat kota-kota metropolitannya, isu utama perkotaan adalah seputar kepastian rencana tata ruang (kepentingan publik versus privat, industri versus pertanian), akses dan kualitas transportasi publik, lingkungan (pengelolaan sampah, drainase, ruang terbuka hijau, banjir) serta ketimpangan ekonomi penduduk yang makin menganga.
Jika ditelusur secara sosiologis, unsur-unsur pembentuk masalah perkotaan itu pada akhirnya kembali kepada karakteristik kapital masing-masing wilayah atau negara. Flora (2013) membagi kapital ini ke dalam tujuh bentuk yang mempengaruhi perkembangan suatu wilayah menjadi urban, yaitu social capital, cultural capital, human capital, natural capital, financial capital, political capital dan built capital. Namun demikian, masalah perkotaan muncul dari perpaduan berbagai sumber daya kapital tersebut. Kompleks dan tidak sederhana untuk diuraikan, apalagi diselesaikan. Faktor sosial budaya (cultural and social capital) masyarakat menjadi sangat penting dan utama untuk digarap. Budaya ini menyangkut tata nilai, identitas, hingga gaya hidup dan perilaku sehari-hari. Memahami budaya masyarakat perkotaan ini menjadi kunci untuk memilih pendekatan pembangunan kota yang tepat. Dengan memahami budaya ini pula isu-isu sensitif seputar penataan kota, kebersihan sungai, penggurusan, pemukiman, pusat bisnis, ruang terbuka hijau, kawasan industri, kemacetan dan lain-lain diharapkan dapat dilakukan secara lebih humanis dan beradab.

05 November 2016

Community as a Psychological Reality

Mary F. Rousseau’s Book Review 

Yanu Endar Prasetyo
  
         
"Be what you is, because If you be what you ain’t, then, you ain’t what you is"


Community is a term that we often hear and read in the literature of social sciences. However, the sense of community can be very diverse depending on the viewpoint of the thinker. One of the books of philosophy that dissects the sense of community was written by Mary F. Rousseau from Marquette University, entitled "Community: The Tie that Binds". In the beginning of her book, Rousseau started her discussion on community with the linguistic approach (etymology) of the community, then, observed the empirical significance of the community inhuman existence, human relations and social groups that are more complex. The important answer about the tie that binds us as a community can be decomposed in a logical and empirical study of Rousseau's.

26 October 2016

DEMOKRASI DIGITAL

Opini Media Indonesia

Oleh : Yanu Endar Prasetyo
Peneliti LIPI, PhD Student di University of Missouri, USA

Teori sosial dan politik yang umum dipelajari hari ini, sebagian besar merupakan warisan pemikiran dari revolusi industri yang berlangsung sekitar 2 abad lalu. Jarang disadari bahwa gelombang revolusi berikutnya yang lebih dahsyat sedang berlangsung saat ini. Revolusi ini diyakini akan mengubah serta melahirkan teori dan praktik sosial baru yang mungkin belum pernah terprediksikan sebelumnya. Revolusi yang memiliki dampak sangat luas dan dalam pada peradaban manusia. Gelombang perubahan inilah yang disebut dengan revolusi digital. Ditandai dengan kehadiran internet yang massif dan perlahan menggantikan berbagai perangkat teknologi jadul sebelumnya. Hampir semua teknologi analog tinggal menjadi kenangan. Radio, televisi, koran dan media konvensional lain pun sudah diambang sakarotul maut digulung oleh google dan youtube.

Gilardi (2016), dalam penelitian terbarunya tentang “digital democracy”, menjelaskan dengan gamblang tentang bagaimana teknologi digital ini juga mempengaruhi proses demokrasi itu sendiri. Mobilisasi politik, strategi kampanye, polarisasi opini publik, hingga perangkat dan saluran tata kelola pemerintahan pun mulai berubah. Tidak hanya di Barat, melainkan juga di belahan dunia manapun dimana teknologi digital mulai mendominasi. Tidak hanya pada praktik politik dalam demokrasi kontemporer, revolusi teknologi digital ini juga secara langsung telah mempengaruhi bagaimana ilmu-ilmu sosial direproduksi dan disebarluaskan. Big data, sains kompleksitas, crowd sourcing, mesin pembelajaran baru, hingga kurikulum ilmu sosial di berbagai perguruan tinggi rujukan dunia pun turut beradaptai dengan revolusi digital ini. Demokrasi digital adalah era baru dalam sejarah manusia sekaligus masa depan dunia itu sendiri.

24 October 2016

Repost : Kesenjangan Digital dan Penguatan e-Demokrasi

Pasundan Ekspres, 24 Oktober 2016

Oleh : Yanu Endar Prasetyo

OECD (The Organisation for Economic Co-operation and Development) baru saja merilis sebuah laporan tentang tren pemanfaatan internet di kalangan pelajar. Penelitian ini membandingkan data dari 63 negara angggota OECD. Salah satu tujuannya adalah untuk melihat perbedaan akses dan pola pemanfaatan internet di kalangan pelajar saat ini dilihat dari faktor latar belakang sosial ekonomi mereka. Menariknya, hasil penelitian tersebut menunjukkan dua fakta penting. Pertama, soal“gap” atau kesenjangan digital (digital divide) yang masih harus dihadapi oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia yang menduduki peringkat kedua paling tinggi setelah Vietnam dalam hal kesenjangan akses terhadap internet antara pelajar dari keluarga miskin dan kaya.

Hal ini bisa dimengerti, sebab penetrasi internet terhadap populasi penduduk di Indonesia memang masih relatif rendah. Data yang dirilis oleh we are social global reportpada januari 2016 menunjukkan pengguna internet aktif di Indonesia baru pada kisaran 34% dan pengguna media sosial aktif sebesar 30% dari total penduduk yang ada. Meskipun, di sisi lain pengguna yang terkoneksi dengan mobile phone justru melebihi total populasi penduduk (126%). Sementara itu, negara-negara yang dinilai paling baik dalam mengatasi masalah kesenjangan akses internet antara pelajar miskin dan kaya adalah Denmark, Islandia dan Finlandia. Beberapa negara di Asia yang cukup rendah kesenjangannya adalah Hongkong-China, Macau-China, Singapura dan Taiwan.
@yanuendarprasetyo. Powered by Blogger.