15 April 2007

Marxisme (2)

Riwayat Pendidikan Marx

Penyair yang kau cintai ?
Shakespeare, Aeschylus, Goethe
Penulis prosa yang dicintai ?
Diderot
Pekerjaan yang kau cintai ?
menyelinap ke dalam buku !

(Pengakuan Karl Marx
[1])


Setelah lulus dari gymnasium, di Trier, Karl Marx diminta oleh ayahnya untuk melanjutkan studi ke jurusan hukum. Dengan harapan agar Marx dapat mengikuti jejak ayahnya sebagai notaris. Namun Marx berkata lain, ternyata Ia lebih terpanggil jiwanya untuk menjadi seorang penyair. Hingga akhirnya, ia menghamburkan uang kiriman ayahnya selama satu semester kuliah hukum di Universitas Bonn[2]. Kemudian, tanpa meminta izin pada ayahnya, Marx meninggalkan Bonn, dan pindah ke Berlin untuk memulai studi filsafatnya di Universitas Berlin. Kala itu, ia baru berusia delapan belas tahun (1836).
Ketika kuliah filsafat di Berlin, filsafat G. W. F. Hegel (filsuf dan profesor di Univ. Berlin) menjadi kajian utama disana. Meskipun Hegel sudah meninggal ketika Marx sampai di sana [3], namun semangat dan filsafatnya masih menguasai alam filosofis dan pemikiran sosial di sana. Tahun 1841, marx dipromosikan menjadi doktor filsafat oleh Universitas Jena berdasarkan sebuah desertasi tentang kajian filsafat Demokritos dan Epikuros [4]. Pada tahun yang sama, Marx menerima gelar Doktor dari Universitas Berlin, dan selanjutnya Marx berniat ingin memasuki karir akademisnya. Namun suratan takdir menentukan lain, Bruno Bauer, orang yang menjadi sponsor Marx, harus rela dipecat dari karir akademisnya. Hal ini akibat dari pandangan-pandangan Bruno Beuer yang kiri dan antiagama. Dengan demikian, tertutuplah pintu karir akademis Marx di Universitas. Namun demikian, ini bukan berarti membuat seorang karl marx berhenti “berpikir”. Dalam kondisi seperti ini, marx menerima tawaran untuk menjadi jurnalis, yang kemudian membawanya berkelana ke rimba politik, dan kelak dari proses ini, terlihat pemikiran Marx berbeda dengan pemikir-pemikir lain yang hidup mapan secara akademis dan ekonomi. Penghayatan Marx terhadap ketertindasan dan pentingnya memanusiakan manusia, akan dapat kita resapi dari setiap teori yang dibidaninya. Bagi Marx, menyelinap ke dalam buku adalah pekerjaan yang dicintainya, dan melalui perjuangan, ia memperoleh kebahagiannya !.

Masa-Masa Kuliah dan Orientasi Pemikiran Marx

Sifat utama apa yang kau miliki ?
Kesatuan tujuan
Apa yang membuat orang menjadi sengsara ?
Ketundukkan
(Pengakuan Karl Marx
[5])

Semasa kuliah hukum di Universitas Bonn, perilaku Marx memang kurang begitu terpuji. Karena Ia hanya menghabiskan uang jatah dari orang tuanya untuk dihamburkan. Maklum, mungkin akibat keterpaksaan Marx untuk studi hukum, padahal minatnya semula adalah menjadi seorang penyair. Bibit pandangan kritisnya baru nampak saat ia mengawali perjalanan kuliahnya di Universitas Berlin. Marx muda, meski masih duduk di semester dua, memiliki semangat yang tinggi untuk berdiskusi dan bergabung dengan kelompok studi. Konon, pada masa itu, Marx muda bergabung dengan Klub Para Doktor. Sebuah kelompok yang berisi para intelektual muda yang kritis dan radikal. Mereka menggunakan filsafat hegel sebagai pisau kritik yang tajam bagi pemerintahan Prusia yang kolot dan otoriter. Hingga kemudian, mereka disebut sebagai kaum “hegelian-muda”, karena menganggap Hegel sebagai bapak sekaligus Guru revolusi-nya [6] .
Melangkah lebih jauh, Klub Para Doktor, menginterpretasikan pemikiran Hegel, yang mengutamakan rasionalitas dan kebebasan, sebagai sebuah pemikiran filsafat yang ateistik. Dengan interpretasi seperti itu, mereka juga berani untuk mengkritik antiliberalisme negara dan menentang pengaruh agama protestan di Prussia. Inilah sumber yang kemudian menyebabkan mereka di cap, tidak hanya sebagai Hegelian-muda, melainkan juga berlabel “Hegelian-kiri”[7]. Aktivitas Marx selama kuliah sebagai aktivis kiri-ateistis dan radikal ini, kelak akan membangun orientasi Marx sebagai pemikir materialisme yang konsisten, kritis, radikal, dan atheis. Tetapi dibalik sebutan yang serba “mengerikan” tersebut, Marx adalah pemikir yang Humanis dan senantiasa berpikir tentang bagaiman cara agar manusia terbebas dari keterasingannya dan berdiri dalam derajat kemanusiaan manusia yang hakiki.
[1] Erich Fromn, ibid.
[2] Franz-Magnis. ibid
[3] Hegel menjadi professor di Berlin tahun 1818-1831.
[4] Franz magniz, ibid
[5] Erich Fromn, ibid.
[6] Franz magniz, ibid, hal 47
[7] Terminologi Hegelian-kiri ditujukan bagi yang menganggap pemikiran hegel bersifat ateistik, dan “Hegelian kanan” (lawannya) adalah mereka yang menganggap Hegel sebagai seorang teolog dan pendukung Negara Prussia.

No comments:

Post a Comment