Showing posts with label kemiskinan. Show all posts
Showing posts with label kemiskinan. Show all posts

03 June 2013

Call for Papers : Seminar Nasional & Workshop LIPI 2013



Peningkatan Pemanfaatan Inovasi dalam Menanggulangi Kemiskinan

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
Bandung, 30 September – 1 Oktober 2013


Latar Belakang

Kemiskinan merupakan fenomena kompleks akibat dari berbagai aspek, diantaranya rendahnya produktivitas, pendapatan, upah, serta sedikitnya tabungan dan investasi. Di pedesaan penduduk miskin umumnya adalah petani subsisten yang menggantungkan kehidupan sehari-harinya pada sektor pertanian. Jumlah penduduk miskin yang bekerja sebagai petani yakni 16,56 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk miskin di perkotaan yaitu sekitar 9,87 persen. Kemiskinan di kalangan petani tampaknya diakibatkan oleh sempitnya luas lahan garapan, rendahnya kemampuan teknologi, dan keterbatasan akses terhadap informasi, terutama yang mendukung inovasi. Peningkatan produktivitas maupun nilai tambah sebetulnya dapat diperoleh dengan memanfaatkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan. Penguasaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di suatu negara telah disadari banyak pihak merupakan faktor penopang kemandirian bangsa, yang dibuktikan oleh Negara Jepang, Korea Selatan, India dan Cina. Penguasaan dan pemanfaatan iptek di negara-negara tersebut telah mengantar mereka menjadi Negara maju dan mandiri.

27 January 2012

Pengemis dan Sosialisasi Kemiskinan

Artikel ini dimuat di Harian Inilah Koran, Edisi Jumat 27 Januari 2012, halaman Aspirasi (8)

Oleh : Yanu Endar Prasetyo


Fenomena makin merebaknya pengemis di bawah umur benar-benar membuat gelisah. Saya prihatin dari dua sisi sekaligus, pertama dari makin beragamnya penyebab mereka turun ke jalan dan kedua dari dampak pembiaran (baik oleh pemerintah maupun masyarakat sendiri) terhadap fenomena ini yang sungguh sangat dahsyat dimasa mendatang. Dilihat dari aspek penyebab bertambahnya pengemis di bawah umur, nampaknya tidak lagi hanya sekedar desakan ekonomi, tetapi sudah menunjukkan indikasi kebudayaan kemiskinan yang semakin akut. Jika dahulu kita hanya melihat pengemis difabel atau lansia, maka fenomena hari ini menunjukkan sebuah potret “keluarga utuh” yang turun ke jalan. Mereka terdiri dari perempuan (sambil menggendong bayi, entah bayi sendiri, orang lain atau justru korban perdagangan manusia), anak-anak di bawah usia 15 tahun, difabel, dan lansia.