Oleh : Yanu Endar Prasetyo
(artikel versi lengkap)
Keluarga Mang Djaja (55 tahun) baru saja menyelenggarakan pesta hajatan pernikahan putrinya yang kedua. Putrinya itu berumur 18 tahun dan baru saja lulus
SMK. Bagi Mang Djaja dan keluarga, menyelenggarakan pesta pernikahan merupakan sebuah kewajiban. Sebab, sesuai tradisi di
Sunda – dan masyarakat Jawa – pada umumnya, pihak perempuan adalah tuan rumah
utama dalam upacara pernikahan. Sedangkan pesta di keluarga laki-laki sifatnya
opsional, boleh ada boleh tidak.
Dalam
menyelenggarakan hajat tersebut, Mang Djaja dan keluarga telah terlibat dalam
sistem “gantangan” atau “gintingan”. Menurut Mang Djaja, sistem gantangan
ini belum lama masuk ke desanya. Pada waktu Mang Djaja masih kecil, sistem
gantangan ini belum muncul, yang ada adalah tradisi nyumbang dan gotong royong
biasa. Namun, dua puluh tahun terakhir, sejak kampung Cicadas mulai ramai oleh
pendatang dari daerah
utara Subang, tradisi gantangan
ini mulai marak. Lambat laun, penduduk asli di kampung
ini pun terbawa dalam sistem gantangan ini.
Sebagai sebuah
keluarga yang “pas-pasan” secara ekonomi, Mang Djaja dapat menyelenggarakan
pesta hajat pernikahan ini melalui modal bantuan dari
saudara-saudaranya yang masih tinggal berdekatan di kampung itu juga. Dari
modal pinjaman
yang terkumpul, Mang Djaja mengundang 300-an orang. Menurutnya,
undangan sebanyak itu termasuk kategori “kecil” untuk sebuah pesta pernikahan.
Dibandingkan dengan tetangga atau keluarga lain yang biasanya menyebarkan lebih
dari 500 undangan. Dengan modal yang ada Mang Djaja pun “hanya”
mampu menyewa organ tunggal sebagai hiburan dalam pesta. Mengingat, hiburan atau kesenian yang disewa ketika
hajatan ini adalah simbol dari status sosial empunya hajat. Semakin meriah dan mewah hiburannya, maka semakin
tinggi prestise keluarga tersebut.
Berbeda dengan Pak Djaja Menurut
Pak Yayan
(50 tahun)
yang tinggal di desa Padamulya, Kec. Cipunagara, tradisi gantangan sudah ada sejak ia kecil. Tradisi gantangan ini semakin berkembang dan
meluas sampai sekarang. Menurutnya, tradisi gantangan ini merupakan simbol
“pengikat” dan tanda “gotong royong” sesama
warga kampung. Jika ada diantara warga yang tidak
ikut tradisi ini, maka tetangga yang lain akan enggan untuk menolong keluarga
itu jika suatu
saat mereka membutuhkan
(membangun rumah, menikahkan anak, kematian, dll).
Tradisi
Gantangan di desa Padamulya pada umumnya diselenggarakan ketika musim panen
padi tiba. Mereka akan menunggu musim panen ini untuk “narik” gantangan, sehingga warga desa tidak akan kesulitan untuk
menyumbang atau membayar hutang-hutang mereka. Berbeda dengan di desa lain yang
mulai tidak mengenal waktu. Panen atau tidak panen mereka tetap saja
menyelenggarakan gantangan. Seperti yang terjadi di desa Gembor, Kec.
Pagaden, banyak yang sudah mulai menggunakan emas 3-5 gram sebagai bahan
“simpanan gantangan”. Di desa lain malah ketika ada yang membangun rumah, maka tetangga sekitar ada
yang menyumbangkan semen, pasir, bata, dan bahan bangunan lainnya yang nantinya dicatat oleh keduanya dan dianggap
sebagai hutang
piutang.
Banyak saudara Pak Yayan yang tinggal di desa Gembor itu sampai kehilangan
harta benda dan sawahnya dikarenakan oleh hutang gantangan yang menumpuk.
Biasanya mereka yang bangkrut adalah yang tidak memanfaatkan hasil gantangan
ini untuk kegiatan produktif (membeli sawah/tanah) melainkan hanya untuk konsumsi, seperti membeli
kendaraan baru. Sehingga ketika hutang mereka ditagih
secara bersamaan dan dalam jumlah yang besar,
mereka terpaksa menjual kembali barang-barang tersebut
dengan harga yang lebih murah dibandingkan ketika mereka membelinya.
Desa Gmebor ini memang berbeda dengan Desa Padamulya. Di desa ini marak
sekali lahan-lahan sawah yang dikonversi menjadi kolam ikan air tawar. Sementara
di desa Padamulya masih didominasi oleh hamparan padi, Desa Gembor ini sudah
hampir separuh lahan sawahnya berupa balong.
Maraknya budidaya kolam air tenang (KAT) ini berarti juga mengindikasikan
gejala tertentu. Pertama, desa ini berarti sudah masuk ke dalam sebuah sistem ekonomi
pasar yang terhubung jauh hingga ke luar daerahnya. Dalam konteks ini, maka
para petani ikan di desa gembor ini telah secara langsung bersentuhan dengan
dinamika pasar ikan di luar sana, utamanya soal fluktuasi harga ikan yang pada
ujungnya akan menentukan nasib dan kesejahteraan mereka.
Kedua, implikasi dari masuknya
petani ke dalam sebuah sistem pasar komoditas tertentu secara sadar atau tidak
telah membawa alam berpikir “komersil” semakin dominan dalam kehidupan sosial
mereka. Diperolehnya Cash money dan
panen yang lebih cepat dan lebih sering (dibandingkan dengan budidaya padi)
membuat “waktu” menjadi “lebih berharga” dari sebelumnya. Mereka berlomba
dengan waktu untuk mengejar “musim” dan “permintaan pasar” sedemikian rupa hingga
perlahan petani mulai “kekurangan waktu” untuk kegiatan-kegiatan bersama warga
lainnya. Petani ikan jauh “lebih sibuk” dibandingkan dengan petani konvensional
(padi dan kebun). Pada konteks masyarakat seperti inilah kemudian
komersialisasi ekonomi nampak lebih nyata dan komersialisasi sosial pun juga
merajalela.
Di desa Gembor ini, hajat gantangan sudah semakin ekstrim. Tidak
mengenal waktu dan bahkan merambah hingga penggunaan momen kematian (non-siklus
bahagia) seseorang untuk dijadikan wahana gantangan (menarik simpanan). “bahkan sekarang mungkin sudah bukan
gantangan (10 Liter beras) lagi, tapi sudah kuintalan (> 100 kg beras)” cetus Danur, salah seorang warga desa Gembor. “Bahkan saya masih ingat”, lanjutnya, “jika waktu kecil dulu masih ada beras yang
memang “diberikan” dan “beras dan dihutangkan”, maka sekarang semua sudah
dianggap menjadi “hutang”. Menurut Danur, gantangan ini telah dijadikan sebagai
ajang “bisnis”. Banyak fenomena orang yang tidak punya modal sekalipun dapat
menyelenggarakan hajat dengan mengandalkan “simpanan” dari tetangga sekitarnya.
Jika dulu orang datang membawa beras dengan dijinjing atau digendong, maka
sekarang sudah memakai motor dengan karung-karung beras dibelakangnya.
Gantangan ini akan dilakukan seseorang ketika dia “membutuhkan uang”. Misalnya,
ketika seseorang ingin memperbaiki rumah tetapi tidak punya uang, maka ia
tinggal menuliskan undangan “gantangan” di atas bungkung sabun colek atau teh
lalu dibagikan kepada tetangga, kerabat dan teman-teman desanya. Dalam waktu
singkat, bahan-bahan makanan maupun bangunan yang ia butuhkan akan segera
terkumpul. Tentu saja itu semua akan dicatat menjadi hutangnya. Dalam kondisi
semacam ini, maka penulis melihat bahwa sistem gantangan ini dapat menjadi semacam
“asuransi informal” atau “bank simpan pinjam kolektif” yang dapat diandalkan
oleh masyarakat di pedesaan Subang. Ketika seseorang atau rumah tangga
membutuhkan, maka sistem sosial yang ada di desa itu mampu “menopang”
kebutuhannya tersebut. Sekarang masalahnya, seberapa ringan atau berat “beban pengembalian”
yang harus ditanggung oleh rumah tangga pelaku gantangan ini? Mengingat orang
lain juga memiliki kebutuhan yang sama. Di sisi lain, mengecilnya sumber daya
produktif di pedesaan juga akan berpengaruh kepada kesejahteraan masing-masing
keluarga.
Dilihat dari sudut pandang para pelaku, terlibat dalam tradisi gantangan semacam ini bisa
untung, impas, atau rugi. Disebut untung
jika simpanan sudah banyak, sehingga waktu ditarik lebih terasa besarnya.
Disebut impas jika modal untuk hajat diperoleh
dari pinjaman, maka hasil gantangan-nya akan digunakan untuk membayar kembali
hutang-hutangnya tersebut. Disebut
rugi jika setelah hajat, datang undangan narik dari orang lain yang
datang secara bersamaan dengan jumlah yang besar.
Tanah dan rumah pun bisa terjual dalam kondisi seperti ini. Tidak ada yang
berani menghindar
atau menunda dari kewajiban timbal balik
dalam sistem gantangan ini.
Sebab, jika tidak membayar ia akan ditagih dan didatangi langsung oleh empunya
hajat.
Persis seperti yang dialami oleh Ai’ dan suaminya, pasangan pengantin baru dari
Kecamatan Compreng.
Hari-hari ini, Ai’ dan suami serta orang tuanya sedang “kebajiran undangan”.
Dalam seminggu bisa ada 4 undangan “narik” dari tetangga, yang nilainya (beras
dan uang) rata-rata Rp.600.000-Rp.1.000.000,-/undangan. “Pusing” kata Ai’. Tetapi itu wajib dikembalikan. Gantangan ini
memang enak ketika menerimanya, tetapi berat ketika mengembalikannya lagi.
Menurut Aan, setiap orang di desanya, baik kaya maupun miskin juga terlibat
dalam tradisi ini. Betapapun memberatkan, mereka tetap harus mengembalikan
hutang-hutang mereka. Selain uang dan beras, kue-kue (opak dan rangginang) juga
dicatat sebagai hutang dan harus dikembalikan sesuai jumlah yang pernah
diterimanya. Setiap orang tidak akan lupa berapa jumlah hutang atau simpanan
mereka, karena semuanya dicatat dengan rapi di dalam buku gantangan.
No comments:
Post a Comment