21 January 2019

Fast Fashion


Oleh: Yanu Prasetyo

“Ajining raga saka busana” (manusia dinilai dari apa yang dikenakan). Setelah saya pikir-pikir, peribahasa Jawa inilah yang mungkin pertama kali memperkenalkan saya terhadap istilah “fashion”. Bahwa orang itu sebisa mungkin harus berpakaian baik dan layak. Begitu pesan orang tua saya. Tentu bukan pantas menurut diri kita sendiri. Tapi “layak” menurut lingkungan di sekitar kita. Kalau ke sekolah ya pakai seragam sekolah. Ke kantor pakai seragam kantor. Yasinan ya pakai sarung. Sepak bola ya pakai kaos. Kalau ke kantor pakai kaos atau sepak bola pakai sarung pasti dikira sedang agustusan. Tidak pantas. Kalau atasan warna terang, ya bawahan pakai warna gelap. Kalau badan agak gemuk, ya pakai baju motif garis-garis vertikal jangan yang horizontal. Nanti kelihatan makin lebar. Begitu ibu saya yang penjahit itu suka mengingatkan. Agar kita tampil lebih “fashionable” kata orang.


Tuntutan untuk tampil layak ternyata tidak berhenti pada aspek kepantasan saja. “Masak pakai baju koq sama terus tiap minggu?”. “Masak punya sepatu koq cuman satu?”. “Syahrini koq cakep banget ya pakai tas dan kaca mata itu, dimana belinya?”. Sudah tugas penjual baju untuk membisiki kita dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Kata sosiolog, baju atau apa pun materi yang kita kenakan, adalah simbol status sosial seseorang. Harga diri. Karenanya ia terus diburu hingga tangga tertinggi. Kendaraan satu, kurang. Rumah satu, tidak cukup. Nilai kepantasan saja menjadi tenggelam diganti dengan kepatuhan dalam mengikuti perkembangan. Mengikuti tren mode menjadi parameter kepuasan dan kebahagiaan.

Dulu, di Abad 17, Raja Louis XIV di Prancis pernah membuat perintah yang unik. Ia memerintahkan agar seluruh pejabat kerajaan dan juga rakyatnya untuk berganti pakaian minimal 3 kali sehari. Perintah raja adalah titah tuhan. Tidak ada yang berani menolak. Seluruh rakyat pun tunduk mengikuti. Mereka ingin mendapat simpati saja dengan berlomba berpakaian terbaik. Sang Raja pun demkian. Ia tidak mau kalah dengan rakyatnya. Ia pun menaikkan standar, model, dan bahan pakaian Raja dengan bahan-bahan termahal yang ada saat itu. Disini konon bermulanya Paris sebagai kota tren mode dunia. Dimana pakaian dan self-image bertemu dan mengunci kesadaran kita.

Apesnya, tren mode ini dari tahun ke tahun, bergerak semakin cepat. Dulu, di Barat, model fashion baru biasanya muncul di dua musim saja: Spring/Summer dan Autumn/Winter. Kini, menurut Binet dkk (2019), koleksi fashion baru mencapai 52 micro-collection per tahunnya. Artinya, hampir satu koleksi baru muncul per pekannya. Katakanlah model baru itu muncul di Paris Fashion Week hari ini, maka dalam sekejap akan segera dilirik oleh pasar “orang biasa” lainnya. Di gerai-gerai, butik-butik, pasar-pasar, hingga mall-mall di seluruh dunia. Produsen pakaian pun harus berlari kencang mengejar perubahan ini. Mereka memutar otak bagaimana bisa memproduksi pakaian yang setiap minggunya berubah model itu. Tentu harus tetap dengan harga terjangkau. Murah meriah dan terjangkau untuk orang yang suka ikut-ikutan tapi berkantong cekak. Miskin tapi banyak gaya.

Akhirnya, pabrik-pabrik dipindahkan ke negara berkembang. Ke China, Bangladesh, Kamboja, Indonesia, dan lain-lain. Di negara-negara ini orangnya banyak. Tenaga kerjanya murah. Tangannya terampil. Dan yang lebih penting, dibayar sedikit saja sudah “senang” asalkan bisa bekerja dan pakai seragam. Seperti di awal tadi, keluar rumah dengan berseragam dianggap lebih membanggakan dibanding mencangkul di sawah atau pekerjaan “tanpa seragam” lainnya. Uni Eropa saja mengimpor pakaian senilai 67.7 Milyar Euro pada tahun 2011. Dan terus naik 8% per tahunnya. China dan Bangladesh menjadi eksportir utamanya. Itu baru Eropa. Belum Amerika yang banyak artis Hollywood-nya itu.

Disinilah fast fashion menjadi bencana. Banyak buruh pabrik meninggal di tempat kerja karena kondisi pabrik tidak layak dan lembur paksa demi target produksi yang gila. Makin cepat tren baru keluar, maka makin banyak model baju yang out-dated dan tidak laku di pasaran. Facebook dan Instagram mempercepat penyebaran virus fast fashion ini. Tren mode meluas dalam hitungan detik. Persaingan bisnis pun makin keras dan mematikan. Yang gagal bertahan akan gulung tikar, frustasi, dan mati menyedihkan. DI hulu sana, limbah dan sampah tekstil terus menggunung dan membanjiri sungai-sungai. Semua demi satu hal: memuaskan hasrat kita untuk berpakain dan tampil keren di mata orang. Sudah begitu, kita pun masih bisa tersenyum dan dada-dada layaknya koruptor tahanan KPK. Jelas-jelas bersalah, tapi selalu bisa berkelit: “Saya korban. Saya dijebak”.



No comments:

Post a Comment