20 May 2018

Merancang Agent-Based Model (ABM): Wolf Sheep Simple Model (Bag-2)

jumlah populasi serigala dan rusa yang ada di Isle Royale
dari tahun 1959 sampai dengan 2009
Sumber: http://isleroyalewolf.org/data/data/home.html

Artikel sebelumnya disini

Setelah memiliki pertanyaan penelitian yang cukup jelas dan didukung oleh data atau informasi sebelumnya, maka proses selanjutnya adalah menentukan siapa atau apa agen-agen yang akan disimulasikan dalam model kita? Sebagai salah satu komponen utama dalam ABM, cara kita mendefinisikan agen mutlak menjadi penting. Misalnya, apakah kita mendefinisikan agen sebagai satu kesatuan utuh, missal individu manusia, atau organ-organ pembentuk manusia atau sel-sel yang ada di dalam tubuh manusia? Kita harus memilih jenis dan level agen yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan penelitian yang telah kita rumuskan sebelumnya. Demikian juga dalam hal pemilihan skala waktu (temporal scale), penting untuk memutuskan apakah aktivitas dari agen kita, misalnya serigala dan domba, dalam skala menit, jam, atau harian. Jika kita membuat aktivitas agen dalam bentuk harian, maka agen dan lingkungan lainnya juga harus berada pada skala aktivitas yang sama dalam simulasi pemodelan kita.

17 May 2018

Merancang Agent-Based Model (ABM): Wolf Sheep Simple Model (Bag-1)


Predatory-Prey atau Wolf Sheep Simple Model dari NetLogo


Yanu E. Prasetyo
yepw33@mail.missouri.edu 

Ada tiga tahapan dalam membuat Agent-Based Models (ABM)*. Pertama adalah tahap perancangan model (designing model). Pada tahap ini kita harus menentukan elemen atau komponen apa saja yang ada di dalam model kita. Kedua, membangun model (building model). Setelah mengetahui setiap komponen dan elemen yang diperlukan, kita bisa mulai menuangkan dalam model konseptual dan membuat obyek komputasinya. Ketiga, uji coba model (examining model). Pada tahap ini kita akan melakukan uji coba dengan menjalankan model dan menganalisa atau menginterpretasikan hasilnya.

Sebagai latihan awal, kita akan mencoba membangun (meniru) sebuah model sederhana dari Wilensky & Rand (2015) yang diberi nama “Wolf Sheep Simple Model”. Pertanyaan dasar dari “Wolf Sheep” model ini adalah “Bagaimana perubahan tingkat populasi dari dua spesies (serigala dan domba) yang tinggal bersama dalam satu habitat (ekosistem alam)”. Meskipun model sederhana ini hanya memuat dua spesies, namun model ini dapat dikembangkan lebih lanjut untuk melihat dinamika hubungan antara dua atau lebih entitas, misalnya kompetisi antar perusahaan dalam merebut konsumen, kompetisi partai politik dalam pemilu, penyebaran virus dalam sistem komputer, dan lain sebagainya. Untuk merancang, membangun, dan menguji model ini kita akan menggunakan program komputer NetLogo.   

Pentagon or Hexagon? Cultural Capital in the Sustainable Rural Livelihood Framework


Department for International Development (DFID) presented the different type of assets on the form of Pentagon which consists five capital assets; natural capital, social capital, human capital, physical capital, and financial capital (Carney, 1998). My critical thought about this pentagon of capital assets is: where is the cultural capital? Why doesn’t it count by DFID? Is cultural capital not a type of assets? I believe that culture is one of the essential parts of a social and ecological system, particularly for rural livelihood, poverty reduction, and sustainable development. Culture is something embedded in the community and individuals that transferred among generations and shaping their continuous-identity (beliefs, values, norms, religion, traditions, etc.). When this inter-generations history and identity connected to the material resources, it may provide essential livelihood option and create human activities in the specific areas for a long period.

11 March 2018

History and The Future of Sustainable Development: A Brief Review


Historically, sustainable development has arisen from a series of conferences and summits which looking for the global solutions of 21st Century problem such as extreme poverty, inequality, and the environmental degradation. The term of sustainable development began to gain its popularity in the late 80’s after the Brundtland Report (1987). The ideas expressed from Brundtland Report recognize the dependency of humans on the environment and against human domination over nature lives (Castro, 2004. Hopwood et al., 2005). This report defined sustainable development as simply development that “meets the needs of the present without compromising the ability of the future generations to meet theirs.” These “inter-generational equity principles” provide a useful basis for the future trends of Sustainable development (Hopwood et al., 2005).

23 January 2018

Mapping and Exploring Informal Network in Organizational and Community Leadership

Yanu Endar Prasetyo

ABSTRACT

Work often happens through informal interactions and relationships. Formal networks and vertical channels no longer enough for the organizational and community capacity to adapt to the rapid social changes and disruptions. Just as the network knowledge is an asset for any organization in the disruptive era, understanding people’s connections and network’s approach is critically important in the cultural transformation of the leadership in the community and organization. The purpose of this article is to review and investigate how Social Network Analysis (SNA) could visualize and analyze the informal networks in organizational and community leadership’s studies. This study introduces a model that combines organizational leadership and community leadership as a social relations category in a micro- sociological perspective. By applying social network approach to evaluating leadership network, the organization or community can more efficiently scale and accelerate their development as well as solves their leadership problems. This method is useful for those who are seeking to influence policy, disseminate new ideas, and mobilize resources towards a common or a specific goal. SNA provides a set of theories, tools, and processes for understanding the relationships and structures of a network. SNA will determine the particular measures, from simple to complex rules, which need to be applied to derive insights from the network and how the network system is structured and evolved with time. The results of this review could help leaders to diagnose, measure, and evaluate their informal network structures and dynamics which are connected through shared interests, work, experiences, and collaborations. 

KEYWORDS


Community development; community leadership; informal network; leadership network; social network analysis

Link & Citation:

12 January 2018

Agent-Based Modeling: Tahapan Penelitian

Yanu Endar Prasetyo
email: yepw33@mail.missouri.edu 

Model Penyebaran HIV AIDS (Net Logo)
Layaknya metode penelitian ilmiah lainnya, langkah-langkah atau tahapan penelitian yang menggunakan pendekatan Agent-Based Modeling (ABM) juga perlu dirunut agar mudah diikuti dan memiliki “kebakuan” dalam proses pengembangannya. Tahapan penelitian ini juga akan membantu para peneliti pemula atau yang baru akan memulai risetnya menggunakan pendekatan ABM.

Pertanyaan Penelitian (a research question)

Langkah pertama tentu saja adalah menetapkan pertanyaan penelitian. Dalam merumuskan pertanyaan penelitian harus se-realistis mungkin dan memiliki peluang kemungkinan untuk dapat dijawab. Jika rumusan pertanyaan penelitian itu terlalu general dan ambisius, bisa jadi hasil penelitian nanti akan kurang memuaskan atau bahkan tidak menjawab sama sekali. Oleh karena itu, diperlukan rumusan pertanyaan penelitian yang jelas, terukur, fokus, spesifik, dan ringkas. Semakin spesifik semakin baik!

Beberapa pertanyaan penelitian yang relevan didekati dengan metode ABM biasanya terkait dengan pola “keteraturan” (regularities) dalam masyarakat (makro) yang sudah atau bisa teramati polanya. Misalnya pada kasus segregasi sosial di perkotaan yang dapat dilihat dari pola perumahan penduduknya yang dipengaruhi oleh perbedaan rasial. Contoh lain, pola pertukaran sosial di pedesaan yang dapat diobservasi dari bentuk pertukaran “gantangan” atau “nyumbang” dalam pesta hajatan pernikahan di pedesaan (baca penelitian Hokky Situngkir & Yanu Endar Prasetyo). Pola penyebaran opini, perilaku konsumen, dan lain-lain juga bisa menjadi basis awal dalam menyusun pertanyaan penelitian yang tepat dan mengena.

11 January 2018

Memodelkan Segregasi Sosial di Perkotaan

Yanu Endar Prasetyo
email: yepw33@mail.missouri.edu 

Thomas Schelling, salah seorang peraih hadiah nobel pada tahun 1969, 1971, 1978, mempelajari tentang dinamika segregasi sosial [1], yaitu sebuah kondisi sosial dimana mereka yang memiliki identitas atau karakteristik yang berbeda (misal orang kulit putih dan kulit hitam, orang kaya dan miskin, professor dan mahasiswa) cenderung untuk “menjauhi” satu sama lain. Asumsi dasarnya adalah orang cenderung merasa “nyaman” apabila berdekatan dengan orang lain yang memiliki banyak kemiripan (similarities) dengan dirinya. Pandangan ini kemudian menuntunnya untuk melakukan berbagai kajian tentang segregasi sosial, termasuk bagaimana faktor rasial (perbedaan warna kulit) ini mempengaruhi pola perumahan atau pola tinggal orang kota, Khususnya di Amerika Serikat.

Seperti kita ketahui, Amerika Serikat memiliki sejarah panjang terkait dengan persoalan rasisme. Tidak hanya terjadi di masa perbudakan saja, namun jejak-jejak peninggalan sentimen rasisme ini masih mengendap dan menjadi masalah publik sampai saat ini, utamanya dipicu oleh banyaknya perlakuan atau kebijakan yang dianggap diskriminatif bagi orang atau komunitas kulit hitam dan berwarna lainnya. Dalam konteks segregasi sosial di perkotaan, salah satu indikator dari lebarnya jurang pemisah antar ras ini dapat ditelusur melalui pola perumahan (neighborhood) di perkotaan AS yang cenderung mengelompok antara perumahan orang kulit putih dan kulit hitam.

Agent-Based Modeling: Sebuah Pengantar

Yanu Endar Prasetyo

Agent-Based Modeling (ABM)[1] merupakan metode komputasi yang memungkinkan peneliti untuk membuat, menganalisa, dan mencoba berbagai model yang didalamnya berisi interaksi atau simulasi antara “agen” dan “lingkungan”. Meskipun sudah cukup dikenal pada bidang ilmu sains, ABM dapat dikatakan sebagai metode yang relatif baru dalam penelitian-penelitian ilmu sosial di Indonesia.

Sebagai sebuah metode komputasi (computational social science) maka ABM dibangun dengan bantuan perangkat komputer. Ide dasarnya berangkat dari keinginan ilmuwan sosial untuk membuat model yang bisa menjadi representasi fenomena sosial yang sedang diteliti. Membangun “replika” dari realitas sosial yang kompleks menjadi menjadi tujuan dari simulasi ABM ini. Jika para pilot pesawat mengenal “flight simulator” untuk berlatih berbagai kemungkinan terbangnya pesawat, maka ABM adalah alat simulator bagi para peneliti ilmu sosial untuk melihat berbagai kemungkinan perilaku agen atau individu dalam fenomena sosial tertentu.

01 January 2018

From Storytelling to Social Change: The Power of Story in the Community Building

Yanu Endar Prasetyo

PhD Student, University of Missouri, Department of Rural Sociology; Indonesian Institute of Sciences
Date Written: December 31, 2017

Abstract

The critical elements of a community development processes are how to provide the motivation of people for sharing and consolidate learning. For this challenge, storytelling is a powerful way to exchange and address the barriers to knowledge transfer within community members. Stories are an important part of social change because they have the power to shape the way people think and feel about their worlds and how they interact with in them. In the community development processes, sharing stories or experiences can build trust, cultivates norms, transfers tacit knowledge, facilitates unlearning, and generates emotional connections. Storytelling teaches us how to deal with the different individual situations by improvising alternative futures through narratives of change. Storytelling will help the facilitator’s main task in the divergent zone and help create opportunities for everyone to express their views and creative ideas
Keywords: Storytelling, transfer of knowledge, community building, social change

27 December 2017

Uang Haram Trotoar Tanah Abang


Masalah penataan tanah abang sedang viral di media sosial. Penggunaan trotoar untuk berdagang para PKL menimbulkan kecemburuan bagi pedagang yang ada di Kios dalam. Bagaimana tidak, mereka yang di dalam harus membayar sewa resmi, jauh dari pengunjung, dan sekarang harus kehilangan sebagian omzet nya karena tersedot oleh PKL di trotoar yang menurut video dari youtube Najwa Shihab membayar "Sewa" itu tidak kepada pemerintah, tapi kepada preman. Tak tanggung-tanggung, perkiraan nilai total jual beli trotoar tanah abang itu mencapai 1,425 Milyar Rupiah/bulan!
#TanahAbangGayaBaru, salah satu hastag yang viral di twitter. Tapi gambar di atas bukan soal hastag itu. Jejaring dibawah mencoba memotret viralitas video Najwa Shihab berjudul "Uang Haram Trotoar Tanah Abang" di twitter. Mau tidak mau, suka tidak suka, tanah abang adalah salah satu barometer efektivitas kebijakan Pemda DKI. Kini tanah abang berpotensi kembali semrawut. Mampukah Pemprov DKI menata tanah abang secara out of the box seperti yang sempat diwacanakan?
===
Video Uang Haram Trotoar Tanah Abang dapat ditonton disini: https://www.youtube.com/watch?v=_x-85FPB9jQ&feature=youtu.be

LGBT


Menurut laporan dari The William Institute (2017), membaca karakteristik demografis LGBT di Indonesia cukup sulit. Jangankan menganalisis karakternya, menghitung jumlah populasinya saja sangat sulit. Selain tidak ada sumber survey/pendataan khusus yang resmi, juga karena adanya "ancaman" sosial dan kultural yang mengerikan bagi mereka yang secara terbuka mengakui ke-LGBT-annya. Tapi fakta bahwa LGBT eksis semua juga tahu. Bahkan, estimasi dari Kementerian Kesehatan untuk MSM (Man who have sex with man) saja diperkirakan mencapai 1.1 juta orang (2012) atau sekitar setengah sampai 1 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan Jaringan Gaya Warna Lentera (GWL-INA) merilis angka MSM antara 800rb s.d. 3 juta orang (2011). MSM berarti tidak termasuk Lesbian, perempuan biseksual, dan transgender men. Sebuah angka yang besar, meskipun belum sebesar negara lain seperti Amerika atau Thailand. Namun Ibarat gunung es, yang terlihat di permukaan hanya sebagian kecil dari fenomena besar dan kompleks di dasarnya.
===
Gambar dibawah menunjukkan jejaring dari beberapa akun influencer yang mendapat banyak perhatian dalam perbincangan "LGBT" terakhir (12/21/17). Social Network Analysis bisa menjadi alat yang powerful untuk memetakan jejaring LGBT, baik untuk online maupun offline. Yang kedua tentu bisa lebih dahsyat dan dapat digunakan untuk membantu individu, publik, maupun stakeholder dalam mengambil kebijakan yang penting dan dianggap perlu terkait LGBT.

===
Laporan The William Institute dapat diteropong disini: https://williamsinstitute.law.ucla.edu/…/LGBT-Exclusion-in-…
====

Soal #Reuni212 dan #AksiBelaPalestina1712

Siapa yang "menguasai" panggung #Reuni212 dan #AksiBelaPalestina1712 di sosial media?


Tanpa mengurangi solidaritas dan rasa keprihatinan untuk saudara-saudara kita di Palestina, saya mencoba sedikit "utak-atik" untuk sekaligus belajar melihat bagaimana isu yang sedang hangat di tengah publik kemudian diakumulasi dan diakuisisi oleh para elit politik via sosial media. Siapakah aktor-aktor politik utama yang eksis diatas narasi yang membawa nama umat Islam tersebut?
Untuk itu, Saya mengunduh 10.000 tweets terakhir yang menggunakan dua hastag diatas, lalu mengolahnya untuk mendapatkan akun tokoh (maupun bukan tokoh) politik yang paling "berpengaruh" dalam dua hastag di atas. Hasilnya, Fahri Hamzah (FH) adalah "singa podium" terkait #Reuni212 di sosial media! (nyaris tanpa pesaing). Sementara di percakapan soal #AksiBelaPalestina1712, pengaruh FH (biru) tidak lagi tunggal dan terbagi oleh aktor-aktor lain yang relatif sama-sama berpengaruh, seperti akun @ronavioleta @maspiyuu @zulkiflihasan (warna hijau) @bachtiarnasir (warna kuning) @gnpfulama_sumut dan @pksjakarta. Aksi bela palestina tidak sentral dijempol satu tokoh, tetapi terdistribusi pada beberapa aktor lainnya.
===
Tafsir lainnya atas data ini tentu terbuka dan bebas bagi kita untuk memaknai dan menyimpulkannya.

Penyambung Lidah Felix Siauw



Kenapa Felix Siauw semakin populer? Tentu banyak jawaban untuk itu. Bisa jadi karena pengikutnya di dunia maya dan nyata memang banyak (2,53 Juta follower di twitter), bisa karena kontroversi tindakan dan ucapannya, bisa juga karena efek pembubaran HTI (organisasi yang membesarkannya), atau mungkin juga karena banyak yang suka dan tidak suka padanya, sehingga berakibat banyak orang yang membicarakannya. Namun yang pasti, jika dilihat dari kaca mata jejaring media sosial, yang membuat Felix Siauw semakin populer di media sosial adalah karena adanya peran akun/orang yang, secara sadar atau tidak, telah secara langsung menjadi "penyambung lidah" pemikiran dan gagasannya, baik itu dari pihak yang pro maupun kontra terhadapnya.

Dalam "hukum" per-media-sosial-an, popularitas personal individu itu bukanlah faktor yang lantas menyebabkan ia terkenal sepanjang waktu. "Popularity is important, but it's not everything". Ada peran vital lain yang membantu si tokoh menjadi semakin populer seiring waktu. Peran vital ini tidak melulu dijalankan oleh sesama orang populer lainnya, tetapi utamanya dijalankan oleh orang-orang atau akun-akun yang berdiri diantara dua kelompok berbeda (bridge). Dan karena akun itu meretweet, mereply, atau me-mention tweet Felix Siauw, maka ia telah berperan menjadi penyambung lidah dan memasukkan informasi (gagasan) Felix Siauw ke dalam diskusi kelompok besarnya (yang mungkin jauh atau malah berlawanan secara ideologis dengan Felix Siauw). Dari situ kemudian jejaring sang tokoh semakin meluas dan membesar.

#SNA #Bridging #Betweenness #Centrality