21 January 2019

Soal Baasyir dan Mengapa Terorisme Lebih Ditakuti Daripada Gula?

Oleh: Yanu Prasetyo

Bagi pengagum beratnya, Ustad Abu Bakar Baasyir adalah figur pahlawan yang konsisten. Teguh pendirian. Contoh kongkrit dari menyatunya kata dan perbuatan. Gaya bicaranya blak-blakan. To the point. Terbukti penjara pun tidak melunturkan sikap dan pandangannya. Meski diminta untuk menandatangani surat setia kepada Pancasila, ia bergeming.

“Kalau Pancasila sesuai dengan ajaran Islam, kenapa tidak tunduk pada Islam saja” ungkapnya. Pemimpin negeri mana coba yang tidak gentar memiliki warga negara seperti Baasyir ini? Seandainya saja, ini cuman seandainya, Ustad Baasyir ini adalah imam besar FPI atau pemimpin tertinggi HTI yang diklaim memiliki jutaan pengikut itu, tentu akan lain cerita di republik tercinta ini. Untungnya tidak demikian.

Marie Kondo

Oleh: Yanu Prasetyo

Ialah sosok yang cukup menarik perhatian warganet di bulan Januari 2019 ini. Kalau kamu pecinta Netflix atau penghayat produk kreatif Jepang, pasti tidak asing dengan Marie Kondo. Bukan, bukan! Dia bukan bintang film porno atau semacamnya. Dia penulis buku yang kini melejit karena karya dan keahliannya diangkat menjadi reality show di Netflix. Kemampuannya pun unik: melipat baju!

Bukan hanya melipat baju, tapi juga ia mempopulerkan metode menata rumah dengan sentuhan minimalis abis. Ia menyebut metodenya itu dengan istilah "KonMari". Artinya? Tidak ada. Itu hanya potongan nama belakang dan depannya saja yang disatukan.

16 January 2019

Brexit: Gagal Exit?


Oleh: Yanu Prasetyo

Mendengar kata “Brexit”, mungkin yang terngiang di kepala orang Indonesia adalah soal kemacetan parah di pintu keluar tol Brebes Timur dua setengah tahun lalu: “Brebes Exit”. Ya, benar. Waktu itu, terjadi kebuntuan lalu lintas teramat parah di pintu keluar tol Brebes timur yang menyebabkan kemacetan sangat panjang dan menelan korban jiwa sebanyak dua belas orang. Tak disangka, chaos dan kerumitan kendaraan keluar masuk tol Brebes pada mudik lebaran 2016 itu, nampaknya hari ini benar-benar menggambarkan gonjang-ganjing di pemerintah dan parlemen Inggris. Koq bisa? Begini ceritanya.

14 January 2019

Debat Capres: Dylan vs. Rangga

Oleh: Yanu Prasetyo

Suka atau tidak, debat calon presiden dan wakil presiden adalah salah satu alat ukur terbaik untuk melihat kualitas demokrasi sebuah bangsa. Dari debat terbuka di televisi, misalnya, publik akan mampu menerawang kualitas calonnya. Terlepas soal ujian sudah dibocorkan atau tidak, tetap saja kemampuan menjawab “take-home exam” itu bisa menjadi pembeda kualitas kandidat dan kesiapan tim pendukungnya. Debat capres juga menjadi saluran yang sangat baik bagi kandidat untuk “berbicara” langsung kepada jutaan calon pemilihnya. Terlepas janji murni atau janji palsu yang akan disampaikan, tetap saja duel gagasan, program, dan cara pandang kandidat itu akan mampu mempengaruhi loyalitas calon pemilih. Besar maupun kecil. Tanpa debat, pilpres laksana sayur tanpa garam. Hambar.

12 January 2019

Slow Food Movement

Oleh: Yanu Prasetyo

Bermula dari Italia, gerakan Slow Food Movement berkembang dan menyebar ke seluruh dunia. Diam-diam, gerakan ini kini memiliki lebih dari 200,000 anggota aktif dan memiliki perwakilan di 50 negara (Weaver, 2012). Adalah Carlo Petrini (1949-2012) pria cerdas dan pemberani dibalik gerakan yang berdiri di akhir tahun 1980an ini. Keberanian Petrini sebagai seorang jurnalis beserta kawan-kawannya yang menolak masuknya jaringan raksasa McDonald’s di kota Roma itulah yang menjadikan gerakan ini melegenda. Dari perlawanan terhadap McDonaldization ini pula “slow food”, mendapatkan tempat sebagai antitesis dari “fast food”; “We don’t want fast food… we want slow food!” demikian kira-kira slogan yang menggema di Roma kala itu. Gerakan ini semakin lengkap dengan terbitnya Slow Food Manifesto pada 10 Desember 1989.

11 January 2019

“Krisis” Perbatasan Amerika-Meksiko

Inilah topik terpanas di Amerika Serikat hari ini. Sampai tulisan ini dibuat, pemerintahan federal AS masih lumpuh. “Government Shutdown” istilahnya. Kondisi dimana lembaga pemerintah federal tidak beroperasi untuk sementara dan tentu saja tidak bisa menggaji para pegawainya yang berjumlah lebih dari delapan ratus ribu orang itu. Keputusan ini diambil karena terjadi kebuntuan antara eksekutif dan Kongres dalam pengesahan anggaran baru. Dipicu oleh keinginan sang presiden, Donald Trump, untuk membangun tembok di sepanjang perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko. Seperti diketahui, Amerika serikat memiliki dua perbatasan darat utama. Utara dengan Kanada, selatan dengan Meksiko. Beberapa bulan terakhir, krisis ekonomi dan kemanusiaan di Amerika latin, yaitu negeri-negara tetangga AS, sedang memuncak. Seperti di Venezuela, El Salvador, Honduras, dan Guatemala. Dimana perang antar geng, kartel narkoba, dan hyperinflasi mendorong krisis ekonomi, krisis politik, dan krisis keamanan terjadi. Hal ini memaksa ribuan bahkan jutaan orang tua, perempuan, dan anak-anak harus mengungsi keluar negaranya. Salah satu tujuan para pengungsi itu tentu saja Amerika Serikat. The land of freedom and opportunity. Negeri yang diharapkan bisa memberikan peluang kehidupan yang lebih aman dan lebih baik bagi masa depan mereka.

08 January 2019

A Republic of Fat

“We are not only what we eat, but how we eat, too”
(Michael Pollan, 2006)
Dua abad yang lalu, Amerika dikenal sebagai “The Alcoholic Republic”. Dimana rata-rata konsumsi minuman beralkohol sangat tinggi. Pada masa itu, seperti dijelaskan sejarawan W.J. Rorabaough (1979), minuman beralkohol adalah bagian dari everyday American life. Dampaknya; kecelakaan, kekerasan, kecanduan, dan masalah sosial lainnya meningkat pesat. Pemerintah pun turun tangan. Peredaran minuman beralkohol dikontrol dan diawasi ketat. Bahkan sempat dilarang pada tahun 1920 melalui the 18th amandement sebelum akhirnya direvisi lagi empat belas tahun kemudian pada tahun 1933 (Miron & Zwiebel, 1991). Kini, julukan itu hampir dilupakan orang. Negeri Paman Sam memiliki julukan baru yang tidak kalah fenomenal: A Republic of Fat. Ya, julukan yang masih berkaitan dengan pola makan dan minum bangsa Amerika yang cenderung ekstrim. Mengapa bisa demikian?

“Kochtopus”: Sang Penguasa Amerika

Siapa sebenarnya dalang paling berpengaruh dalam gonjang-ganjing perpolitikan Amerika? Benarkah Donald Trump antitetis dari demokrasi di Amerika? Apa yang membuat jurang ketimpangan sosial dan ekonomi di Amerika belakangan semakin menganga?
Tiga pertanyaan di atas paling banyak menghantui mereka yang berusaha membaca perkembangan terkini negeri adidaya ini. Banyak pengamat politik mengatakan bahwa terpilihnya Donald Trump pada pemilu tahun 2016 merupakan penanda bangkitnya ideologi konservatif-kanan dan melemahnya gerakan liberal-progresif. Meskipun kenyataannya, dari hasil perolehan suara pemilu (popular vote), jumlah pemilih Clinton (65,9 juta suara) saat itu lebih banyak dibanding pemilih Trump (62,9 juta suara). Namun, disebabkan oleh sistem “electoral college”, maka meski jumlah pemilih Hillary Clinton lebih banyak dari Trump, tidak lantas membuatnya melenggang menjadi presiden perempuan pertama di Amerika.

The Leavers vs. The Stayers

Sembari duduk di sebuah sofa tua, pandangan saya tersedot pada tumpukan buku yang ada di meja tepat di depan saya. Nampaknya, sebagian besar buku-buku itu masih fresh from the oven alias baru saja keluar dari kardus pengiriman barang online. Profesor emeritus di sebelah saya, sang pemilik rumah sekaligus yang memesan buku-buku itu, sudah berusia sangat sepuh. Hampir 90 tahun. Namun ingatannya masih sangat tajam. Suaranya masih lugas dan mudah dimengerti. Meski mulai kesulitan untuk berdiri, namun tak sedikitpun ia menampakkan kelelahan untuk mengajar dan berbagi. Mungkin dedikasinya yang sangat total pada ilmu pengetahan dan pendidikan itulah yang menjadikannya masih nampak bugar di usia yang mulai jarang terlampaui manusia modern saat ini.

04 June 2018

Merancang Agent-Based Model (ABM): Wolf Sheep Simple Model (Bag-3)

Yanu E. Prasetyo
email:yepw33@mail.missouri.edu

Setelah perencanaan model dilakukan dengan cukup matang, maka kita bisa mulai untuk menerapkan model kita tersebut ke dalam program NetLogo. Meskipun contoh model kita (wolf sheep simple model) terbilang sangat sederhana, namun dalam prosesnya sebaiknya tetap dijalankan secara bertahap untuk melihat apakah model koseptual yang kita rancang dapat berjalan dengan baik atau tidak. Langkah pertama adalah dengan membuat versi awal (first version) dari model tersebut. Versi awal ini kita mulai dengan hanya melihat perilaku salah satu agen, misalnya domba, dan mengabaikan untuk sementara agen lainnya (Serigala) dan lingkungan. Kenapa kita mulai dengan memodelkan satu agen? Agar kita yakin bahwa perilaku setiap agen berjalan sesuai dengan yang semestinya. Jika kita masukkan semua agen secara bersamaan, pergerakan agen akan terlihat kompleks dan sulit untuk mengetahui apakah setiap agen sudah berperilaku dengan semestinya atau belum.

20 May 2018

Merancang Agent-Based Model (ABM): Wolf Sheep Simple Model (Bag-2)

jumlah populasi serigala dan rusa yang ada di Isle Royale
dari tahun 1959 sampai dengan 2009
Sumber: http://isleroyalewolf.org/data/data/home.html

Artikel sebelumnya disini

Setelah memiliki pertanyaan penelitian yang cukup jelas dan didukung oleh data atau informasi sebelumnya, maka proses selanjutnya adalah menentukan siapa atau apa agen-agen yang akan disimulasikan dalam model kita? Sebagai salah satu komponen utama dalam ABM, cara kita mendefinisikan agen mutlak menjadi penting. Misalnya, apakah kita mendefinisikan agen sebagai satu kesatuan utuh, missal individu manusia, atau organ-organ pembentuk manusia atau sel-sel yang ada di dalam tubuh manusia? Kita harus memilih jenis dan level agen yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan penelitian yang telah kita rumuskan sebelumnya. Demikian juga dalam hal pemilihan skala waktu (temporal scale), penting untuk memutuskan apakah aktivitas dari agen kita, misalnya serigala dan domba, dalam skala menit, jam, atau harian. Jika kita membuat aktivitas agen dalam bentuk harian, maka agen dan lingkungan lainnya juga harus berada pada skala aktivitas yang sama dalam simulasi pemodelan kita.

17 May 2018

Merancang Agent-Based Model (ABM): Wolf Sheep Simple Model (Bag-1)


Predatory-Prey atau Wolf Sheep Simple Model dari NetLogo


Yanu E. Prasetyo
yepw33@mail.missouri.edu 

Ada tiga tahapan dalam membuat Agent-Based Models (ABM)*. Pertama adalah tahap perancangan model (designing model). Pada tahap ini kita harus menentukan elemen atau komponen apa saja yang ada di dalam model kita. Kedua, membangun model (building model). Setelah mengetahui setiap komponen dan elemen yang diperlukan, kita bisa mulai menuangkan dalam model konseptual dan membuat obyek komputasinya. Ketiga, uji coba model (examining model). Pada tahap ini kita akan melakukan uji coba dengan menjalankan model dan menganalisa atau menginterpretasikan hasilnya.

Sebagai latihan awal, kita akan mencoba membangun (meniru) sebuah model sederhana dari Wilensky & Rand (2015) yang diberi nama “Wolf Sheep Simple Model”. Pertanyaan dasar dari “Wolf Sheep” model ini adalah “Bagaimana perubahan tingkat populasi dari dua spesies (serigala dan domba) yang tinggal bersama dalam satu habitat (ekosistem alam)”. Meskipun model sederhana ini hanya memuat dua spesies, namun model ini dapat dikembangkan lebih lanjut untuk melihat dinamika hubungan antara dua atau lebih entitas, misalnya kompetisi antar perusahaan dalam merebut konsumen, kompetisi partai politik dalam pemilu, penyebaran virus dalam sistem komputer, dan lain sebagainya. Untuk merancang, membangun, dan menguji model ini kita akan menggunakan program komputer NetLogo.   

Pentagon or Hexagon? Cultural Capital in the Sustainable Rural Livelihood Framework


Department for International Development (DFID) presented the different type of assets on the form of Pentagon which consists five capital assets; natural capital, social capital, human capital, physical capital, and financial capital (Carney, 1998). My critical thought about this pentagon of capital assets is: where is the cultural capital? Why doesn’t it count by DFID? Is cultural capital not a type of assets? I believe that culture is one of the essential parts of a social and ecological system, particularly for rural livelihood, poverty reduction, and sustainable development. Culture is something embedded in the community and individuals that transferred among generations and shaping their continuous-identity (beliefs, values, norms, religion, traditions, etc.). When this inter-generations history and identity connected to the material resources, it may provide essential livelihood option and create human activities in the specific areas for a long period.