My Research & Publications

10 November 2010

Riset Mini (1) : Tentang Rokok Merokok

"Ini Sedikit Latar Belakang Riset Mini, Kawan, bukan Rok Mini"


Dalam buku berjudul “Kretek : Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota” (Topatimasang dkk, 2010:ix) menjelaskan dengan panjang dan mendalam terkait sejarah dan sumbangsih  industri rokok terhadap perekonomian bangsa Indonesia. Diungkapkan pula bahwa meskipun Industri rokok adalah penyumbang cukai terbesar (Rp. 57 triliun Th. 2008) dan menjadi salah satu industri yang mampu bertahan dari berbagai goncangan krisis, tetap saja banyak usaha-usaha pemerintah yang bertujuan untuk membatasi perkembangan industri ini. Ada tiga propaganda yang selama ini selalu didengung-dengungkan untuk melawan produksi rokok di Indonesia yaitu : rokok mengganggu kesehatan, fatwa haram, dan kesejahteraan semu dari industri rokok. 
Adu argumentasi dan perang wacana terkait boleh tidaknya masyarakat mengkonsumsi rokok juga terus bergulir. Contoh aktual adalah upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang membuat peraturan daerah yang melarang warga merokok di dalam gedung kantor dan fasilitas publik lainnya. Pada awalnya Pemprov DKI memperbolehkan merokok di dalam gedung asal para perokok itu berada di dalam ruang khusus merokok. Namun kemudian, peraturan itu ditingkatkan lagi dengan melarang setiap orang merokok di seluruh area dalam gedung pemerintah dan fasilitas publik lainnya serta membongkar semua ruangan khusus merokok. Dasar dari pembaharuan peraturan tersebut adalah hasil penelitian tentang kadar nikotin di 34 gedung yang dilakukan Pemprov DKI bekerjasama dengan Universitas Jhon Hopkins AS (NapzaIndonesia, 2010).

Meskipun peraturan demi peraturan telah dibuat untuk membatasi rokok, namun nampaknya belum terlalu signifikan dalam mengurangi jumlah perokok dan kebiasaan merokok di tempat umum. Bahkan peringatan bahaya rokok terhadap kesehatan (serangan jantung, gangguan kehamilan dan janin) telah jelas-jelas ditulis di setiap bungkus rokok yang beredar di Indonesia. Hal ini juga tidak membuat takut para perokok. Padahal, dari hasil penelitian Ochtia Sari dkk tentang “Emphaty and Smoking in public Areas” (2002) menunjukkan adanya korelasi negatif antara empati dan perilaku merokok di tempat umum. Artinya, responden (perokok remaja) yang memiliki tingkat empati yang rendah cenderung lebih sering merokok di tempat umum dan sebaliknya, responden yang memiliki tingkat empati yang tinggi akan semakin jarang atau menghindari merokok di tempat umum. Kenyataannya?
Menurut data WHO, jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai 65 juta jiwa dan berada di urutan ketiga terbanyak dunia setelah India dan China. Fakta ini tentu saja menjadi menarik untuk ditelusuri lebih lanjut terkait pola kebiasaan merokok orang Indonesia, alasan-alasan mereka, pilihan rokok mereka dan tentu saja sifat “bandel” mereka yang cenderung tidak mau dibatasi dan diatur. Apakah ini sekedar kecenderungan dari akibat kecanduan nikotin saja ataukah ada motivasi lain yang lebih dari itu?
Rokok itu sendiri, menurut Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Bandung, jenisnya dapat dibedakan berdasarkan kepada bahan pembungkus rokok, bahan baku/isi rokok, proses pembuatan rokok, dan penggunaan filter.
1. Rokok berdasarkan bahan pembungkus :
a.    Klobot : rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun jagung.
b.   Kawung : rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun aren.
c.    Sigaret : rokok yang bahan pembungkusnya berupa kertas
d.   Cerutu : rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun tembakau.
2. Rokok berdasarkan bahan baku atau isi :
a.   Rokok putih : rokok yang bahan baku atau isinya hanya daun tembakau dan diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.
b.  Rokok Kretek : rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau dan cengkeh yang diberi saus rasa dan aroma tertentu.
c.  Rokok Klembak : rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau, cengkeh, dan menyan yang diberi saus penambah rasa dan aroma.
3. Rokok berdasarkan proses pembuatannya :
a.    Sigaret Kretek Tangan : proses pembuatannya dengan cara digiling atau dilinting dengan menggunakan tangan atau alat bantu sederhana.
b.   Sigaret Kretek Mesin : pembuatannya menggunakan mesin. Bahan-bahan rokok dimasukkan ke dalam mesin pembuat rokok, hasilnya berupa rokok batangan. Saat ini mesin pembuat rokok telah mampu menghasilkan sekitar 6.000-8.000 batang rokok tiap menitnya. Mesin pembuat rokok, biasanya, dihubungkan dengan mesin pembungkus rokok sehingga yang dihasilkan bukan lagi berupa rokok batangan namun telah dalam bentuk pak. Ada pula mesin pembungkus rokok yang mampu menghasilkan rokok dalam pres, satu pres berisi 10 pak.
4. Rokok berdasarkan penggunaan filter :
a.   Rokok Filter : rokok yang pada bagian pangkalnya terdapat sejenis gabus sebagai upaya penyaring zat-zat yang berbahaya dalam asap rokok.
b.  Rokok Non Filter : rokok yang pada bagian pangkalnya tidak terdapat gabus.

Dari berabagai jenis rokok di atas, jenis dan istilah rokok yang paling populer di kalangan masyarakat adalah rokok putih dan rokok kretek. Perbedaannya rokok putih adalah yang murni berisi rajangan daun tembakau kering, sedangkan rokok kretek berisi campuran antara tembakau dan serbuk bunga atau biji cengkeh (Topatimasang dkk, 2010:15). Kedua jenis ini penting untuk dibedakan karena sebagian besar industri rokok dalam negeri yang menyerap jutaan tenaga kerja dan menjadi penggerak ekonomi riil adalah industri rokok kretek. Jenis rokok ini adalah yang paling banyak ditemui di seluruh pelosok nusantara dan merupakan temuan asli orang Indonesia (H. Djamhari/H. Djamsari dari Kudus) sejak abad ke 19. Industri rokok kretek juga berkembang dari usaha skala rumah tangga (2 orang pekerja dengan produksi 1000 batang/hari) hingga industri raksasa yang menyerap ribuan tenaga kerja. Nilai kultural dan historis dari rokok kretek ini entah dipahami atau tidak oleh para perokok, tetapi alasan ini menjadi dasar untuk melawan argumentasi yang setia terhadap pelarangan konsumsi rokok di Indonesia.

Lalu, Bagaimana dengan Sikap dan Perilaku para perokok aktif kita ?
Menurut Myers (1996) dalam Sarlito (1999:234) Sikap dalam psikologi sosial mengandung tiga bagian (domain) yaitu Affective (perasaan), Behaviour (perilaku) dan Cognitive (kesadaran) dan dapat disingkat ABC. Dari ketiga domain itu dapat diambil sebuah teori bahwa jika kita mampu mengetahui kognisi seseorang terhadap suatu objek sikap tertentu, kita akan dapat pula mengetahui kecenderungan perilakunya. Meskipun, menurut Triandis (1982) seringkali sikap dan perilaku ini seringkali juga tidak sesuai yang disebabkan oleh 40 faktor diluar sikap yang terpisah-pisah dan mempengaruhi perilaku.
Namun demikian, fungsi peramalan perilaku melalui sikap ini tetap menjadi penting dan menarik. Fishbein dan Ajzen (1975) mengembangkan sebuah teori dan metode untuk memperkirakan perilaku dari pengukuruan sikap. Teori ini dinamakan reasoned action karena berusaha mengungkapkan alasan (reason) dari suatu tindakan (action). Selanjutnya, niat untuk berperilaku itu ternyata ditentukan oleh dua hal, yaitu sikap (attitude) terhadap perilaku itu sendiri dan norma subjektif (subjective norms) tentang perilaku itu. Sikap terhadap perilaku ditentukan oleh dua hal juga, yaitu kepercayaan atau keyakinan (belief) tentang konsekuensi-konsekuensi dari perilaku dan evaluasi terdahap berbagai konsekuensi tersebut untuk diri subjek itu sendiri (Sarlito, 1999:245).

So What?? 

Jadi, mini riset tentang rokok kali ini akan dilakukan di kalangan mahasiswa perokok aktif terlebih dahulu (yang mudah diketahui populasinya, Sob). Lalu mencoba menjawab beberapa pertanyaan berikut :
1.      Apa saja alasan yang melatarbelakangi pemilihan jenis rokok oleh mahasiswa perokok aktif ?
2.      Apakah ada perbedaan yang signifikan antara daerah asal (desa/kota), usia, pendapatan, dan uang jajan bulanan mahasiswa perokok aktif dengan pilihan harga dan jenis rokoknya (kretek atau rokok putih)?
3.      Bagaimana pola konsumsi rokok mahasiswa perokok aktif tersebut sehari-hari?
            
dan juga akan membuktikan beberapa hipotesis berikut ini :
1.      Selera dalam memilih jenis rokok (kretek atau putih) sangat dipengaruhi oleh  tokoh panutan dan daerah asal mahasiswa perokok aktif (kota atau desa)
2.      Ada hubungan yang signifikan antara usia dan jumlah pendapatan dengan harga dan jenis rokok pilihan mahasiswa perokok aktif
3.      Tidak ada hubungan yang kuat antara pengetahuan tentang resiko merokok terhadap sikap dan perilaku merokok
Penasaran hasil penelitian selengkapnya??? 
Tenang Sob, jika sudah selesai akan segera dipublikasikan via blog ini.
Ditunggu saran dan masukannya kawans semua.
Salam


1 comment:

  1. kalok kita gag ngrokok, nanti jutaan pekerja mau makan apa?

    ReplyDelete