Showing posts with label mitos-mitos. Show all posts
Showing posts with label mitos-mitos. Show all posts

12 December 2009

PUDARNYA TRADISI "NYIRIH"



Tulisan ini juga dikontribusikan untuk web komunitas kami : www.bloggersubang.com

Pada medio 2009, penulis berkesempatan untuk berkunjung ke kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Selama berada di Belu, penulis berkesempatan berjalan-jalan ke Kobalima untuk melihat perbatasan RI-Timor Leste yang ada di sebelah selatan (motamasin). Saat mengunjungi Kobalima inilah, penulis mengobrol dengan beberapa mama (panggilan untuk ibu-ibu) yang ternyata sebagian besar adalah eks pengungsi Timtim. Kisahnya, syahdan, mereka telah terusir dari tanah kelahirannya dan terpisah dengan keluarganya karena memilih mengikuti suami mereka yang kebetulan pro-integrasi (pro-Indonesia). Setelah melewati masa-masa suram dan berdarah pada saat itu, akhirnya sekarang mereka resmi menjadi “warga baru” NTT dan menempati lahan berpasir di bibir pantai yang dijadikan tempat tinggal atas seijin pemerintah daerah setempat.  
Mama theresia, tuan rumah yang ramah dan baik itu, menyambut kami dengan obrolan ringan bersama mama-mama yang lain. Sampai suatu ketika, ada salah satu mama yang sudah sangat renta, bungkuk, namun masih kelihatan bugar datang di sela-sela obrolan kami. Yang membuat saya tertarik – meskipun tidak terlalu kaget – adalah mulutnya yang terus mengunyah sesuatu. Bibirnya nampak merah kekuning-kuningan, dan setiap menit selalu meludah ke tanah. Tangan kanannya memegang tongkat untuk berjalan, sementara tangan kirinya menggenggam kotak kecil yang terbuat dari anyaman bambu. Para mama bilang si nenek tidak bisa berbahasa indonesia. Saya coba bertanya kepada mama yang lain apa isi kotak yang dipegangnya? “itu sirih pinang” jawab mereka dengan senyum yang mengembang, dan baru saya sadari gigi mereka ternyata juga merah semua, sama seperti si nenek!
read more....

01 April 2009

Tuhan, Penjaga Utuhnya Perkawinan?




Yanu Endar Prasetyo

Pertanyaan dasarnya adalah, mengapa ada perkawinan yang bisa langgeng sampai tua, namun ada pula perkawinan yang begitu mudahnya retak dan hancur di usia muda? Tentu saja jawabannya bisa beragam, sebab setiap pasangan memiliki latar belakang dan kondisi yang berbeda-beda satu sama lain.

Namun, Nathaniel M. Lambert dan David C. Dollahite (2008) punya cara sendiri untuk menjawab pertanyaan tersebut. Mereka pun akhirnya melakukan penelitian secara mendalam terhadap 57 pasangan suami istri. Kebetulan tempatnya di New England dan Northern California. Lambert dan Dollahite sengaja memilih pasangan-pasangan yang memiliki ketaatan beragama yang tinggi, yang mewakili penganut tiga agama besar, Yahudi, Kristen, dan Islam. Ketaatan beragama tersebut diukur lewat frekuensi mengunjungi tempat ibadah, aktivitas keagamaan, dan besarnya dana pribadi yang disumbangkan untuk kegiatan agama.

Mereka berdua mencoba untuk menggali, sejauh mana peran dan pentingnya kehadiran Tuhan dalam perkawinan pasangan taat beribadah tersebut? Dengan kata lain, apakah kepercayaan terhadap Tuhan yang dimiliki oleh masing-masing pasangan, membawa pengaruh bagi hubungan perkawinan mereka? Sejauh mana Tuhan hadir sebagai “pasangan/ pengikat” ketiga bagi mereka?

Penelitian ini mencoba melengkapi penelitian-penelitian sebelumnya tentang hubungan perkawinan. Penelitian dari para pendahulunya menemukan, bahwa ketaatan beragama yang tinggi, terbukti mampu mengurangi resiko perceraian. Dikatakan bahwa, Angka perceraian pasangan yang jarang mengikuti peribadatan secara rutin di tempat ibadah, lebih tinggi (60%) daripada pasangan yang rutin beribadahnya. Ada juga peneliti lain yang menemukan bahwa ketimpangan pemahaman keagamaan suami istri, berhubungan kuat dengan tingginya resiko munculnya kekerasan dalam rumah tangga. Menarik lagi, ternyata ada beberapa penelitian yang menyatakan bahwa pasangan yang telah hidup bersama sebelum perkawinan, ternyata memiliki komitmen yang lebih rendah dan tingkat perceraian yang tinggi, dibandingkan dengan pasangan yang belum pernah hidup bersama sebelum menikah. Percaya tidak percaya, itulah hasil penelitian sebelumnya yang dikumpulkan oleh Lambert dan Dollahite.

Nah, karena penasaran dan mencoba mencari alasan lain, akhirnya mereka mencoba bertanya kepada pasangan-pasangan yang taat beragama itu, apakah tingkat ketaatan dan kepercayaan mereka terhadap Tuhan, memberikan pengaruh secara langung terhadap komitmen perkawinan mereka? Jika iya, sejauh apa dampaknya bagi ikatan perkawinan tersebut? Kemudian, setelah penelitian mereka selesai, mereka menemukan sekurang-kurangnya ada Sembilan poin penting, dampak yang dihasilkan oleh kehadiran Tuhan sebagai “pasangan ketiga” di dalam perkawinan.

Pertama, memasukkan Tuhan ke dalam perkawinan, ternyata mampu mempertinggi dan memantapkan komitmen perkawinan pasangan-pasangan tersebut.

Kedua, memposisikan Tuhan sebagai “partner” di dalam penikahan, menambah kekuatan pengikat bagi pasangan untuk tetap setia satu sama lain.

Ketiga, dengan mempercayai bahwa Tuhan ikut campur tangan dalam perkawinan, membuat setiap pasangan merasa bersalah jika sampai memutuskan ikatan suci mereka.

Keempat, Tuhan dianggap membantu melengkapi dan menjadi jaminan dalam hubungan mereka, sehingga mereka menjalani komitmen bersama itu dengan perasaan rela dan ikhlas.

Kelima, mereka menjadi percaya, bahwa perkawinan yang mereka jalani, akan tetap berlangsung, bahkan setelah keduanya meninggal dunia.

Keenam, percaya pada Tuhan, menimbulkan pemaknaan dan perasaan bahwa, menjalani hubungan perkawinan dalam jangka panjang adalah sebuah panggilan hidup yang kuat.

Ketujuh, Tuhan dianggap dapat melawan atau meredakan segala ketegangan/konflik diantara mereka.

Kedelapan, memasukkan Tuhan sebagai pasangan ketiga, meningkatkan keyakinan pasangan terhadap perkawinan sebagai suatu hubungan kekal yang tidak boleh dihancurkan.

Kesembilan, dengan merasakan kehadiran Tuhan, pasangan-pasangan itu merasa tetap mendapatkan dukungan, khususnya ketika mereka mengalami masa-masa sulit dalam perkawinan dan kehidupannya.

Mungkin Anda akan manggut-manggut, sebab Anda juga percaya pada Tuhan. Begitupun dengan Anda yang masih skeptis dengan dogma dan ajaran dari agama, pasti akan geleng-geleng tidak percaya. It doesn’t matter..

Setidaknya, penelitian Lambert dan Dollahite tersebut, semakin memperkuat kepercayaan para penganut agama di dunia, bahwa Tuhan adalah faktor yang penting di tengah perkawinan. Pemaknaan atas ridho atau dukungan Tuhan terhadap sebuah perkawinan, ternyata mampu menghasilkan cara pandang positif terhadap hubungan perkawinan itu. Sebab, ternyata bukan kesempurnaan pasangan yang diburu di dalam perkawinan, melainkan kesempurnaan hubungan yang dibangun bersama-sama, bila perlu dengan melibatkan Tuhan.

Akan tetapi, masih ada satu hal yang mengganjal dalam pikiran saya, bagaimana para penganut poligami, memaknai kehadiran Tuhan dalam keluarga mereka? Apakah Tuhan menjadi “partner” keeampat atau kelima ? atau bagaimana dengan mereka yang berada di luar tiga agama (Kristen, Yahudi, dan Islam) tersebut, memaknai hubungan perkawinan mereka??

Semoga menginspirasi Anda untuk mencari jawabannya...

13 March 2009

Wajah Mirip = Berjodoh ?



Mungkin judul di atas menjadi salah satu mitos dalam dunia perjodohan yang sering kita dengar. Biasanya di tengah obrolan atau rumpian sesama teman. Entah darimana munculnya anggapan tersebut, namun banyak juga yang kemudian percaya dan meyakininya. Pengalaman pribadi, ketika saya memperkenalkan pasangan kepada sahabat atau teman, pasti ada saja celetukan yang mengatakan, “eh, kalian mirip ya, pasti berjodoh”. Ada lagi yang saking maksanya mencari kemiripan, mengatakan bahwa, “tuh, hidung kalian mirip, pasti cocok dech..”. kemaren-kemaren, hal itu hanya terasa sebagai basa-basi penghangat perkenalan saja. Namun kemudian, saya tergelitik untuk mencari tahu, apakah mitos itu benar adanya?

Penasaran itu rupanya terus menghantui. Hingga tanpa sengaja, ketika saya berjalan-jalan di sebuah toko buku terkenal, mata saya tertambat pada sebuah DVD yang terjepit diantara barisan film-film yang ditaruh di atas keranjang. Di tengah tumpukan film tersebut, tertulis diskon 20%. Bukan papan diskon itu yang menarik minat saya. Melainkan judul film yang memikat pikiran saya, “secret of the sexes”. Kata-kata sex itulah yang sejujurnya mendorong kaki saya untuk menghampiri, dan membuat tangan saya dengan cekatan mengambilnya. Tanpa banyak berpikir, saya langsung membeli film tersebut, dan berharap segera menontonnya di rumah.

Sampai di rumah, tanpa membuang waktu lagi saya langsung memutar film tersebut. Sempat terbesit pikiran, saya akan mendapatkan banyak “pengetahuan” dari film itu. Namun ternyata, begitu prolog berjalan, ternyata film itu bukan film yang saya harapkan, melainkan sebuah fil dokumenter ilmiah. Sempat kecut dan kecewa. Namun saya biarkan saja film itu berjalan, sambil sesekali membaca teks bahasa Indonesia di bawahnya. Di tengah-tengah rasa kecewa telah membeli film itu, tiba-tiba dewi fortuna seperti datang menghampiri. Ternyata, film dokumenter tentang rahasia seks tersebut, menceritakan tentang sebuah riset ilmiah untuk menjawab apa saja faktor yang menyebabkan pria tertarik pada wanita, dan sebaliknya. Riset itu dilakukan oleh sebuah institut, dengan berbagai tenaga ahli (komputer, dokter, tata rias, psikolog, desainer, dll) terhadap 100 pria dan wanita yang belum menikah di London, Inggris.

Penelitian itu mencoba membuat simulasi, dengan mempertemukan secara acak dan langsung, setiap pria dengan setiap wanita. Mereka duduk berhadapan dengan sebuah meja dihadapannya. Dalam pertemuan yang dibatasi hanya 2 menit itu, mereka diminta untuk saling berkenalan secara singkat dan dengan cara yang bebas. Di akhir perkenalan itu, si pria atau wanita, saling memutar tombol skor yang ditaruh dibawah meja. Tombol skor itu sebagai penilaian ketertarikan peserta untuk menjadikan peserta di hadapannya sebagai pasangannya. Setelah semua saling bertemu dan memberi nilai, para ahli merangkum nilai tersebut.

Pada akhirnya, ditemukan nama-nama yang mendapatkan skor paling tinggi. Mereka dengan skor paling tinggi ini, berarti dinilai paling menarik dan ideal untuk dijadikan pasangan. Dan ternyata, kaum pria, baik yang tampan maupun biasa, lebih mendasarkan penilaiannnya dari kesempurnaan fisik, seperti wajah cantik, rambut hitam panjang, tubuh proporsional. Sementara, kaum perempuan lebih menilai pada sikap dan gaya pendekatan pria. Apakah asyik, sopan, nyambung, intelek, dan lain sebagainya. Mereka yang masuk kategori tidak menarik untuk dijadikan pasangan, rata-rata memang memiliki kekurangan dalam hal fisik, seperti terlalu gemuk, bermutu (bermuka tua), dan terlihat miskin. Singkat cerita, sebagian besar peserta memang menilai dari kesempurnaan fisik, namun tak satu pun peserta yang memimpikan pasangan idealnya adalah mereka yang berwajah mirip dengannya.

Selain itu, para ahli mencoba membuktikan, apakah pasangan pria dan wanita yang memiliki sruktur wajah yang mirip, memiliki kemungkinan untuk berjodoh. Mereka mencoba mencari peluang dari seratus peserta itu yang memiliki kemiripan struktur wajahnya. Akhirnya, ditemukan lima pasangan. Kelima pasangan itu kemudian dilibatkan ke dalam sebuah kencan selama beberapa hari, yang diikuti oleh kamera tersembunyi. Dan hasilnya, ternyata kemiripan wajah tidak serta merta menjadikan dua orang beda jenis ini menjadi cocok sebagai pasangan. Bahkan kencan mereka, ada yang justru berakhir dengan tidak mengenakkan. Ternyata ada faktor lain yang lebih berperan, yaitu sifat dan sikap.

Hal ini dapat dimengerti, sebab, setelah kenal lama dan makin mendalam, maka seseorang akan terbongkar sifat dan perangai sebenarnya. Dari sinilah kemudian, faktor-faktor fisikal, yang di awal tadi menentukan ketertarikan, menjadi penentu hubungan yang nomor sekian. Sebab, ketika seseorang ingin menjalani komitmen dengan orang lain dalam jangka waktu yang panjang (untuk menikah misalnya), maka pertimbangan sifat dan sikap, menjadi yang utama (selain kemapanan ekonomi). Semua sudah paham, bahwa kecantikan badaniah, pasti akan luntur ditelan waktu dan usia. Sehingga, jika hubungan itu untuk serius, maka pertimbangan fisik, apalagi kemiripan wajah, menjadi semakin tidak dominan atau penting. Para ahli itu pun, akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa belum ada bukti ilmiah yang kuat bahwa pasangan yang memiliki kemiripan wajah, otomatis berjodoh!

Kita tentu bebas berpendapat soal ini. Saya pribadi lebih senang jika kemiripan di sini, tidak direduksi pada wajah atau fisik semata. Namun, memaknai kemripan jodoh ini dengan cara pandang bahwa , jodoh kita adalah cerminan diri kita. Sebagai cermin (datar), tentu ia tidak pernah berbohong. Ia akan menampakkan dan melaporkan apapun yang kita hadapkan kepadanya. Cermin juga siap mengoreksi kekuarangan yang ada pada diri kita setiap saat. Karena cermin itu jujur, maka kita bisa membawa cermin itu kemanapun kita pergi. Kita juga tak ragu untuk berbagi hal yang privat dan rahasia dihadapannya. Dan jika orang yang bercermin itu jujur, maka melalui cermin itu ia akan terus belajar untuk menerima, memahami, dan memutuskan secara bijaksana. Kita perlu insyaf, bahwasanya apa yang ditampilkan oleh cermin, sesungguhnya adalah penampilan kita juga. Baik buruk perilaku pasangan, sejatinya adalah cerminan diri kita sendiri.

Tidak perlu khawatir jika calon pasangan kita nggak ada mirip-miripnya dengan kita. Bukankah, yang lebih penting adalah anak-anak kita memiliki wajah yang mirip dengan orang tuanya? Sebab, kalau sampai tidak mirip, apa kata dunia ? (hayoo..anak siapakah itu? :)