12 January 2018

Agent-Based Modeling: Tahapan Penelitian

Yanu Endar Prasetyo
email: yepw33@mail.missouri.edu 

Model Penyebaran HIV AIDS (Net Logo)
Layaknya metode penelitian ilmiah lainnya, langkah-langkah atau tahapan penelitian yang menggunakan pendekatan Agent-Based Modeling (ABM) juga perlu dirunut agar mudah diikuti dan memiliki “kebakuan” dalam proses pengembangannya. Tahapan penelitian ini juga akan membantu para peneliti pemula atau yang baru akan memulai risetnya menggunakan pendekatan ABM.

Pertanyaan Penelitian (a research question)

Langkah pertama tentu saja adalah menetapkan pertanyaan penelitian. Dalam merumuskan pertanyaan penelitian harus se-realistis mungkin dan memiliki peluang kemungkinan untuk dapat dijawab. Jika rumusan pertanyaan penelitian itu terlalu general dan ambisius, bisa jadi hasil penelitian nanti akan kurang memuaskan atau bahkan tidak menjawab sama sekali. Oleh karena itu, diperlukan rumusan pertanyaan penelitian yang jelas, terukur, fokus, spesifik, dan ringkas. Semakin spesifik semakin baik!

Beberapa pertanyaan penelitian yang relevan didekati dengan metode ABM biasanya terkait dengan pola “keteraturan” (regularities) dalam masyarakat (makro) yang sudah atau bisa teramati polanya. Misalnya pada kasus segregasi sosial di perkotaan yang dapat dilihat dari pola perumahan penduduknya yang dipengaruhi oleh perbedaan rasial. Contoh lain, pola pertukaran sosial di pedesaan yang dapat diobservasi dari bentuk pertukaran “gantangan” atau “nyumbang” dalam pesta hajatan pernikahan di pedesaan (baca penelitian Hokky Situngkir & Yanu Endar Prasetyo). Pola penyebaran opini, perilaku konsumen, dan lain-lain juga bisa menjadi basis awal dalam menyusun pertanyaan penelitian yang tepat dan mengena.

11 January 2018

Memodelkan Segregasi Sosial di Perkotaan

Yanu Endar Prasetyo
email: yepw33@mail.missouri.edu 

Thomas Schelling, salah seorang peraih hadiah nobel pada tahun 1969, 1971, 1978, mempelajari tentang dinamika segregasi sosial [1], yaitu sebuah kondisi sosial dimana mereka yang memiliki identitas atau karakteristik yang berbeda (misal orang kulit putih dan kulit hitam, orang kaya dan miskin, professor dan mahasiswa) cenderung untuk “menjauhi” satu sama lain. Asumsi dasarnya adalah orang cenderung merasa “nyaman” apabila berdekatan dengan orang lain yang memiliki banyak kemiripan (similarities) dengan dirinya. Pandangan ini kemudian menuntunnya untuk melakukan berbagai kajian tentang segregasi sosial, termasuk bagaimana faktor rasial (perbedaan warna kulit) ini mempengaruhi pola perumahan atau pola tinggal orang kota, Khususnya di Amerika Serikat.

Seperti kita ketahui, Amerika Serikat memiliki sejarah panjang terkait dengan persoalan rasisme. Tidak hanya terjadi di masa perbudakan saja, namun jejak-jejak peninggalan sentimen rasisme ini masih mengendap dan menjadi masalah publik sampai saat ini, utamanya dipicu oleh banyaknya perlakuan atau kebijakan yang dianggap diskriminatif bagi orang atau komunitas kulit hitam dan berwarna lainnya. Dalam konteks segregasi sosial di perkotaan, salah satu indikator dari lebarnya jurang pemisah antar ras ini dapat ditelusur melalui pola perumahan (neighborhood) di perkotaan AS yang cenderung mengelompok antara perumahan orang kulit putih dan kulit hitam.

Agent-Based Modeling: Sebuah Pengantar

Yanu Endar Prasetyo

Agent-Based Modeling (ABM)[1] merupakan metode komputasi yang memungkinkan peneliti untuk membuat, menganalisa, dan mencoba berbagai model yang didalamnya berisi interaksi atau simulasi antara “agen” dan “lingkungan”. Meskipun sudah cukup dikenal pada bidang ilmu sains, ABM dapat dikatakan sebagai metode yang relatif baru dalam penelitian-penelitian ilmu sosial di Indonesia.

Sebagai sebuah metode komputasi (computational social science) maka ABM dibangun dengan bantuan perangkat komputer. Ide dasarnya berangkat dari keinginan ilmuwan sosial untuk membuat model yang bisa menjadi representasi fenomena sosial yang sedang diteliti. Membangun “replika” dari realitas sosial yang kompleks menjadi menjadi tujuan dari simulasi ABM ini. Jika para pilot pesawat mengenal “flight simulator” untuk berlatih berbagai kemungkinan terbangnya pesawat, maka ABM adalah alat simulator bagi para peneliti ilmu sosial untuk melihat berbagai kemungkinan perilaku agen atau individu dalam fenomena sosial tertentu.

01 January 2018

From Storytelling to Social Change: The Power of Story in the Community Building

Yanu Endar Prasetyo

PhD Student, University of Missouri, Department of Rural Sociology; Indonesian Institute of Sciences
Date Written: December 31, 2017

Abstract

The critical elements of a community development processes are how to provide the motivation of people for sharing and consolidate learning. For this challenge, storytelling is a powerful way to exchange and address the barriers to knowledge transfer within community members. Stories are an important part of social change because they have the power to shape the way people think and feel about their worlds and how they interact with in them. In the community development processes, sharing stories or experiences can build trust, cultivates norms, transfers tacit knowledge, facilitates unlearning, and generates emotional connections. Storytelling teaches us how to deal with the different individual situations by improvising alternative futures through narratives of change. Storytelling will help the facilitator’s main task in the divergent zone and help create opportunities for everyone to express their views and creative ideas
Keywords: Storytelling, transfer of knowledge, community building, social change

27 December 2017

Uang Haram Trotoar Tanah Abang


Masalah penataan tanah abang sedang viral di media sosial. Penggunaan trotoar untuk berdagang para PKL menimbulkan kecemburuan bagi pedagang yang ada di Kios dalam. Bagaimana tidak, mereka yang di dalam harus membayar sewa resmi, jauh dari pengunjung, dan sekarang harus kehilangan sebagian omzet nya karena tersedot oleh PKL di trotoar yang menurut video dari youtube Najwa Shihab membayar "Sewa" itu tidak kepada pemerintah, tapi kepada preman. Tak tanggung-tanggung, perkiraan nilai total jual beli trotoar tanah abang itu mencapai 1,425 Milyar Rupiah/bulan!
#TanahAbangGayaBaru, salah satu hastag yang viral di twitter. Tapi gambar di atas bukan soal hastag itu. Jejaring dibawah mencoba memotret viralitas video Najwa Shihab berjudul "Uang Haram Trotoar Tanah Abang" di twitter. Mau tidak mau, suka tidak suka, tanah abang adalah salah satu barometer efektivitas kebijakan Pemda DKI. Kini tanah abang berpotensi kembali semrawut. Mampukah Pemprov DKI menata tanah abang secara out of the box seperti yang sempat diwacanakan?
===
Video Uang Haram Trotoar Tanah Abang dapat ditonton disini: https://www.youtube.com/watch?v=_x-85FPB9jQ&feature=youtu.be

LGBT


Menurut laporan dari The William Institute (2017), membaca karakteristik demografis LGBT di Indonesia cukup sulit. Jangankan menganalisis karakternya, menghitung jumlah populasinya saja sangat sulit. Selain tidak ada sumber survey/pendataan khusus yang resmi, juga karena adanya "ancaman" sosial dan kultural yang mengerikan bagi mereka yang secara terbuka mengakui ke-LGBT-annya. Tapi fakta bahwa LGBT eksis semua juga tahu. Bahkan, estimasi dari Kementerian Kesehatan untuk MSM (Man who have sex with man) saja diperkirakan mencapai 1.1 juta orang (2012) atau sekitar setengah sampai 1 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan Jaringan Gaya Warna Lentera (GWL-INA) merilis angka MSM antara 800rb s.d. 3 juta orang (2011). MSM berarti tidak termasuk Lesbian, perempuan biseksual, dan transgender men. Sebuah angka yang besar, meskipun belum sebesar negara lain seperti Amerika atau Thailand. Namun Ibarat gunung es, yang terlihat di permukaan hanya sebagian kecil dari fenomena besar dan kompleks di dasarnya.
===
Gambar dibawah menunjukkan jejaring dari beberapa akun influencer yang mendapat banyak perhatian dalam perbincangan "LGBT" terakhir (12/21/17). Social Network Analysis bisa menjadi alat yang powerful untuk memetakan jejaring LGBT, baik untuk online maupun offline. Yang kedua tentu bisa lebih dahsyat dan dapat digunakan untuk membantu individu, publik, maupun stakeholder dalam mengambil kebijakan yang penting dan dianggap perlu terkait LGBT.

===
Laporan The William Institute dapat diteropong disini: https://williamsinstitute.law.ucla.edu/…/LGBT-Exclusion-in-…
====

Soal #Reuni212 dan #AksiBelaPalestina1712

Siapa yang "menguasai" panggung #Reuni212 dan #AksiBelaPalestina1712 di sosial media?


Tanpa mengurangi solidaritas dan rasa keprihatinan untuk saudara-saudara kita di Palestina, saya mencoba sedikit "utak-atik" untuk sekaligus belajar melihat bagaimana isu yang sedang hangat di tengah publik kemudian diakumulasi dan diakuisisi oleh para elit politik via sosial media. Siapakah aktor-aktor politik utama yang eksis diatas narasi yang membawa nama umat Islam tersebut?
Untuk itu, Saya mengunduh 10.000 tweets terakhir yang menggunakan dua hastag diatas, lalu mengolahnya untuk mendapatkan akun tokoh (maupun bukan tokoh) politik yang paling "berpengaruh" dalam dua hastag di atas. Hasilnya, Fahri Hamzah (FH) adalah "singa podium" terkait #Reuni212 di sosial media! (nyaris tanpa pesaing). Sementara di percakapan soal #AksiBelaPalestina1712, pengaruh FH (biru) tidak lagi tunggal dan terbagi oleh aktor-aktor lain yang relatif sama-sama berpengaruh, seperti akun @ronavioleta @maspiyuu @zulkiflihasan (warna hijau) @bachtiarnasir (warna kuning) @gnpfulama_sumut dan @pksjakarta. Aksi bela palestina tidak sentral dijempol satu tokoh, tetapi terdistribusi pada beberapa aktor lainnya.
===
Tafsir lainnya atas data ini tentu terbuka dan bebas bagi kita untuk memaknai dan menyimpulkannya.

Penyambung Lidah Felix Siauw



Kenapa Felix Siauw semakin populer? Tentu banyak jawaban untuk itu. Bisa jadi karena pengikutnya di dunia maya dan nyata memang banyak (2,53 Juta follower di twitter), bisa karena kontroversi tindakan dan ucapannya, bisa juga karena efek pembubaran HTI (organisasi yang membesarkannya), atau mungkin juga karena banyak yang suka dan tidak suka padanya, sehingga berakibat banyak orang yang membicarakannya. Namun yang pasti, jika dilihat dari kaca mata jejaring media sosial, yang membuat Felix Siauw semakin populer di media sosial adalah karena adanya peran akun/orang yang, secara sadar atau tidak, telah secara langsung menjadi "penyambung lidah" pemikiran dan gagasannya, baik itu dari pihak yang pro maupun kontra terhadapnya.

Dalam "hukum" per-media-sosial-an, popularitas personal individu itu bukanlah faktor yang lantas menyebabkan ia terkenal sepanjang waktu. "Popularity is important, but it's not everything". Ada peran vital lain yang membantu si tokoh menjadi semakin populer seiring waktu. Peran vital ini tidak melulu dijalankan oleh sesama orang populer lainnya, tetapi utamanya dijalankan oleh orang-orang atau akun-akun yang berdiri diantara dua kelompok berbeda (bridge). Dan karena akun itu meretweet, mereply, atau me-mention tweet Felix Siauw, maka ia telah berperan menjadi penyambung lidah dan memasukkan informasi (gagasan) Felix Siauw ke dalam diskusi kelompok besarnya (yang mungkin jauh atau malah berlawanan secara ideologis dengan Felix Siauw). Dari situ kemudian jejaring sang tokoh semakin meluas dan membesar.

#SNA #Bridging #Betweenness #Centrality

30 September 2017

Gantangan: Potret Pertukaran Sosial di Pedesaan


FREE DOWNLOAD!!!
"Buku yang ditulis oleh Yanu Endar Prasetyo ini sangat timely untuk melihat sedalam apakah perubahan sosial berlangsung di pedesaan terutama bila menggunakan topik pertukaran sosial (social exchange) sebagai pendekatan. Buku ini selain memperlihatkan anatomi dari gantangan sebagai wujud pertukaran sosial baik dari aspek aktor, karakter, relasi-sosial yang terkait maupun setting sosial desa (lokasi) yang memberikan variasi dari gantangan dipraktekkan oleh masyarakat desa. Penulis sangat detail dalam melakukan penjelasan tentang gantangan di pedesaan Subang. Satu hal perlu dijawab lebih lanjut oleh buku ini adalah, bagaimana nasib kelembagaan-kelembagaan sosial pedesaan di Jawa khususnya pantai utara Jawa seperti daerah Subang ke depan? Apakah kelembagaan-kelembagaan tradisi akan mengalami pelumpuhan dan digantikan oleh kelembagaan modern? Benarkah pasar modern akan mampu menggantikan gantangan ke depan? Ataukah gantangan akan mengalami modifikasi agar tetap berfungsi baik seperti semula? Apapun, buku ini sangat baik untuk dibaca bagi peminat ilmu sosiologi pedesaan terutama peminat kajian struktur sosial dan perubahan sosial di pedesaan".
Sosiolog Pedesaan IPB
==================

“Gantangan” telah ber-evolusi. Evolusi ini berjalan sangat pelan, gradual, hingga luput dari perhatian, tenggelam dalam hiruk-pikuk hajatan, tuntutan budaya, hingga kondisi sosial ekonomi masyarakat. Setelah sekian dasawarsa, rupanya kejelian mata seorang sosiolog membikin evolusi ini tak luput dari perhatian, bahkan menjadi fokus penelitian yang kemudian melaporkannya dalam buku ini, Yanu Endar Prasetyo. Dalam kacamata sosiologisnya, terjabarkan dengan sangat detail bagaimana tradisi nyumbang yang tadinya terlihat kolektif-idealistik, di bawah mikroskop sosiologis telah menjadi bercorak individualis-materialistik. Eksplorasi teoretis tersebutlah yang nantinya akan mengisi mosaik ke-nusantara-an di tengah keinsyafan ilmu-ilmu sosial modern. Dari sana, penelitian sosial ditantang untuk menjawab berbagai pertanyaan terkait “struktur tersembunyi” (the underlying structure) dari relasi aktor dan kausalitas faktor-faktor sosial yang ternarasi dalam buku ini. Ada semacam “kode-kode” yang terbersit di balik dinamika sosial gantangan. Sebagai bagian dari sinekdoke kehidupan di Kepulauan Indonesia ini, hal tersebut tentulah juga merupakan bagian dari “kode-kode nusantara”. Membaca manuskrip ini tak hanya menjanjikan pemikiran mendalam yang berat, namun juga bisa terkesan ringan sebagai bentuk edutainment. Gantangan khas masyarakat Subang dengan segala transformasi serta evolusinya dinarasikan sebagai bentuk perjalanan, semacam tour guide pariwisata, yang dapat memberikan nuansa realm kehidupan Sunda di era modern. Bagaimanapun potret gantangan merupakan drama sosial yang hidup, sarat nilai dan kesejarahan pergumulan kolektif masyarakat Sunda di kawasan Subang, jawa Barat, di era modern sekarang ini".
Hokky Situngkir
Presiden Bandung Fe Institute, 
Penulis buku Fisika Batik & Kode-Kode Nusantara
===========================

“Berangkat dari sebuah pemikiran bahwa ada sesuatu yang lepas dari tatanan hidup berbasis kultural yang selama ini menjadi pondasi langkah urang Sunda, sehingga menyebabkan kita menjalani kehidupan dengan cara “leungeun sacabak-cabakna, inggis ka linduan gedag kaanginan lantaran panon satempo-tempona, ceuli sadenge-dengena” Lepasnya titian pemahaman generasi kekinian terhadap kekayaan intelektualitas para leluhur dalam menata kehidupan personal maupun kelompok berdasarkan kekuatan kulturalnya, sungguh menjadikan generasi muda saat ini seakan kehilangan jatidiri budayanya. Kehadiran buku bertajuk gantangan ini membawa angin segar, menghadirkan perspektif sosial budaya sebagai referensi bagi generasi penyinambung kebudayaan agar terus mengkaji dan menanamkan kembali pondasi tatanan nilai berbasis identitas budayanya. Nilai-nilai tradisi adalah landasan berpijak untuk menentukan nilai-nilai masa depan sebagaimana kita mengenal sebuah nilai yang secara teks berbunyi, ka hareup ngala sajeujeuh, ka tukang ngala sajeungkal. Sebuah pesan yang bermakna "tataplah masa depan dengan pandangan jauh, dan tengoklah masa lalu dengan pandangan yang dekat saja".
Seniman & Budayawan Subang
===========================


=================
Judul Buku: Gantangan; Potret Pertukaran Sosial di Pedesaan
PenerbitPenerbit Tigamaha, 2017
Tebal: xxiv + 174 hlm, 14 X 21 cm
ISBN: 978-602-61131-0-8
=================

Buku dapat diunduh gratis pada tautan dibawah ini:


19 June 2017

Stakeholder Analysis: Who and What Really Counts?

 
The word 'stakeholder' not only has a prominent place in public and nonprofit management theory and practice (Bryson, 2004) but also in the natural resources and environmental management. Analysis of stakeholder is crucial due to the increasingly interconnected of the global world (shared power world) which mean taking stakeholder account into the natural resources problem is a part of solutions (problem-solving). Consequently, the decision about the definition of stakeholders is also important because it will affect who and what counts in the activities (Mitchell et al. 1997). For this reasons, stakeholder analysis method has gained increasing position and attention on this field, particularly on the participatory methods (Prell et.al, 2009).

18 April 2017

The Relationship Between Risk Perception and Social Interaction



Risk perception is one of the significant factors influencing individual action to response and reduces the risk, (Smith, et. al. 2013). Although, most of the theoretical perspectives on risk emphasis on the individual unit of analysis, some recent research has calculated community experience to risk or disaster. For instance, research from Masuda & Garvin (2006) suggests that risk perceptions were connected within the minds of individuals and revealed as people’s sense of belonging in their community. According to cultural theory and perspectives, risk perception can be translated as a reflection of the social context of an individual (Sjoberg, 2000). Risk perception is a social construction that affected by several factors in which risk was culturally embedded, such as experience, the structure of economics and politics, environment, personal exposures to hazard, and community process (Fitchen et. al, 1987, Flint & Luloff, 2005).

11 April 2017

Reading Summaries (9): Anti-Genetic Engineering Movement in the U.S. and Britain

During the second half of the 1990s, European activists opposed to the use of genetic engineering (GE) in the food supply. Unlike European activists were gained significant achievement in the anti-GE movement, U.S. activists were gained little traction. Why was the European/Britain anti-biotech movement so effective, while the U.S. campaign was not? For this reason, the author addresses the comparative analysis of anti-biotechnology activism in the United States and Britain. Their analysis draws on both primary and secondary data sources: in-depth interviews, extensive media coverage, trade journals, public opinion survey data, newspaper and magazine articles, scholarly articles on the British supermarket sector, and detailed field notes from an in-depth study of six British supermarkets in the mid-1990s (p. 168-169). Using the Global Community Chains (GCC) literature, they show how the GCC for food was a critical factor that enabled anti-GE activists and exploring the different outcomes of these two very similar social movements.

01 April 2017

Reading Summaries (8): Local Embeddedness of Farmers Market

The first article is coming from Feagan & Morris (2009) entitled “Consumer quest for embeddedness: a case study of the Brantford Farmers’ Market.” This research examines consumer motivations for shopping at the Brantford Farmers’ Market in south-central Ontario, Canada. The authors use the concept of embeddedness (social, spatial and natural spheres) to understand and organize the sets of values tied to consumer motivations at FMs. Social embeddedness is a value associated with ‘economies of regard,' trust, social interaction, and responsibility. Natural embeddedness contains consumer desires for food associated with more ecologically values like organic production and sustainable farming methods. Spatial embeddedness includes a group of motivations associated with the desire to buy food produced locally and more directly linked.