06 June 2019

Free Download: Seeing the Forest for the Trees

Seeing the Forest for the Trees: A Bibliometric Analysis of Environmental and Resource Sociology

Hua Qin, Yanu Prasetyo, Martha Bass, Christine Sanders, Elizabeth Prentice & Quyen Nguyen

Division of Applied Social Sciences, University of Missouri–Columbia, Columbia, MO, USA

To cite this article: Hua Qin, Yanu Prasetyo, Martha Bass, Christine Sanders, Elizabeth Prentice & Quyen Nguyen (2019): Seeing the Forest for the Trees: A Bibliometric Analysis of Environmental and Resource Sociology, Society & Natural Resources, DOI: 10.1080/08941920.2019.1620900. To link to this article: https://doi.org/10.1080/08941920.2019.1620900

ABSTRACT

Environmental sociology and the sociology of natural resources have become two established research areas in the United States with distinct institutional origins, research themes, and theoretical roots, as well as associated professional networks, journals, and conferences. Existing discussions of the relationships between the two subdisciplines are largely based on personal reflections and exploratory analyses. However, there is still not a clear understanding of the overall picture of interdisciplinary sociological research on human–nature interactions. In this study we conduct a comprehensive bibliometric analysis of 8027 articles published in 30 selected academic journals during 1985–2017. Findings of this research provide a more complete view of the intellectual landscape of environmental and resource sociology. Overall, the study produces an empirically-based characterization of environmental sociology and the sociology of natural resources in terms of coauthorship and citation networks, and highlights the need for more sustained synthesis across different knowledge domains.

ARTICLE HISTORY
Received 13 December 2018
Accepted 3 May 2019

KEYWORDS
Bibliometrics; citation networks; collaboration relations; environmental sociology; keyword cooccurrence; sociology of knowledge; sociology of natural resources

DOWNLOAD ARTICLE:
Click Here: Tandofline
or send a request to my email: yanuprasetyo85@gmail.com/yepw33@mail.missouri.edu

22 March 2019

A Jobless Future: Why We Need A Universal Basic Income


By: Yanu Prasetyo

The world when robots replace the human force is not only happening in Hollywood movies. It’s getting more and more real.

On Sept. 17, 2018, Amazon launched its fourth cashierless store in Chicago called Amazon Go. On the same year, another store with similar technology, JD.ID X-Mart also opened up in Pantai Indah Kapuk in North Jakarta. Unlike Amazon Go, which is US-based, the store in Jakarta belongs to a retail company based in Beijing, China.

This kind of stores use Artificial Intelligence (AI), Face Recognition, and Radio Frequency Identification (RFID) to operate their systems. Although we can identify them right now, it is only a matter of time until other supermarkets start adopting this technology to replace human labors. 

20 February 2019

Bernie


Oleh: Yanu Prasetyo

Saya masih ingat, buku pertama yang saya beli langsung di Amerika adalah buku si kakek ini. “Our Revolution” judulnya. Waktu itu tahun 2016. Tepat sebelum pemilu. Saat khalayak ramai memperbincangkan Hillary dan Trump, saya justru lebih tertarik untuk mengenal lebih jauh sosok ini. Bukan hanya pandangannya yang anti-mainstream, namun juga pesan-pesan dan pidatonya yang demikian memikat. Khususnya bagi kawula muda Amerika. Unik, kan? capres berumur tapi mayoritas pendukungnya kawula muda. Ya, dia adalah Bernie Sanders. Senator dari Vermont yang dua tahun lalu melaju di konvensi capres Demokrat namun di detik terakhir harus rela “tersingkir” dan memberikan dukungannya kepada Hillary.

17 February 2019

New York vs. Amazon: Menyoal Subsidi Pemerintah Pada Korporasi


Oleh: Yanu Prasetyo

Kamis lalu (15/2), akhirnya Amazon, perusahaan mega-raksasa itu, membatalkan rencananya membangun kantor barunya di Long Island, New York. Pembatalan dilakukan setelah para aktivis, warga, dan politisi lokal setempat menolak pembangunan kantor baru tersebut. Alasannya masuk akal, secara ekonomi New York tidak membutuhkan Amazon. Perhitungan mereka, kehadiran Amazon tidak akan menyerap tenaga kerja yang signifikan. Ditambah, mereka menolak keras rencana pemerintah setempat yang akan memberikan subsidi (keringanan) pada perusahaan raksasa itu.

11 February 2019

Deklarasi Capres (AS)

Oleh: Yanu Prasetyo

Salah satu hobi saya belakangan adalah menonton dan mendengarkan deklarasi capres. Capres di Amerika tentunya. Baru saja, beberapa jam lalu saya usai menonton deklarasi salah satu kandidat dari Partai Demokrat, Amy Klobuchar. Senator dari Minnesota. Deklarasinya unik. Bahkan luar biasa. Ditengah guyuran salju tebal yang terbayang dinginnya pasti melebihi Missouri. Missouri yang berada ditengah-tengah kontinen saja demikian ekstrem. Apalagi Minnesota yang ada di Utara. Sama sekali nggak kebayang bekunya. Benar-benar militan capres dan pendukung yang satu ini!

01 February 2019

The Social Theory of Money



Revisiting Karl Marx’s and Georg Simmel’s Perspectives on Money and Society

Yanu Prasetyo


There are various ways to approach the history of money. Generally, some scholars would start with primitive money, then the first use of coinage, banking, credit and gold or silver standards, and finally on to inconvertible money and plastic money (Furnham & Michael Argyle, 1998:13). In the psychoanalytic literature, they begin with the premise that money has emotional meaning that varies from person to person according of life experience. The meaning of money is in dynamic flux and evolving over time (Hallowell & Grace, 1991:15). Unlike psychology, anthropology has long been interested and concerned in the economic aspects of social relations, including barter, the market, distribution of goods and wealth, ownership, and property. Anthropologists look at money which is used in reciprocal and redistributive transactions regarding personal roles and social context of what occurs.

30 January 2019

Soal Nasib Gula yang Tak Semanis Rasanya


Oleh: Yanu Prasetyo

Ada guyonan menarik soal nasib gula dalam secangkir kopi. Katanya, jika kopi terlalu pahit, maka gula yang disalahkan. Karena terlalu sedikit. Kalau kopi terlalu manis, gula lagi yang disalahkan. Karena kebanyakan. Kalau kopi dan gulanya pas. Maka kopi yang mendapat pujian, “kopinya mantab!”. Gula pun dilupakan. Demikian sial nasib gula hingga tak pernah mendapat pujian.


Bukan hanya hubungan cintanya dengan kopi yang serba salah, hubungan gula dengan manusia juga tak kalah peliknya. Menilik sejarahnya, masa lalu gula adalah sejarah yang penuh dengan penindasan. Sejarah kelam kolonialisme dan perbudakan. Sejak bangsa Eropa, terutama Englishmen, mengenal Saccharum Officinarum L. (nama latin dari gula tebu) ini, dengan cepat komposisi diet mereka berubah. Banyak literatur yang menyebut gula pertama kali ditemukan atau diproduksi di India. Padahal jauh sebelum itu, bangsa-bangsa di pasifik seperti Papua Nugini, Philipina, dan Indonesia, sudah menanam tebu dan mengenal gula ini. Bukan hanya sucrose, mereka juga sudah mengenal sumber makanan manis lainnya seperti madu, cokelat, dan buat-buahan umumnya.

27 January 2019

The Wheel Estate: Dari Gaya Hidup Hingga Kisah Orang-Orang Biasa yang Bangkrut


Oleh: Yanu Prasetyo

Jessica Bruder, seorang jurnalis yang menelisik sisi lain kehidupan orang Amerika. Lebih dari tiga tahun ia mengikuti dan mewawancarai puluhan orang yang hidup di rumah berjalan: RV, mobil Van, bus sekolah, hingga trailers yang telah dimodifikasi. Mereka tersebar di seluruh penjuru Amerika. Dari North Dakota di utara hingga San Marcos di California. Dari Texas, Kentucky, hingga Brooklyn. Jessica mengabadikan kisah-kisah orang yang ditemuinya itu dalam bukunya berjudul “Nomadland: Surviving America in the Twenty-First Century”. Terbit tahun 2017 dan masuk ke dalam 100 notable books dari The New York Times book review. Di buku ini, Ia mencatat kisah orang-orang yang lebih memilih disebut “houseless” daripada “homeless”. Mereka yang terpaksa menjual “real estate” dan pindah ke “wheel estate” untuk bertahan hidup. Sebuah narasi tentang sisi gelap dari ketimpangan ekonomi di Amerika.

26 January 2019

The Sociopath

Oleh: Yanu Prasetyo


Punya teman yang gemar menebar cerita palsu untuk menaikkan nilai dirinya atau menurunkan martabat orang lain? Yang bahagia ketika melihat teman lain menderita? Yang menunjukkan perasaan bangga ketika berhasil melanggar hukum atau aturan? Yang kalau diberi amanah konsisten tidak bertanggung jawab? yang “berdarah-dingin”? agresif? impulsif? manipulatif? Terus, yang paling utama, Ia tidak menunjukkan rasa bersalah (menyesal) sama sekali setelah melakukan semua itu? Kalau jawabannya “Ya”, maka kamu harus lebih berhati-hati. Jangan-jangan temanmu itu (atau diri kita sendiri?) adalah sociopath!

Menurut Martha Stout PhD, penulis buku The Sociopath Next Door (2005), jika seseorang menunjukkan tiga saja gejala di atas sekaligus, maka Ia bisa dikategorikan sebagai seorang sosiopat (sociophathy). Nama ilmiahnya “antisocial personality disorder”. Beberapa ahli jiwa juga sering menyebutnya sebagai “psychopathy” alias psikopat. Meskipun, psikopat sebenarnya lebih ditujukan ketika si sosiopat tadi melakukan tindakan kekerasan atau penyerangan. Seperti pembunuhan, penyiksaan, mutilasi, atau menyakiti orang lain secara fisik. Kalau di film-film, psikopat sering digambarkan sebagai pembunuh berdarah dingin. Membunuh dengan tersenyum. No feelings of guilt. Not having a conscience. None at all.

24 January 2019

Radikal


Oleh: Yanu Prasetyo

Ada sebuah teori terkenal dalam kajian ilmu politik. Namanya “The Overton Window”. Diambil dari nama penemunya, Joseph P. Overton. Teori ini membahas bagaimana sebuah gagasan, isu, ideologi, atau yang paling teknis sebuah “kebijakan” bisa diterima atau ditolak oleh publik. Pada jamannya (Abad 20), teori ini sederhana dan banyak benarnya. Digambarkan dengan sebuah garis kontinum dari kiri ke kanan, atau atas ke bawah. Sama saja. Di kedua ujung garis itu, ada kondisi atau pandangan yang saling berlawanan. Ambil contoh, ideologi “kiri” (komunisme) versus ideologi “kanan” (neoliberalisme). “More Freedom” versus “Less Freedom”. “Demokrasi” versus “Khilafah”. Nah, ditengah-tengah garis kontinum itu ada yang disebut sebagai kondisi atau “jendela normal”. Tidak terlalu kiri dan tidak terlalu kanan. Bebas, tapi ada batasan-batasan. Kondisi “normal” inilah yang oleh penguasa suatu negara akan terus dipertahankan sebagai arus utama. Mainstream. Apa pun diluar jendela normal, akan dianggap sebagai radikal atau “unthinkable”.

21 January 2019

Fast Fashion


Oleh: Yanu Prasetyo

“Ajining raga saka busana” (manusia dinilai dari apa yang dikenakan). Setelah saya pikir-pikir, peribahasa Jawa inilah yang mungkin pertama kali memperkenalkan saya terhadap istilah “fashion”. Bahwa orang itu sebisa mungkin harus berpakaian baik dan layak. Begitu pesan orang tua saya. Tentu bukan pantas menurut diri kita sendiri. Tapi “layak” menurut lingkungan di sekitar kita. Kalau ke sekolah ya pakai seragam sekolah. Ke kantor pakai seragam kantor. Yasinan ya pakai sarung. Sepak bola ya pakai kaos. Kalau ke kantor pakai kaos atau sepak bola pakai sarung pasti dikira sedang agustusan. Tidak pantas. Kalau atasan warna terang, ya bawahan pakai warna gelap. Kalau badan agak gemuk, ya pakai baju motif garis-garis vertikal jangan yang horizontal. Nanti kelihatan makin lebar. Begitu ibu saya yang penjahit itu suka mengingatkan. Agar kita tampil lebih “fashionable” kata orang.

Soal Baasyir dan Mengapa Terorisme Lebih Ditakuti Daripada Gula?

Oleh: Yanu Prasetyo

Bagi pengagum beratnya, Ustad Abu Bakar Baasyir adalah figur pahlawan yang konsisten. Teguh pendirian. Contoh kongkrit dari menyatunya kata dan perbuatan. Gaya bicaranya blak-blakan. To the point. Terbukti penjara pun tidak melunturkan sikap dan pandangannya. Meski diminta untuk menandatangani surat setia kepada Pancasila, ia bergeming.

“Kalau Pancasila sesuai dengan ajaran Islam, kenapa tidak tunduk pada Islam saja” ungkapnya. Pemimpin negeri mana coba yang tidak gentar memiliki warga negara seperti Baasyir ini? Seandainya saja, ini cuman seandainya, Ustad Baasyir ini adalah imam besar FPI atau pemimpin tertinggi HTI yang diklaim memiliki jutaan pengikut itu, tentu akan lain cerita di republik tercinta ini. Untungnya tidak demikian.

Marie Kondo

Oleh: Yanu Prasetyo

Ialah sosok yang cukup menarik perhatian warganet di bulan Januari 2019 ini. Kalau kamu pecinta Netflix atau penghayat produk kreatif Jepang, pasti tidak asing dengan Marie Kondo. Bukan, bukan! Dia bukan bintang film porno atau semacamnya. Dia penulis buku yang kini melejit karena karya dan keahliannya diangkat menjadi reality show di Netflix. Kemampuannya pun unik: melipat baju!

Bukan hanya melipat baju, tapi juga ia mempopulerkan metode menata rumah dengan sentuhan minimalis abis. Ia menyebut metodenya itu dengan istilah "KonMari". Artinya? Tidak ada. Itu hanya potongan nama belakang dan depannya saja yang disatukan.