16 April 2007

Artikel (2) Roh-Roh Yang Harus DIbangkitkan

Roh-Roh yang Harus Dibangkitkan !
(kiat sebelum menjadi seorang Penulis)
By : Yanu Endar Prasetyo

Dahulu, persepsi masyarakat terhadap orang pintar adalah seseorang yang jago matematika atau fisika. Orang pintar juga diidentikkan dengan kaca mata tebal, kutu buku, rapi, dan seseorang yang sulit bergaul. Lebih dikotomis lagi, orang eksak dipandang lebih pintar dari orang sosial. Namun hari ini, persepsi masyarakat tersebut sedikit-sedikit mulai berubah. Orang pintar adalah orang yang pandai berbicara di depan publik dan .bisa menulis.

Ada fenomena menarik perihal apresiasi masyarakat terhadap buku, tulisan, dan seorang penulis. Hal ini dapat kita lihat dari perkembangan terakhir dunia tulis menulis dan penerbitan saat ini. Tengoklah berbagai etalase di toko-toko buku yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Dari ratusan buku yang dipajang di sana, sebagian besar ditulis oleh orang-orang dengan latar belakang dan basic keilmuan yang beraneka ragam. Namun dari keanekaragaman tersebut dapat dilihat kecenderungan buku-buku – baik fiksi maupun non fiksi - dengan tema sosial ternyata lebih diminati pembaca dan menjadi trend best seller dalam dunia penerbitan.
Dari buku berlatar realitas sosial tersebut, ada dua kecenderungan tema yang saat ini menjadi trend untuk dinikmati pembaca. Yakni, buku yang bertema “How to….” Dan buku yang mengeksplorasi dengan “berani” permasalahan-permasalahan seksualitas. Menjamurnya buku-buku “How to…” atau buku motivasi menjadi fenomena sosiologis yang menarik untuk dikaji. JIka pada era 70-an, nama DR. Dale Carnegie (penulis buku “How to win friends and influence people”.1979) adalah satu dari sedikit penulis motivasi yang dikenal dengan taraf internasional. Maka di millennium ini, ada puluhan bahkan ratusan penulis best seller buku-buku how to yang sekaliber, bahkan lebih sukses dari karya Dr. Dale Carnegie.
Taruhlah nama-nama seperti Mark Victor Hansen dan Jack Canfield penulis buku Serial Chicken Soup yang laku 80 juta copy di seluruh dunia. Robert G Allen - Penulis Buku “One Minute Millionare “, Jay Abraham yang memiliki julukan “Six Million Dollar Man”, Steven R Covey, Anthony Robbins, atau DR. Aidh Al’Qorny (La Tahzan) serta sederetan nama-nama lainnya. Mereka adalah penulis Kaliber dunia yang sukses dengan tulisannya. Di dalam negeri kita mendengar dan membaca karya Ari Ginanjar, Aa Gym, Anand Khrisna, Nurudin, dan penulis buku-buku motivasi lain yang karyanya laris bak kacang goreng.
Virus “how to..” tidak hanya merebak dalam karya-karya untuk umum, peminat manajemen, maupun para “entrepreneur pemula”, melainkan juga menjangkiti penulis-penulis dengan karya yang berlatar agama. Buku-buku dan novel konsumsi remaja muslim – yang sekarang sedang trend - mempersuasi pembacanya untuk menjadi umat yang taat dengan ajakan dan motivasi yang lebih simple, dekat dengan “pasar”, dan berisi tuntunan-tuntunan praktis. Kapasitas (kemampuan) keagamaan seseorang (penulis) menjadi nomor sekian. Semua orang berhak untuk menulis dan mengajak.
Di bidang sastra, apresiasi masyarakat juga mengalami pergeseran. Mulai muncul penghargaan terhadap karya-karya yang berlatar budaya entik. Karya seperti Ronggeng Dukuh paruk (Ahmad Tohari), Saman (ayu Utami), dan karya sejenisnya mulai duduk setara dengan karya yang berlatar metropolis. Serta munculnya buku-buku “berani” yang menyingkap sisi-sisi seksualitas manusia dan sesuatu yang-“tabu” dalam masyarakat. Baik karya yang berupa bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan, diskriminasi, dan kemunafikan, maupun sekedar diskripsi terhadap realitas yang tersembunyi. Dalam hal ini, penulis seperti Moammar Emka (Jakarta undercover), Iip Wijanarko, Ayu Utami, Luqman Hakim (Jack & Sufi) dan kawan-kawan berada di dalamnya.

*****
Kembali kepada orang pintar. Melihat kesuksesan para penulis “how to..” di atas tentu menggoda banyak pihak untuk belajar atau bercita-cita menjadi seorang penulis. Karena mungkin menulis bukan saja dapat mencapai kepuasan batin, melainkan juga memungknkan untuk memperoleh ketenaran, dan tentunya “uang”. Atau jangan – jangan sekarang kita sudah termasuk golongan tersebut ?.
Menulis bagi sebagian orang adalah sebuah cara untuk berbicara kepada orang lain. Belajar dari para penulis di atas, menulis bisa jadi menjadi satu pilihan di antara banyak pilihan dalam hidup. Di balik itu semua, menulis juga dapat menjadikan kita kaya. Baik kaya batin, kaya wawasan, kaya spiritual, maupun kaya secara ekonomi.
Dalam sebuah acara bedah buku berjudul “membangkitkan roh menulis artikel” karya penulis Nurudin (12 /05/2005) di sebuah kampus negeri di Surakarta. Dari lontaran pertanyaan peserta, terungkap berbagai kesulitan yang dihadapi seseorang yang sedang belajar menulis. Kesulitan tersebut memang bersifat umum. Misalnya seperti tidak mampu menuangkan ide dalam bentuk kata-kata, kalau tidak terpaksa tidak bisa menulis (bad mood), tidak punya keberanian untuk mendeklarasikan karya pada orang lain, baru bisa menjiplak dan sebagainya.
Dari berbagai permasalah tersebut, sebenarnya ada tiga hal penting sebelum menjadi penulis.. yaitu, bagaimana membangkitkan roh membaca ? membangkitkan roh percaya diri ? dan membangkitkan roh menulis ?. Di dalam diri kita, potensi-potensi tersebut mungkin masih tertidur. Atau mungkin selama ini sengaja kita tidurkan. Dan jika kita memutuskan untuk berhasil menjadi seorang penulis, maka kesadaran tersebut harus dimunculkan kembali. Roh (spirit) itu harus dibangkitkan, sekarang atau tidak sama sekali!.

Membangkitkan Roh Membaca
Filsafat Kendi (begitu Nurudin menyebutnya), atau teori kendi menjadi patut direnungkan bagi setiap orang yang akan memulai menjadi penulis. Artinya, bahwa penulis harus memiliki wawasan yang luas dan memadai sebelum menulis. Dengan kata lain, otak dan pengetahuan penulis harus diisi terlebih dahulu. Seperti kendi yang tidak akan mengeluarkan air jika tidak pernah diisi air. Bagi seorang penulis, air tersebut adalah wawasan, pengetahuan, dan pengalaman.
Sebagian penulis terkenal, menggunakan pola yang linier untuk sampai menjadi seorang penulis sesungguhnya. Mereka selalu mengawalinya dengan membaca. Semakin banyak membaca, maka semakin berkualitas dan “berisi” tulisan penulis tersebut. Bagi mereka mambaca merupakan cara mengasah pikiran, memacu imajinasi, dan memperkaya batin.
Membaca sendiri ada dua, membaca teks dan membaca fenomena. Untuk yang pertama, dalam mengelola kebiasaan membaca teks ini, setiap penulis memiliki style tersendiri. Ada yang melahap seluruh bacaan yang ada. Ada pula yang memilih kategori buku tertentu untuk dibaca. Para penulis dan tokoh pemikir besar seperti……..memenuhi hidup dan kehidupannya dengan membaca.
Namun demikian, ada pula penulis lain yang khawatir terhadap kebiasaan over reading ini. Terlalu banyak membaca menjadikan orang sangat bergantung pada bacaannya dan bahkan mungkin akan “men-Tuhan-kan” buku bacaan tersebut. Kekhawatiran lain , imajinasi penulis tidak berkembang, dan semakin sulit menemukan jati diri dan originalitas sebuah karya.
Setelah proses membaca inheren dalam kehidupan penulis, maka kualitas wawasan tersebut di ujikan kepada orang lain. Sebab sering seseorang merasa sudah cukup dengan apa yang dimiliki. Padahal, orang lain telah melampaui hal tersebut. Dan yang lebih penting lagi, perubahan di dunia ini tidak pernah berhenti, maka kemampuan seseorang seyogyanya juga harus terus menerus diasah. Cara menguji kemampuan ini biasa dilakukan seorang penulis dengan cara “berkomunitas”. Membentuk kelompok penulis, diskusi, menulis di media cetak, menerbitkan antologi bersama teman, terjun ke komunitas tertentu, dan banyak cara lain yang biasa dilakukan untuk menguji sampai dimana kualitas sebuah karya. Meskipun tidak menutup kemungkinan penulis yang asyik dan cukup dengan dunianya sendiri, tanpa perlu berkomunitas.
Ala kulli hal, membaca tetaplah menjadi kebutuhan mutlak. Sudah menjadi fitrah, manusia mampu mencapai kedudukan seperti saat ini adalah karena meniru. Secara sosiologis, manusia tidak akan mampu hidup tanpa meniru. Tidak ada ide yang benar-benar “asli” tanpa campur tangan ide orang lain atau gagasan yang terdahulu. Oleh karena itu, tindakan yang harus dilakukan sekarang adalah Membaca……, Membaca….., dan terus Membaca….!.

Membangkitkan Roh Percaya diri
Sebagaimana nasehat Ibnu Khaldun - seorang sejarawan, filsuf, dan sosiolog Islam - bahwa setiap catatan tidak pernah terbebas dari kesalahan. Antara lain disebabkan karena tujuh hal :
Pertama adalah karena pemihakan terhadap keyakinan atau pendapat …
Kedua, terlalu percaya kepada nara sumber..
Ketiga, gagal memahami apa yang dimaksudkan…
Keempat, salah dalam mempercayai kebenaran
Kelima, ketidakmampuan menempatkan suatu kejadian sesuai dengan konteks sebenarnya
Keenam, hasrat wajar untuk memperoleh penghargaan dari orang yang mempunyai posisi lebih tinggi, dengan menghikmati mereka, dengan menyebarkan popularitas mereka..
Ketujuh, - dan yang paling penting - adalah pengabaian terhadap kaidah-kaidah yang berlaku dalam perubahan sosial masyarakat (Muqaddimah)
Membaca catatan Ibnu Khaldun di atas, lantas bukan berarti mengecilkan nyali kita untuk menjadi seorang penulis. Tulisan yang baik, dengan mengikuti kriteria di atas, sebenarnya berakar kepada kedekatan sebuah karya terhadap realitas dan ketajaman renungan sang penulis. Tentu tidak ada karya yang sempurna. Apalagi bagi sebuah karya pertama, pasti jauh dari perfect. Peribahasa klasik mengatakan “jarak sepuluh kilo, seratus kilo, atau seribu kilo sekalipun, pasti diawali hanya dengan satu langkah!”. So?.
Self confidence menjadi roh kedua yang harus dibangkitkan Sebagian orang, memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain.. Proses ini memang tidak mudah dan sebentar. Banyak faktor yang kemudian menjadi kompleks mengiringi munculnya percaya diri. Namun demikian ada cara mudah untuk mengawalinya. Percaya diri, secara sederhana dapat dimulai dengan dua hal. Pertama, mengenal diri sendiri dengan baik. Dan kedua, yakin bahwa setiap manusia itu unik dan berbeda.

1 comment:

  1. Good..good...Thanks 4 your motivation, Yanu !
    btw, ntar kalo roh-roh pada bangkit, kuburannya sepi donk hehehe...:)

    ReplyDelete