Showing posts with label Marx. Show all posts
Showing posts with label Marx. Show all posts

15 April 2007

Marxisme (5)

Hubungan Produksi (relation of production)

Basis atau dasar nyata, dalam terminologi Marxisme, adalah bidang produksi kehidupan material. Basis sendiri ditentukan oleh dua faktor, yaitu tenaga-tenaga produktif (produktivkrafte) dan hubungan-hubungan produksi (produktionsverhalt-nisse). Tenaga produktif adalah kekuatan yang digunakan oleh manusia untuk mengerjakan dan mengubah alam. Tiga unsur dalam tenaga produktif adalah : alat-alat kerja, manusia dengan kecakapan masing-masing dan pengalaman-pengalaman dalam produksi. Sedangkan hubungan produksi adalah hubungan kerjasama atau pembagian kerja antara manusia yang terlibat dalam proses produksi. Maksudnya adalah struktur pengorganisasian sosial produksi (Franz-Magnis Suseno, 2001:143).
Menurut Marx, hubungan-hubungan produksi itu sendiri juga ditentukan oleh perkembangan tenaga-tenaga produksi. Hubungan-hubungan tersebut juga tidak tergantung kepada kemauan orang, melainkan akibat dari tuntutan objektif produksi. Misalnya, alat-alat kerja sesungguhnya dikembangkan bukan karena menuruti selera manusia, melainkan karena tuntutan untuk terus berproduksi secara lebih efisien. Kaitannya dengan struktur sosial masyarakat, bagi Marx, kelas sosial bukanlah sesuatu yang kebetulan, melainkan ditentukan oleh tuntutan efisiensi produksi dan otomatis juga oleh perkembangan tenaga-tenaga produktif material itu sendiri.

Keterasingan/alienasi
Setelah memahami hakekat pekerjaan di atas, maka kita paham bahwasanya pekerjaan merupakan sarana realisasi diri sebagai seorang manusia. Sehingga, dalam kebebasan dan universalisme kerja, bekerja seharusnya menjadi kegiatan yang gembira, menyenangkan dan, memberikan kepuasan. Namun apa yang terjadi dalam kenyataan ? pekerjaan tidak membuat manusia merealisasikan hakekat mereka, melainkan justru membuat mereka terasing/teralienasi. Pekerjaan dalam era industri modern, dengan mekanisasi dan teknologi canggih yang dipakainya, telah membawa manusia pada keterasingan akan dirinya sendiri, dengan produk buatannya, dan tentu saja dengan lingkungan dan dunia sosialnya.
Sebagai contoh buruh yang bekerja di pabrik, mereka bekerja sesuai dengan jadwal yang sudah diatur oleh majikan, kemudian mereka bekerja untuk membuat sesuatu barang yang sama dalam jumlah yang besar. Hal yang dilakukannya bersifat monoton dan berulang-ulang setiap harinya. Dengan demikian, buruh merupakan contoh orang yang bekerja dengan terpaksa. Hasil kerjanya tidak bisa lagi menjadi representasi dari si buruh. Si buruh tidak akan pernah merasa bangga dengan karya ciptaannya. Karena ia hanya membuat sebagian kecil dari produk sebenarnya. Misalnya, pabrik pembuat sepatu, mungkin seorang buruh hanya bekerja membuat sol sepatu saja sepanjang hari. Tanpa berhak membuat bagian lain, seperti lubang tali, cap merk, dan sebagainya. Dengan demikian, sang buruh terasing dengan produknya. Bahkan ia tidak pernah merasa, bahwa sepatu yang sudah jadi dan dijual dari pabrik itu adalah hasil karyanya. Tidak ada kepuasan. Sebab dia hanya menjadi bagian kecil dari sistem produksi raksasa itu. Dengan demikian, bekerja menjadi kehilangan arti di mata para buruh (terasing dengan pekerjaannya).
Dalam spesialisasi pekerjaan tersebut, dimana setiap orang mengerjakan satu hal saja, membuat seseorang tidak mampu lagi untuk bertindak bebas dan universal. Pemahaman yang kemudian terbentuk adalah, bahwa ia bekerja untuk sekedar mendapatkan upah darii pekerjaannya. Dalam pekerjaannya, manusia tidak mengembangkan diri, tetapi justru memiskinkan diri. Inilah bentuk keterasingan manusia terhadap pekerjaannya.
Konsekuensi langsung dari berbagai keterasingan manusia dari hakekatnya di atas adalah keterasingan manusia dari manusia lainnya. Pekerjaan upahan menyebabkan keterasingan manusia terhadap sesamanya. Hal ini sebagai akibat, hilangnya fungsi sosial dari pekerjaan. Kelas pekerja (buruh) harus terasing dari kelas pemilik (majikan) akibat kepentingan objektif mereka yang berbeda satu sama lain. Pemiliki menginginkan profit sebesar-besarnya dengan meminimalisir upah buruh. Sedangkan buruh, juga berlomba mendapatkan upah dan fasilitas yang layak dari hasil kerjanya. Tidak hanya buruh terasing dari majikan, namun buruh juga terasing dengan buruh lainnya, dan majikan terasing dengan majikan lainnya. Hal ini disebabkan karena munculnya kompetisi atau persaingan. Antar buruh terasing karena saling bersaing dalam bekerja dan mendapatkan upah. Ditambah spesialisasi kerja dan konsentrasi hanya pada satu hal, menyebabkan interaksi sosial antar buruh juga terhambat.
Penanda dari keterasingan manusia dari hakekatnya yang paling jelas adalah kekuasaan ‘uang’. Dimana orang hidup dan bekerja untuk mecari uang. Uang mampu memenuhi kebutuhan manusia, meskipun uang hanya alat tukar yang tidak lebih mahal dari barang aslinya. Orang menjadi sangat egois dan melupakan hakekat bahwa eksistensinya sebagai manusia diakui dengan cara menyenangkan dan bermanfaat dari orang lain. Namun, bersamaan dengan keterasingan manusia terhadap manusia lain, maka fungsi sosial dari pekerjaan itu juga ikut terasing.
Teori Tentang Nilai lebih
Marx membicarakan teori tentang nilai lebih dengan terlebih dahulu membahas teori tentang pekerja. Logikanya, pekerja atau buruh adalah golongan yang menjual tenaga kerjanya. Tenaga kerja itu kemudian dibeli oleh pemilik modal, dengan cara menggantinya dengan upah. Upah itu diberikan dalam bentuk uang, yang berarti tenaga seorang pekerja diukur dan ditukar dengan standar nilai uang....dst

Marxisme (4)

Hakekat Pekerjaan

“Sejarah adalah sejarah perwujudan diri manusia. Sejarah tidak lebih dari penciptaan diri manusia melalui proses bekerja dan produksi”
(Karl Marx
[1])

Manusia, menunjukkan eksistensinya melalui pekerjaannya. Dengan bekerja, manusia menjadi nyata. Sejarah kehidupan manusia berisi catatan hasil-hasil dari proses bekerja dan produksi manusia itu sendiri. Oleh karenanya, sebelum memasuki belantara pemikiran Marx yang luas, kita akan memulai dengan memahami hakekat kerja terlebih dahulu. Karena, setiap teori yang dihasilkan Marx tidak lepas dari proses produksi (kerja) manusia.
Manusia memiliki banyak sebutan, diantaranya homo socius, homo academicus, homo politicus, simbolic animal dan lain sebagainya. Intinya, manusia itu adalah makhluq ganda yang aneh. Di satu pihak, manusia sebagai makhluq alami, ia membutuhkan alam untuk hidup. Namun di pihak lain, alam itu hadir sebagai sesuatu yang asing bagi manusia. Sehingga, manusia harus menaklukkan alam itu sendiri untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Hal ini tentu berbeda dengan binatang yang ketika hidup langsung cocok dan dapat memanfaatkan alam tersebut. Meskipun, dalam kerjanya, binatang lebih dituntun oleh desakan naluri. Dalam menaklukkan alam tersebut, manusia bekerja dengan bebas dan universal. Bebas, maksudnya ia dapat bekerja tanpa terdesak kebutuhan yang segera, misalnya manusia membuat makanan tidak hanya karena ia lapar, namun bisa juga untuk dijual, dipamerkan dalam pesta, sebagai hiasan, atau dimakan sendiri. Universal berarti manusia mengunakan berbgai cara untuk mencapai tujuan yang sama. Bentuk rumah laba-laba dari tahun ke tahun, abad ke abad akan tetap seperti itu. Namun, manusia mampu membuat rumah dari kayu, batu, bata, atau semen, dan merangkainya dengan indah sesuai selera estetika dan kebebasannya menjadi bentuk yang berbeda-beda. Inilah yang membedakan manusia dari binatang, dan menjadikannya makhluq yang khas. Bekerja berarti bahwa manusia mengambil bentuk alami dari objek alami dan memberikan objeknya sendiri. Dan pekerjaan itu sendiri adalah hakekat manusia.
Dengan bekerja, manusia mengobjektivasikan diri ke dalam alam. Secara sederhana, manusia dapat melihat dirinya melalui hasil kerjanya. Seperti seniman (pekerjaan yang dikagumi Marx) pembuat patung, ia membuktikan diri sebagai seniman melalui hasil patung buatannya. Sebab apa yang ada di kepalanya, kini telah menjadi nyata dalam bentuk patung pahatan tangannya. Dan dengan itu, ia mendapat petunjuk dan kepastian tentang bakat dan siapa dirinya. Fungsi lainnya, pekerjaan memiliki dimensi historis yang mampu membuktikan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Orang akan senang dan puas ketika hasil pekerjaannya dibutuhkan dan bermanfaat bagi orang lain. Dari rasa dibutuhkan inilah, kita merasa diakui sebagai layaknya manusia. Dalam sebuah kalimat yang singkat, Marx menjelaskan bahwa melalui kegiatan individualku, aku langsung membenarkan dan merealisasikan hakekatku yang benar, kemanusiaanku, dan kesosialanku [2].
[1] Erich Fromn, ibid.hal 35
[2] Franz-Magnis. Ibid. hal 94

Marxisme (3)

Guru-Guru Karl Marx

“Ilmu harus diburu untuk ilmu itu sendiri. Ilmu tidalk boleh menjadi kesenangan untuk diri sendiri. Orang-orang yang memiliki nasib baik untuk terjun dalam pencarian ilmu, pertama-tama harus menempatkan pengetahuannya demi kepentingan kemanusiaan. BEKERJA DEMI KEMANUSIAAN !”

(Karl Marx)


Satu hal yang sangat mengesankan dari Karl marx, setiap kali dia menulis dan menuangkan pemikiran ke dalam berbagai karyanya (khususnya Das Capital), dia selalu menyertakan nama orang yang pendapatnya telah ia kutip, di dalam kurung setelah kutipan. Sekecil dan sesederhana apapun pendapat itu. Akibatnya, tulisan Marx kurang enak dibaca dan membingungkan bagi sebagian pihak, saking banyaknya kutipan yang ia tuliskan. Para kritikus Marx menyebut marx sebagai penulis yang narsis. Namun demikian, hal ini telah menunjukkan setidaknya dua hal pada kita, yakni betapa banyak dan luas buku-buku ilmu pengetahuan yang dibaca oleh Karl Marx. Dan kedua, betapa tinggi penghargaan Marx terhadap orang yang pertama kali mengatakan tentang ‘ini’ atau tentang ‘itu’, sehingga harus diabadikan dalam setiap tulisannya.
Dengan demikian, sesungguhnya sangat sulit untuk menemukan siapa saja yang termasuk sebagai guru Marx ?. mungkin karena terlalu banyaknya disiplin ilmu yang ia pelajari (dari filsafat, ekonomi, hukum, sastra, psikologi, sosiologi, dan sebagainya). Namun demikian, ada beberapa pemikir pendahulunya yang benar-benar mempengaruhi marx secara filosofis maupun teoritis. Sebelum dilanjutkan, perlu dipahami, bahwa konsep ‘guru’ di sini bukan berarti orang yang secara langsung bertatap muka dan mengajari marx tentang sesuatu hal, melainkan ‘guru’ disini adalah para tokoh yang pemikirannya dianut, dikritisi, dan bahkan ditentang oleh Marx, yang kemudian mempengaruhi hasil ‘ijtihad’ Marx sebagai pemikir dan teoritisi sosial. Ini adalah sedikit dari guru marx yang banyak itu.

G. W.F. Hegel (1770-1831)
Georg Wilhelm Friederich Hegel lahir sebagai anak pertama dari tiga bersaudara yang berasal dari keluarga menengah yang tinggal di Stuttgard, Jerman bagian selatan. Ayahnya hanya seorang pegawai rendahan, namun ibunya mengenyak pendidikan yang cukup tinggi untuk ukuran wanita saat itu. Pendidikannya dimulai dari gymnasium Stuttgard, kemudian ke seminari terkenal di universitas tubingen (1788). Ia pernah menjadi pengajar yang tidak pernah digaji di Universitas Jena. Namun, dalam kehidupannya kemudian, ia menjadi seorang filsuf Jerman yang dikenal dengan sebutan ‘bapak idealisme modern’. Salah satu bunyi gagasan utamanya adalah, bahwa “yang nyata adalah rasional, dan karena itu yang rasional adalah satu-satunya yang nyata” [1]. Untuk mengukuhkan tesis ini, Hegel Muda menuangkannya ke dalam The Phenomenology of Spirit (1807), yang berisi konstruksi Hegel terhadap proses-proses kesejarahan manusia, untuk kemudian berusaha meninggalkan kungkungan dogma dan tradisi sejarah yang beku yang selama ini ditafsirkan oleh kristen tradisional, menuju pada sebuah sistem yang rasional.
Bagi Hegel, mengetahui adalah dimana subjek yang mengetahui dan subjek yang diketahui saling mengembangkan, sehingga tidak pernah sama atau selesai. Apa yang hari ini disepakati sebagai pengetahuan, hari esok akan dilengkapi dan disempurnakan, dan penyempurnaan pengetahuan ini melalui proses negasi (penyangkalan). Ciri penyangkalan dialektis itulah, yang kemudian dikenal dengan dialektika (triadik, atau dalam bahasa jerman disebut aufheben). Intinya, pengetahuan adalah sebuah on going process. Hegel menyimpulkan, bahwa pengetahuan manusia itu berkembang dan bertambah secara dialektis, hal ini ditulisnya dalam Phenomenology of Mind. Dialektika pengetahuan tersebut berjalan terus menerus, hingga sampai pada suatu titik akhir (kesadaran dialektika total), yang disebut sebagai pengetahuan absolut. Sampai pada titik inilah, kemudian Marx, seorang pengagum Hegel, mulai berpikir kritis. Ketika filsafat (di tangan Hegel) sudah mencapai pengetahuan absolut, lalu bagaimana selanjutnya ?. pertanyaan inilah yang kemudian menuntun Marx berdialektika untuk menyempurnakannya. Rumusan sementaranya, Filsafat pasca Hegel, harus menjadi Praktis (praxis) !.
L. Feurbach ( 1804-1872)
Ludwig Feuerbach terkenal dengan manuscript utamanya, Das Wesen das Christentums (Hakekat agama Kristiani). Dari karyanya inilah lahir kritik agama dari Feuerbach. Semula, Feuerbach ingin menjadi pendeta protestan, namun setelah dia mengikuti kuliah-kuliah Hegel, dia justru berbalik menjadi seorang atheis yang radikal. Dia menyangkal filsafat Hegel yang menyatakan, bahwasanya dalam kesadaran manusia, Tuhan mengungkapkan dirinya. Kita merasa berkehendak dan bertindak menurut selera kita, tetapi sebenarnya di belakang kehendak dan tindakan kita tersebut ada “Roh semesta” di belakangnya yang menggapai tujuannya. Feuerbach menyerang gagasan Hegel ini. Menurut Feuerbach, seolah-olah Hegel mengatakan bahwa yang nyata adalah Tuhan (yang tidak kelihatan) dan manusia hanyalah seperti wayang yang begitu saja digerakkan. Jelas ini melanggar logika rasionalitas. Bahwa yang sesungguhnya nyata adalah manusia, bukan Tuhan. Tuhan yang ada dalam pikiran manusia, bukan manusia yang ada dalam pikiran Tuhan. Lebih jelas, Tuhan ciptaan manusia, bukan manusia ciptaan Tuhan !
Sebaiknya anda jangan tercengang terlebih dahulu, Agama dimata Feurbach, juga memiliki sisi positif. Yakni agama mampu menjadi alat proyeksi diri dan hakekat manusia. Dengan agama, manusia mampu melihat siapa dirinya, bahwa ia makhluk yang kreatof, penyayang, baik, berbelas kasih, dan sebagainya. Tetapi celakanya, ia justru lupa bahwa proyeksi itu adalah gambaran dirinya sendiri. Seperti pelukis yang melukis angan-angannya ke dalam kanvas, setelah jadi, ia terlalu mengagumi karyanya, dan lupa bahwa itu adalah hasil karyanya sendiri...bahkan ia sampai menyembah dan mengharapkan berkah dari ciptaannya itu sendiri. Begitulah kira-kira interpretasi dari kritik agama Feuerbach. Kesimpulannya, manusia hanya dapat mengakhiri keterasingan itu dengan meniadakan agama dan menjadi dirinya sendiri. Bukan Tuhan yang maha kuat dan adil, melainkan manusia yang seharusnya bisa menjadi kuat dan adil. Kritik terhadap agama akan reda ketika muncul ide bahwa manusia adalah makhluk paling tinggi.
Filsafat materialisme semacam inilah, yang kemudian memberi semangat dan membakar Marx untuk menemukan cara pandang lain terhadap filsafat hegel, dan tentang persoalan dunia pada umumnya. Dengan mengambil dialektika Hegel dan Materialisme Feuerbach itulah, seluruh teori marx tentang kerja dan produksi manusia menemukan landasannya.
[1] T. Z. lavine. 2003. Hegel :revolusi dalam Pemikiran. T. Z. lavine. Yogyakarta : Jendela, hal v

Marxisme (2)

Riwayat Pendidikan Marx

Penyair yang kau cintai ?
Shakespeare, Aeschylus, Goethe
Penulis prosa yang dicintai ?
Diderot
Pekerjaan yang kau cintai ?
menyelinap ke dalam buku !

(Pengakuan Karl Marx
[1])


Setelah lulus dari gymnasium, di Trier, Karl Marx diminta oleh ayahnya untuk melanjutkan studi ke jurusan hukum. Dengan harapan agar Marx dapat mengikuti jejak ayahnya sebagai notaris. Namun Marx berkata lain, ternyata Ia lebih terpanggil jiwanya untuk menjadi seorang penyair. Hingga akhirnya, ia menghamburkan uang kiriman ayahnya selama satu semester kuliah hukum di Universitas Bonn[2]. Kemudian, tanpa meminta izin pada ayahnya, Marx meninggalkan Bonn, dan pindah ke Berlin untuk memulai studi filsafatnya di Universitas Berlin. Kala itu, ia baru berusia delapan belas tahun (1836).
Ketika kuliah filsafat di Berlin, filsafat G. W. F. Hegel (filsuf dan profesor di Univ. Berlin) menjadi kajian utama disana. Meskipun Hegel sudah meninggal ketika Marx sampai di sana [3], namun semangat dan filsafatnya masih menguasai alam filosofis dan pemikiran sosial di sana. Tahun 1841, marx dipromosikan menjadi doktor filsafat oleh Universitas Jena berdasarkan sebuah desertasi tentang kajian filsafat Demokritos dan Epikuros [4]. Pada tahun yang sama, Marx menerima gelar Doktor dari Universitas Berlin, dan selanjutnya Marx berniat ingin memasuki karir akademisnya. Namun suratan takdir menentukan lain, Bruno Bauer, orang yang menjadi sponsor Marx, harus rela dipecat dari karir akademisnya. Hal ini akibat dari pandangan-pandangan Bruno Beuer yang kiri dan antiagama. Dengan demikian, tertutuplah pintu karir akademis Marx di Universitas. Namun demikian, ini bukan berarti membuat seorang karl marx berhenti “berpikir”. Dalam kondisi seperti ini, marx menerima tawaran untuk menjadi jurnalis, yang kemudian membawanya berkelana ke rimba politik, dan kelak dari proses ini, terlihat pemikiran Marx berbeda dengan pemikir-pemikir lain yang hidup mapan secara akademis dan ekonomi. Penghayatan Marx terhadap ketertindasan dan pentingnya memanusiakan manusia, akan dapat kita resapi dari setiap teori yang dibidaninya. Bagi Marx, menyelinap ke dalam buku adalah pekerjaan yang dicintainya, dan melalui perjuangan, ia memperoleh kebahagiannya !.

Masa-Masa Kuliah dan Orientasi Pemikiran Marx

Sifat utama apa yang kau miliki ?
Kesatuan tujuan
Apa yang membuat orang menjadi sengsara ?
Ketundukkan
(Pengakuan Karl Marx
[5])

Semasa kuliah hukum di Universitas Bonn, perilaku Marx memang kurang begitu terpuji. Karena Ia hanya menghabiskan uang jatah dari orang tuanya untuk dihamburkan. Maklum, mungkin akibat keterpaksaan Marx untuk studi hukum, padahal minatnya semula adalah menjadi seorang penyair. Bibit pandangan kritisnya baru nampak saat ia mengawali perjalanan kuliahnya di Universitas Berlin. Marx muda, meski masih duduk di semester dua, memiliki semangat yang tinggi untuk berdiskusi dan bergabung dengan kelompok studi. Konon, pada masa itu, Marx muda bergabung dengan Klub Para Doktor. Sebuah kelompok yang berisi para intelektual muda yang kritis dan radikal. Mereka menggunakan filsafat hegel sebagai pisau kritik yang tajam bagi pemerintahan Prusia yang kolot dan otoriter. Hingga kemudian, mereka disebut sebagai kaum “hegelian-muda”, karena menganggap Hegel sebagai bapak sekaligus Guru revolusi-nya [6] .
Melangkah lebih jauh, Klub Para Doktor, menginterpretasikan pemikiran Hegel, yang mengutamakan rasionalitas dan kebebasan, sebagai sebuah pemikiran filsafat yang ateistik. Dengan interpretasi seperti itu, mereka juga berani untuk mengkritik antiliberalisme negara dan menentang pengaruh agama protestan di Prussia. Inilah sumber yang kemudian menyebabkan mereka di cap, tidak hanya sebagai Hegelian-muda, melainkan juga berlabel “Hegelian-kiri”[7]. Aktivitas Marx selama kuliah sebagai aktivis kiri-ateistis dan radikal ini, kelak akan membangun orientasi Marx sebagai pemikir materialisme yang konsisten, kritis, radikal, dan atheis. Tetapi dibalik sebutan yang serba “mengerikan” tersebut, Marx adalah pemikir yang Humanis dan senantiasa berpikir tentang bagaiman cara agar manusia terbebas dari keterasingannya dan berdiri dalam derajat kemanusiaan manusia yang hakiki.
[1] Erich Fromn, ibid.
[2] Franz-Magnis. ibid
[3] Hegel menjadi professor di Berlin tahun 1818-1831.
[4] Franz magniz, ibid
[5] Erich Fromn, ibid.
[6] Franz magniz, ibid, hal 47
[7] Terminologi Hegelian-kiri ditujukan bagi yang menganggap pemikiran hegel bersifat ateistik, dan “Hegelian kanan” (lawannya) adalah mereka yang menganggap Hegel sebagai seorang teolog dan pendukung Negara Prussia.

Marxisme (1)

Life Story seorang Karl Marx

By : e-Ndar

Kebenaran pada manusia yang kau cintai ?
kekuatannya
Kebenaran pada perempuan yang kau cintai ?
kelemahannya
Pandanganmu tentang kebahagiaan ?
Berjuang !

(Pengakuan Karl Marx
[1])

Karl Marx lahir di Trier, Prusia, tanggal 5 mei 1818. Ia terlahir dalam keluarga Yahudi [2] (sebuah etnis yang pada masa itu terkenal dengan julukan ‘bangsa tanpa negara’ ). Ibunya bernama Henrietta, dan ayahnya, Heinrich, adalah seorang pengacara. Meskipun sejak lahir beragama yahudi, namun karena alasan bisnis, Heinrich kemudian menganut agama protestan dan masuk gereja Lutherian. Lebih jelas, dalam buku Teori Sosiologi Klasik dan Modern, dijelaskan ke-murtad-an Heinrich adalah akibat kondisi sosial politik saat itu yang dianggap mengancam karirnya sebagai pengacara keturunan Yahudi[3],. Kemungkinan lain, alasan perpindahan agama Ayah Marx tersebut, adalah karena Ia ingin menjadi seorang pegawai negeri, tepatnya notaris, di Prussia yang berhalauan kristen protestan. Indikasinya, bahwa hampir mayoritas penduduk kota trier, tempat kelahirannya, adalah beragama katolik [4], namun dia justru memilih masuk protestan.
Dari bebagai penjelasan diatas, yang terpenting untuk kita petik adalah tumbuhnya penanaman nilai sekuler dalam keluarga Marx kecil. Mereka meyakini, bahwasanya kepercayaan-kepercayaan agama tidak memberikan pengaruh paling penting terhadap perilaku. Namun justru pilihan terhadap suatu kepercayaan agama itulah yang menunjukkan faktor-faktor sosial ekonomi yang mendasar. Dengan kondisi seperti itu, maka wajar jika kemudian Marx tidak terlalu berminat terhadap agama, dan dia terus tumbuh dalam alam pemikiran yang sekuler dan rasional.
[1] Digubah sedikit tanpa mengubah substansi dari Erich Fromn. 2004. Konsepsi Manusia Menurut Marx. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, hal 289
[2] George ritzer & Douglas J. Goodman. 2004. teori Sosiologi Modern. Jakarta : kencana, hal 32
[3] Doyle Paul Johnson. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta : PT. Gramedia, hal 122
[4] Franz-magnis Suseno. 2001. Pemikiran Karl Marx : dari Sosialisme utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta : PT. Gramedia, hal 46