Masa depan peradaban manusia berada di Kota. Sebab, pada tahun 2030 nanti, lebih dari enam puluh persen penduduk dunia akan tinggal di perkotaan. Oleh karena itu, jika salah dalam merencanakan dan mengelola kota akan berujung pada bencana dan krisis multidimensi yang berkepanjangan. Isu-isu yang berkembang dalam pembangunan kota ini tentu saja bervariasi antar negara. Untuk negara maju seperti Amerika Serikat misalnya, isu penting saat ini adalah soal integrasi penduduk dan komunitas (akibat banjir imigran dan masalah rasial), tingginya kriminalitas (akibat bebasnya kepemilikan senjata api), dan ketimpangan ekonomi (meningkatnya pengangguran dan tunawisma). Bagi negara seperti Indonesia yang sedang bertumbuh pesat kota-kota metropolitannya, isu utama perkotaan adalah seputar kepastian rencana tata ruang (kepentingan publik versus privat, industri versus pertanian), akses dan kualitas transportasi publik, lingkungan (pengelolaan sampah, drainase, ruang terbuka hijau, banjir) serta ketimpangan ekonomi penduduk yang makin menganga.
Jika ditelusur secara sosiologis, unsur-unsur pembentuk masalah perkotaan itu pada akhirnya kembali kepada karakteristik kapital masing-masing wilayah atau negara. Flora (2013) membagi kapital ini ke dalam tujuh bentuk yang mempengaruhi perkembangan suatu wilayah menjadi urban, yaitu social capital, cultural capital, human capital, natural capital, financial capital, political capital dan built capital. Namun demikian, masalah perkotaan muncul dari perpaduan berbagai sumber daya kapital tersebut. Kompleks dan tidak sederhana untuk diuraikan, apalagi diselesaikan. Faktor sosial budaya (cultural and social capital) masyarakat menjadi sangat penting dan utama untuk digarap. Budaya ini menyangkut tata nilai, identitas, hingga gaya hidup dan perilaku sehari-hari. Memahami budaya masyarakat perkotaan ini menjadi kunci untuk memilih pendekatan pembangunan kota yang tepat. Dengan memahami budaya ini pula isu-isu sensitif seputar penataan kota, kebersihan sungai, penggurusan, pemukiman, pusat bisnis, ruang terbuka hijau, kawasan industri, kemacetan dan lain-lain diharapkan dapat dilakukan secara lebih humanis dan beradab.



















