Showing posts with label klub penulis subang. Show all posts
Showing posts with label klub penulis subang. Show all posts
12 October 2013
12 April 2012
04 September 2010
Menulislah Sebelum Bicara !
Di dunia maya, apalagi bagi yang sedang hangat-hangatnya belajar ngeblog atau mengelola sebuah website, pasti sering dikeluhkan betapa sulitnya harus menulis setiap hari. Menulis memang beda dengan makan, yang sudah menjadi kebutuhan dasar sehari-hari. Menulis jika dipaksakan, akan cenderung membuat syaraf-syaraf di otak kita tegang. Apalagi kalau dibumbui syarat “harus keren”, wah makin gak jadi kita menulis. Sebaliknya, menulis juga akan menjadi mimpi belaka kala ditunda-tunda. Besok ah, nanti ah, lusa ah..akhirnya tinggal Ahhh…nya saja yang jadi, tulisannya mah enggak terwujud barang sekalimat.
23 August 2010
Menulis Buku, Siapa Takut ???
Mulailah Membaca, Sekarang !!!
Seorang penulis bisa diibaratkan sebuah kendi yang penuh berisi air. Dari kendi itu mengalir ide-ide cemerlang ke dalam lembar-lembar gelas yang kemudian diminum (dibaca) oleh pembacanya. Bagaimana mungkin seseorang mampu menjadi penulis, jikalau kendi itu tadi kosong tanpa isi. Salah satu cara mengisi kendi itu tadi adalah dengan membaca. Semakin banyak dan beragam bacaan, maka semakin kaya pula isi kendi tersebut. Jika yang dimasukkan racun, maka racun pula yang keluar. Untuk itu, pastikan hanya buku-buku sehat dan berkualitas yang mengisi kendi Anda.
03 September 2009
PARADOK BULAN RAMADHAN
Nuansa Ramadhan memang khas. Masjid-masjid dan mushola yang biasanya sepi jamaah, mendadak hiruk pikuk. Sejak maghrib ketika pembagian takjil, saat tarawih, hingga tadarus Al Quran, yang atas nama bulan Ramadhan tiba-tiba merasa perlu disuarakan lewat corong pengeras suara. Mungkin untuk memperkuat kesan bahwa bulan ramadhan memang berbeda dari bulan-bulan lainnya. Walaupun, saat tadarus dikumandangkan, seketika itu pula volume televisi ikut kita naikkan. Tak hanya itu, semua yang berbau maksiat terpaksa dan dipaksa untuk rehat sejenak. Lokalisasi-prostitusi, ikut berpuasa meski untuk sementara waktu, anggaplah sebagai liburan. Pedagang minuman keras, yang konon menjadi pelengkap kemaksiatan, menyimpan rapat-rapat dagangannya. Diskotik dan tempat hiburan malam, mempersingkat jam tayang atau malah menutup diri, takut terkena gempur FPI.Read More....
26 April 2009
Berkreativitas Lewat Komunitas

Awal tahun 2009, selain diwarnai antiklimaks dari proses pemilu legislatif, juga menjadi penanda tersendiri bagi bergeliatnya komunitas anak muda di Subang, Jawa Barat. Diawali pada tanggal 28 Maret, sebuah acara kecil digelar oleh para blogger di kota kabupaten ini. Bukan hal baru memang, namun untuk ukuran masyarakat Subang, tentu saja momen ini memiliki makna berbeda. jika dibandingkan dengan kota besar yang mengapitnya, seperti Bandung, Purwakarta, dan Jakarta, kehadiran komunitas blogger yang kemudian menggelar “kopi darat”, menandakan setitik asa untuk menunjukkan bahwa kawula muda di tatar subang ini belum mati.
Kopi darat perdana itu, selain menjadi wahana perkenalan dan pertemuan para pecinta dunia maya, juga menjadi ruang pertukaran ide dan gagasan yang segar. Keberagaman latar belakang dan motif menjadi blogger, mengilustrasikan bahwa komunitas ini bisa mempersatukan cukup banyak unsur dan elemen dalam masyarakat. Ada yang berprofesi menjadi wartawan, dosen, guru, pelajar, penjual/pecinta barang antik, mantan anggota KPU, pelajar, penjaga warnet, peneliti, mahasiswi, hingga pengangguran pun secara egaliter duduk setara, dan mengikatkan diri lewat hobi. Ada yang memang berdomisili di Subang, ada pula yang bekerja di luar kota, tetapi tetap memiliki kaitan historis dan kepedulian dengan Subang. Gayung pun bersambut, setahun terakhir ini, warnet-warnet di Subang telah menjamur bak cendawan di musim hujan.
Tidak hanya berhenti disini, beragam program kegiatan nyata pun direncanakan, slogan anti pornografi didengungkan, visi untuk peduli dunia pendidikan, ekonomi, dan sosial disatukan, dan yang terpenting komunitas ini mempunyai tekad mengambil peran dalam kehidupan bermasyarakat. Dibuktikan dengan lahirnya portal dan situs-situs yang jika ditelusuri, secara tidak langsung telah ikut mempromosikan kota Subang. Dari para punggawa komunitas kecil nirlaba ini, lahir portal kota subang yang menginformasikan potensi wisata dan event-event di subang. Ada juga yang mengkhususkan diri pada info usaha kecil, jasa konsultasi kejiwaan, dan berita-berita dari Subang. Lebih lengkap dan up to date, jika dibandingkan dengan situs resmi milik pemerintah. Namun sayangnya, pemerintah daerah sepertinya belum menyadari manfaat besar dari lahirnya komunitas semacam ini.
Klub Penulis Subang
Senada dengan spirit komunitas ini, lahir pula di waktu yang sama Klub Penulis Subang. Orientasi utama kelompok studi ini adalah dalam hal pengembangan minat menulis dan penerbitan. Baru saja muncul di permukaan, Klub Penulis Subang yang digawangi hanya beberapa peneliti, penulis, pelajar, dan mahasiswa ini, mendapat kesempatan untuk mengelola forum perpustakaan dan majalah di sebuah SMP negeri di Subang. Tentu saja ini mengindikasikan penerimaan masyarakat Subang terhadap komunitas-komunitas kreatif semacam Komunitas Blogger Subang dan Klub Penulis Subang, cukup baik dan menjanjikan.
Alangkah dinamisnya, seandainya komunitas-komunitas berbasis hobi yang lain, seperti komunitas sepeda motor dan kesenian yang banyak menjamur di kalangan pemuda, atau komunitas pecinta lingkungan, juga memiliki orientasi perjuangan yang jelas. Sebab, kelompok-kelompok yang muncul dari bawah, jika mereka berhasil membangun suatu aktivitas dan entitas yang bermanfaat bagi masyarakat, bukan tidak mungkin akan mampu mendorong perubahan dan kemajuan yang lebih cepat. Di sisi lain, dengan bergabung dalam komunitas-komunitas tertentu, dapat menjadi saluran aspirasi yang efektif kepada pembuat kebijakan. Dengan catatan, setiap komunitas tentu saja harus menunjukkan dan membuktikan terlebih dahulu prestasi dan manfaatnya bagi khalayak.
Lahirnya komunitas-komunitas alternatif di tengah kebekuan dan rutinitas pedesaan, bisa menjadi harapan akan lahirnya pendidikan-pendidikan alternatif. Seperti maraknya diskusi-diskusi, seminar, diklat, forum-forum, hingga kegiatan-kegiatan nyata yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Pemuda-pemuda kreatif dan penuh gagasan, akan lahir dari komunitas semacam ini. Pada tahap selanjutnya, karya cipta kreatif, seperti musik dan lagu dari komunitas kesenian, jasa pembuatan website dari komunitas blogger, buku-buku dari klub penulis, pernak-pernik dan aksesoris dari tiap komunitas, akan menjadi sebuah industri kreatif yang mengakar.
Mungkin hal itu masih jauh dari kenyataan, namun bukan pula impian kosong belaka. Jika kiprah para pemuda-pemuda Subang ini tetap eksis dan menemukan jalur perkembangannya, maka pelan tapi pasti, harapan itu akan mampu terwujud. Tinggal, bagaimana mengatasi hambatan-hambatan yang seringkali menggerogoti konsistensi pemuda. Setidaknya ada dua hambatan yang ada di depan mata, pertama, hambatan finansial. Mungkin pula ini hambatan bagi setiap komunitas yang baru muncul. Modal semangat besar, tanpa diikuti oleh kecerdasan menghasilkan finansial, akan membuat komunitas tak bertahan lama. Cara pandang yang harus dipakai adalah bagaimana hobi komunitas tersebut juga bisa menghasilkan timbal balik bagi anggotanya. sehingga, komunitas tidak begitu saja ditinggal oleh satu per satu anggotanya.
Kedua, hambatan psikologis. Tidak semua pegiat komunitas memiliki mental yang kuat. Naik turunnya semangat anggota, sindiran dan cercaan dari luar, manajemen waktu, dan hambatan situasional lainnya, harus bisa dibaca dan diantisipasi sedini mungkin oleh komunitas. Jangan sampai ekspektasi terlalu tinggi dari kemampuan yang dipunyai, sebab hanya akan menghasilkan sesal dan kecewa belaka. Semoga, geliat dari komunitas kecil ini akan terus menggelinding dan membuka mata siapapun, bahwa masih ada pemuda-pemuda yang menenggelamkan diri dan menjadi pelopor aktivitas-aktivitas kreatif, sekalipun dalam serba keterbatasan dan kesunyian sebuah “desa”.
19 April 2009
Klub Penulis Subang

Hari ini, sabtu 19 April 2009, adalah hari bersejarah buat klub ini.
berangkat dari usaha nekad untuk kepingin berkomunitas, ternyata membuahkan sambutan yang bagiku luar biasa. Keinginan awal cuman sederhana : memiliki kelompok penulis. Apa sebab? sepertinya aku belum benar-benar menemukan duniaku di kota yang sudah setahun ini aku pijak, subang. Kota ini bisa dideskripsikan hanya degan 4 huruf : S – E – P – I . Baik sepi dari hingar bingar hiburan, sepi dari lalu-lalang moda transportasi, lebih-lebih –yang paling menyedihkan – sepi dari gempita intelektual. Kota ini mendadak ramai hanya ketika lebaran haji. Tidak nampak perang gagasan atau huru-hara intelektualitas yang tajam. Tidak ada “tokoh” kharismatis atau kelompok-kelompok ideologis yang bisa dianut dan dirunut gagasan-gagasan segarnya. Yang jelas, siapapun yang haus diskusi, seminar, perdebatan, atau perbincangan a la aktivis mahasiswa, subang bukanlah tempatnya!
Pelajaran hidup no 1, bahwa niat saja tidak pernah cukup. Menggerutu akan keadaan justru hanya akan membuat frustasi. Perlu upaya bergerak ke sana-sini, untuk mempopulerkan ide kita. sebab, ternyata di luar sana banyak juga orang yang mengalami keresahan yang sama dengan kita. hanya saja, sama-sama diam dan tak bergerak. Akhirnya, setelah tolah-toleh, bantuan pertama datang dari slawi, jawa tengah, tepatnya dari febrie hastianto, kawan senior lama jaman kuliah doeloe. Tanpa ba bi bu, silabus klub penulis slawi datang, dan seperti keajaiban gagasan, silabus itu meletup menjadi proposal : klub penulis subang.
Tapi, kemana dan siapa yang pertama kali harus membaca proposal ini? ragu meyelimuti. Tak ada lembaga, tak ada institusi, dan yang paling menggetarkan : tak ada dana. Tapi, kondisi inilah yang memberiku pelajaran hidup no 2, bahwa ide yang menyala kuat tidak akan padam oleh tiadanya uang. Dengan keterbatasan yang ada, Kopdar (kopi darat) komunitas blogger subang menjadi keajaiban kedua. Tanpa ragu, aku datang untuk ikut meramaikan dan berkenalan dengan pegiat-pegiat blog di subang ini. hasilnya : al madalizie Ahmad, Senniatussa’adah bergabung. Dari Ahmad kudapat teman-teman kecil yang lain, anton, piki, dll. Dari sejawat ada wawan, dan linda yang sedang hamil 7 bulan. Semuanya adalah orang-orang luar biasa yang kemudian mengikatkan diri dalam hobi yang sama : menulis.
Meskipun pertemuan selanjutnya ada anggota yang berguguran (semoga dugaan ini salah) seperti wiwit, lia, iip, namun tidak menyurutkan semangat. Dua kali berkumpul di “green-house-kopti” kita, keajaiban ketiga datang : tawaran untuk mengisi diklat. Syahdan pak Akhmad , guru SMPN 2 Subang, yang sekaligus adalah pengelola forum perpustakaan dan majalah sekolah, resah dengan tiadanya pembinaan intelektual yang memadai bagi para siswa. Beliau pun mengajukan proposal diklat ke sekolah dan meminta bantuan klub sebagai fasilitator. Alhamdulillah, pelajaran hidup no 3, niat yang baik, bertemu orang yang tepat, dan mengambil setiap peluang yang ada, adalah kunci mengundang dewi fortuna.
Akhirnya, momen-momen pertama itu pun terjadi..
oh ya, hampir lupa, kang annas nasrullah adalah orang yang sudah dan akan memberikan sentuhan lain dari komunitas penulis ini. Pemuda pewarta yang nggak ada matinya ini, kami harap akan membukakan jendela klub dengan orang-orang di luaran sana, thanks bro (juga buat temenmu dari www.vivanews.com itu , hehehe). Semoga setiap keterbatasan makin menguatkan kita untuk tetap bertahan dan terus mempertahankan apa yang sudah kita mulai ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)



