26 October 2016

DEMOKRASI DIGITAL

Opini Media Indonesia

Oleh : Yanu Endar Prasetyo
Peneliti LIPI, PhD Student di University of Missouri, USA

Teori sosial dan politik yang umum dipelajari hari ini, sebagian besar merupakan warisan pemikiran dari revolusi industri yang berlangsung sekitar 2 abad lalu. Jarang disadari bahwa gelombang revolusi berikutnya yang lebih dahsyat sedang berlangsung saat ini. Revolusi ini diyakini akan mengubah serta melahirkan teori dan praktik sosial baru yang mungkin belum pernah terprediksikan sebelumnya. Revolusi yang memiliki dampak sangat luas dan dalam pada peradaban manusia. Gelombang perubahan inilah yang disebut dengan revolusi digital. Ditandai dengan kehadiran internet yang massif dan perlahan menggantikan berbagai perangkat teknologi jadul sebelumnya. Hampir semua teknologi analog tinggal menjadi kenangan. Radio, televisi, koran dan media konvensional lain pun sudah diambang sakarotul maut digulung oleh google dan youtube.

Gilardi (2016), dalam penelitian terbarunya tentang “digital democracy”, menjelaskan dengan gamblang tentang bagaimana teknologi digital ini juga mempengaruhi proses demokrasi itu sendiri. Mobilisasi politik, strategi kampanye, polarisasi opini publik, hingga perangkat dan saluran tata kelola pemerintahan pun mulai berubah. Tidak hanya di Barat, melainkan juga di belahan dunia manapun dimana teknologi digital mulai mendominasi. Tidak hanya pada praktik politik dalam demokrasi kontemporer, revolusi teknologi digital ini juga secara langsung telah mempengaruhi bagaimana ilmu-ilmu sosial direproduksi dan disebarluaskan. Big data, sains kompleksitas, crowd sourcing, mesin pembelajaran baru, hingga kurikulum ilmu sosial di berbagai perguruan tinggi rujukan dunia pun turut beradaptai dengan revolusi digital ini. Demokrasi digital adalah era baru dalam sejarah manusia sekaligus masa depan dunia itu sendiri.

24 October 2016

Repost : Kesenjangan Digital dan Penguatan e-Demokrasi

Pasundan Ekspres, 24 Oktober 2016

Oleh : Yanu Endar Prasetyo

OECD (The Organisation for Economic Co-operation and Development) baru saja merilis sebuah laporan tentang tren pemanfaatan internet di kalangan pelajar. Penelitian ini membandingkan data dari 63 negara angggota OECD. Salah satu tujuannya adalah untuk melihat perbedaan akses dan pola pemanfaatan internet di kalangan pelajar saat ini dilihat dari faktor latar belakang sosial ekonomi mereka. Menariknya, hasil penelitian tersebut menunjukkan dua fakta penting. Pertama, soal“gap” atau kesenjangan digital (digital divide) yang masih harus dihadapi oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia yang menduduki peringkat kedua paling tinggi setelah Vietnam dalam hal kesenjangan akses terhadap internet antara pelajar dari keluarga miskin dan kaya.

Hal ini bisa dimengerti, sebab penetrasi internet terhadap populasi penduduk di Indonesia memang masih relatif rendah. Data yang dirilis oleh we are social global reportpada januari 2016 menunjukkan pengguna internet aktif di Indonesia baru pada kisaran 34% dan pengguna media sosial aktif sebesar 30% dari total penduduk yang ada. Meskipun, di sisi lain pengguna yang terkoneksi dengan mobile phone justru melebihi total populasi penduduk (126%). Sementara itu, negara-negara yang dinilai paling baik dalam mengatasi masalah kesenjangan akses internet antara pelajar miskin dan kaya adalah Denmark, Islandia dan Finlandia. Beberapa negara di Asia yang cukup rendah kesenjangannya adalah Hongkong-China, Macau-China, Singapura dan Taiwan.

11 October 2016

3D Printing Innovation

Many people today tend to believe that technological innovation fosters economic growth. One of the latest innovations today is 3D printing. This innovation has the potential benefit to encourage the growth of the creative industries throughout the world economy for the next several decades because of its similarity to the original form, ability to accelerate time in process and encourage the emergence of new creative industries.
Basically, 3D printing innovation will change the way we make and create products, particularly on designing product and creating prototypes. Designing products by 3D printing will be easier and cheaper than before, because it uses computer programming and controlling. 3D printing with computerized technology will allow the possibility of generating impressive 3D objects that are similar to the details of the original form. For instance, housing mockups created by an architect will be made easier in various, even by students as long as they have mastered the software design. According to this benefits, many people and companies are starting to focus their business based on 3D printing development for making their various prototype and product.

02 October 2016

Peta Sosial Politik Subang : Kemarin, Kini dan Nanti (1)


Subang sedang mengalami “paceklik kepemimpinan”. Sebuah masa dimana sulit mencari figur ideal dalam birokrasi dan kepemimpinan. Badai KPK telah mengubah struktur politik lokal menjadi demikian cair dan membutuhkan proses untuk kembali menguat pada poros-porosnya. Subang tentu tidak sendirian, paceklik kepemimpinan ini dialami pula - bahkan lebih dulu - oleh ratusan daerah lain yang merupakan anak kandung otonomi daerah. Sebuah era dimana raja-raja kecil menjadi penguasa mutlak di daerah. Subang pun pernah mengalami tren sentralisasi kekuasaan oleh raja kecil itu, dimana penempatan orang sangat jauh dari prinsip “the right man in the right place”. Kepentingan umum dilupakan karena sengaja diletakkan di bawah kepentingan pribadi dan golongan. Masa dimana publik mengeluhkan segala hal, tapi tak kuasa berbuat apa-apa karena didera ketakutan untuk bersuara. Rezim semacam ini merayakan otonomi secara berlebihan dan kebablasan, hingga pada akhirnya digulung pula oleh peribahasa politik klasik dari sejarawan John Dalberg-Acton yang mengatakan bahwa “power tends to corrupt, and absolut power corrupts absolutely”. Para pemimpin dari rezim lama itu, baik yang tua maupun muda, akhirnya bergiliran satu per satu menginap di hotel prodeo.

Namun, realitas politik tidak pernah absolut. Ia dinamis dan tak pernah berhenti di tempat. Meskipun kita akui kegagalannya dalam memproduksi birokrasi yang bersih, namun harus kita akui pula bahwa otonomi daerah juga berhasil membidani lahirnya pemimpin-pemimpin yang berprestasi. Mereka adalah angin segar bagi demokrasi kita di tengah pengapnya politik transaksional yang sering melukai nalar dan akal sehat. Pilkada DKI menjadi contoh tampilnya angin segar kepemimpinan di ibu kota, dimana keenam kandidat yang tampil adalah tokoh-tokoh pemimpin ideal dari basisnya masing-masing. Terlepas dari dinamika politik praktis di dalamnya, mereka telah menjadi oase bagi demokrasi elektoral dan prosedural yang terus digugat oleh ketidakpercayaan publik ini. Pun di negara yang didongengkan sebagai corong demokrasi seperti Amerika Serikat, seorang Hillary Clinton juga sedang berusaha mencatatkan sejarah menjadi presiden perempuan pertama di negeri itu. Tentu tidak mudah. Tren ini menambah angin segar bahwa meskipun compang-camping dan tidak sempurna, sistem demokrasi masih memberi kita sedikit ruang dan kepercayaan bahwa setiap orang – terlebih orang baik dan berkompeten – masih memiliki kesempatan yang relatif sama untuk menjadi pemimpin. Demokrasi tidak hanya milik para mafia.

Kesenjangan Digital dan Penguatan e-Demokrasi

OECD (The Organisation for Economic Co-operation and Development) baru saja merilis sebuah laporan tentang tren pemanfaatan internet di kalangan pelajar. Penelitian ini membandingkan data dari 63 negara angggota OECD. Salah satu tujuannya adalah untuk melihat perbedaan akses dan pola pemanfaatan internet di kalangan pelajar saat ini dilihat dari faktor latar belakang sosial ekonomi mereka. Menariknya, hasil penelitian tersebut menunjukkan dua fakta penting. Pertama, soal “gap” atau kesenjangan digital (digital divide) yang masih harus dihadapi oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia yang menduduki peringkat kedua paling tinggi setelah Vietnam dalam hal kesenjangan akses terhadap internet antara pelajar dari keluarga miskin dan kaya.
Hal ini bisa dimengerti, sebab penetrasi internet terhadap populasi penduduk di Indonesia memang masih relatif rendah. Data yang dirilis oleh we are social global report pada januari 2016 menunjukkan pengguna internet aktif di Indonesia baru pada kisaran 34% dan pengguna media sosial aktif sebesar 30% dari total penduduk yang ada. Meskipun, di sisi lain pengguna yang terkoneksi dengan mobile phone justru melebihi total populasi penduduk (126%). Sementara itu, negara-negara yang dinilai paling baik dalam mengatasi masalah kesenjangan akses internet antara pelajar miskin dan kaya adalah Denmark, Islandia dan Finlandia. Beberapa negara di Asia yang cukup rendah kesenjangannya adalah Hongkong-China, Macau-China, Singapura dan Taiwan.

20 September 2016

Dari Subang ke Amerika (Bag 2)

( sebelumnya.....)


Chicago O'Hara International Airport merupakan bandara yang besar dan sibuk. Bahkan untuk penerbangan domestiknya. Di terminal 1, saya melihat desain bandara yang sebenarnya sangat simpel. Jalan di dalamnya tidak begitu membingungkan, karena hanya ada beberapa sayap dan setiap sayap yang berisi ruang tunggu itu berisi hal-hal yang kurang lebih sama. Ada toko buku dan majalah, mini market, meja dan kursi untuk free internet (tapi yang ini sedang gangguan pada saat saya coba) atau sekedar mengisi ulang HP dan Laptop, ada juga televisi menghadap kursi ruang tunggu, coffee shop, money changer dan tentu saja rest room alias toilet. 

Penerbangan dari Chicago ke St. Louis, Missouri baru akan berangkat pada malam sekitar pukul 22.Ternyata, itu penerbangan terakhir. Jadi, diperkirakan saya akan sampai di St. Louis sekitar pukul 00 dini hari. Saya hanya bisa berdoa akan ada tempat yang safe untuk istirahat atau merebahkan badan di st. Louis nanti. Saya tengok jam di HP, masih banyak waktu sekitar 4 - 5 jam ke depan. Saya pun mengisinya dengan jalan bolak-balik nggak jelas. Mencari sesuatu yang kira-kira halal untuk dimakan. Tapi saya ingat saya hanya bawa pecahan 100 dollar, tentu jumlah yang besar untuk sekedar membeli permen atau roti. Celingak-celinguk tidak ada sesuatu yang pas betul untuk dibeli. Yasudahlah, akhirnya saya hanya duduk-duduk, baca majalah dan main hp hingga tiba waktu pesawat berangkat.

19 September 2016

Dari Subang ke Amerika (Bag 1)

Salam Super!!


Kali ini saya akan bercerita tentang sebuah perjalanan fisik dan mental yang bersejarah. Tentu saja bersejarah buat saya pribadi. Namun demikian, sesuatu yang bersejarah buat pribadi ini semoga bisa juga menjadi pelajaran bagi siapa pun yang membacanya. Bersejarah karena ini perjalanan paling jauh yang pernah saya tempuh. Perjalanan terjauh sebelumnya adalah ke India (baca di sini). Rekor itu kini telah terpecahkan. Kali ini saya melakukan perjalanan hingga ke benua lain, Amerika. Ya, lebih dari 30 jam waktu yang dihabiskan untuk terbang dan transit di beberapa tempat. Banyak kejadian lucu dan konyol sepanjang perjalanan panjang ini. Bukan hanya lucu, sejujurnya ini adalah perjalanan paling mengharukan dan menguras emosi serta air mata yang pernah saya alami dalam hidup. Serius!

Dari Subang

Pukul 11 malam kami berangkat dari Subang. Tiba di Bandara Soekarno Hatta sekitar jam 2 pagi dengan sekali beristirahat di rest area. Dua mobil mengiringi perjalanan ini, satu mobil carry milik Asolmania (sebutan gaul bapak mertua saya) dan satu lagi mobil yang dikendarai oleh adik ipar saya, Om Kibo nama kerennya. Setibanya di Bandara, kami sekeluarga menunggu sekitar dua jam di terminal 2. Karena tidak banyak tersedia tempat tidur dan masih ngantuk berat, keluarga pun dengan santai tidur di lantai beramai-ramai. Tidak perlu canggung, karena memang demikian kalau kita menunggu di bandara. 

Sejujurnya, perjalanan ini sudah dinanti-nanti sejak lama. Diperjuangkan dengan penuh keringat dan doa. Namun, manakala hari yang dinanti tiba, justru air mata bercucuran dengan perasaan campur aduk tak karuan. Dengan diantar oleh keluarga lengkap - mereka adalah orang-orang paling penting dalam hidup saya - tak kuasa diri ini menahan air mata perpisahan. Empat atau lima tahun yang biasanya tidak terasa atau tak pernah dihitung, tetiba menjadi waktu yang bakal terasa sangat lama. Saya peluk satu persatu, mulai dari Bapak, Ibu, Istri, Anak-Anak, Mamah, Bapak Mertua, Adik-Adik dengan tak satu pun yang tidak membuat saya menangis. Setegar apa pun kita berusaha, toh perasaan tidak ingin terpisah jauh itu pun tiba dengan sendirinya. Tak bisa dibohongi.

18 September 2016

Mobilizing Appropriate Technologies to Grassroots Innovations Ecosystem

The concept of sustainable development is ecology and economics must be more fully integrated (Eco-Economy). As known, since the 1950s, the role played by the rural agricultural sector in society has considerably changed due to of mechanization, globalisation and new social needs. In many ways. The concept of Appropriate Technologies (AT) hence endeavors to eliminatethe adverse effects of this modern technology. To parse these issues, we can learn from any existing experiences. The main government institution (formal organization) working on AT in Indonesia is The Center for Appropriate Technology Development (CATDev). The empirical exercise is the AT movement has shown a shifting trend. It has transformed itself slowly into an alternate technology movement based on Grassroots Innovations. Grassroots development is a process of intentional social change that privileges local organizing, visioning and decision making. It is an alternative approaches to local development in poor communities.

The first rural development decade (1960-70) achieved extraordinary success in promoting economic growth, not only in the newly industrialized countries (NICs) of East and South East Asia, but also in many Latin American and some African countries [1]. For agricultural policy, the main lesson from this period was the key role of technological change in agriculture. Following World War II, technological developments in agriculture have been particularly influential in driving change in the farm sector. Technological developments (mechanization and availability of chemical inputs) occurred at an extraordinarily rapid growth in average farm size, accompanied by an equally rapid decline in the number of farms and rural populations [2]. The core instrument was the technology of the Green Revolution, seen as the missing piece in the failed community development movement of the 1950-65 period.

(Photo : Prof. Anik K. Gupta, Founder Honey Bee Network)

15 September 2016

The Importance of Grit and Determination

Generally speaking, many people want to be a successful person in life. Some of them believe that intelligence and talent is the basic or determinant factor of a successful life. Intelligence is related to the ability to learn and understand things, while talent refers to the special ability that allows someone to do something well. In fact, neither intelligence nor talent is enough to gain future success. Success requires more than a “given factor” like that. Beyond intelligence and talent, success necessitates grit and determination as the most powerful weapons for long term success.

04 September 2016

Tips Mendapatkan Visa Belajar ke Amerika Serikat

Dear Readers,

Mungkin diantara pembaca ada yang memiliki mimpi belajar ke Amerika Serikat. Untuk bisa menggapai mimpi itu tentu perlu kerja keras dan keinginan yang kuat (Baca : S3 Keluar Negeri, Siapa Takut?). Namun itu saja tidak cukup, banyak hal yang bersifat administratif yang juga harus kita pahami. Saya sendiri pada awal-awal juga dibuat bingung dengan berbagai informasi yang ada. Sebagian bilang sulit mengurus visa, biayanya mahal, nama islami susah masuk dan lain sebagainya. Tentu saja info-info itu sangat membantu, terutama dari blog seperti ini, namun ada baiknya juga kita pandai-pandai menyaring dan tidak begitu saja terpengaruh mentah-mentah. Dimasak sedikit biar lebih sehat :)

Well guys, biar tidak terlalu panjang bacanya, langsung saja saya akan sampaikan secara ringkas seluk beluk mengurus dokumen, terutama visa belajar, ke Amerika Serikat. Tentu saja sesuai dengan kasus dan pengalaman saya yang sangat mungkin akan berbeda dengan yang lainnya. Unutk diketahui, ada dua jenis visa ke Amerika serikat, yaitu visa non-imigrant dan visa imigran. Sebagai pelajar, saya melamar untuk visa yang pertama yaitu visa non imigrant dengan kategori visa J-1. Untuk memahami jenis-jenis Visa di US bisa dibaca lebih lengkap disini.

24 August 2016

S3 KE LUAR NEGERI, SIAPA TAKUT?



Sudah ada ribuan kisah inspiratif dari berbagai belahan dunia tentang keberhasilan mewujudkan mimpi untuk mengejar pendidikan yang terbaik. Puluhan bahkan ratusan buku best seller dan film juga sudah dibuat untuk mengabadikan kisah-kisah tersebut. Bukan bermaksud menambah deretan kisah klise semacam itu, tetapi memang rasanya sangat berbeda manakala apa yang diceritakan dalam buku-buku, film dan kisah tersebut kita alami sendiri! Ya, perasaan berbeda itulah yang barangkali bisa saya bagikan dalam tulisan kali ini.
 
Kita mulai dari akhir. 

Bermula pada detik-detik menjelang keberangkatan saya ke Amerika Serikat untuk melanjutkan pendidikan Doktoral. Rasa-rasanya, sekarang adalah waktu yang tepat untuk menuliskan kembali apa yang sudah saya lewati jelang keberangkatan ini. Terlebih, Blog ini sudah vakum selama berbulan-bulan akibat kesibukan dan pontang panting yang perlu dan tidak perlu. Penting dan tidak penting. Mulai dari aktivitas yang ekstra pada gerakan sosial Subang Baru di kota tempat saya tinggal, pekerjaan di Kantor yang sangat padat hingga terutama dan utama adalah kesibukan mengikuti seluruh proses beasiswa maupun perburuan kampus yang sayang untuk tidak diceritakan kembali.

19 April 2016

SUBANG BARU




Yanu Endar Prasetyo
Tim Relawan Pengkaji Informasi Publik (TRPIP)

Entah sengaja diundang atau tidak, kehadiran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai “tamu” di Kabupaten Subang memang cukup mengagetkan berbagai kalangan. Bagaimana tidak, tak tanggung-tanggung, pucuk pimpinan alias orang nomor satu di Kabupaten Subang langsung resmi mengenakan rompi oranye KPK. Tragedi ini bak petir di siang bolong, sebab peristiwa ini terjadi tepat di ujung rangkaian pesta Ulang Tahun Kabupaten Subang ke 68 yang berlangsung sangat meriah dengan berbagai pemecahan rekor MURI. Meskipun menurut pandangan sebagian kalangan, tersangkutnya bupati dalam kasus korupsi di Kabupaten Subang bukanlah hal baru. Dua Kepala Daerah sebelumnya (Maman Yudia dan Eep Hidayat) juga pernah lengser akibat tersandung kasus korupsi. Pertanyaannya, mengapa kasus seperti ini bisa terulang kembali? Tidakkah muncul efek jera dan pembelajaran dari kasus-kasus sebelumnya?

Pembusukan Birokrasi

Penyelenggaraan pemerintahan daerah memang bukan semata tanggung jawab Bupati, melainkan seluruh unsur dan komponen organisasi di dalamnya. Mulai dari level eselon II sampai ke tingkat Desa/Kelurahan dan bahkan RT/RW. Meskipun, kendali utama tetap berada di tangan kepala daerah. Secara sederhana, pemerintahan bisa diibaratkan organ tubuh, jika salah satu bagian sakit, maka akan mempengaruhi bagian-bagian tubuh lainnya. Terlebih jika otak – sebagai pusat koordinasi – itu juga sakit, maka seluruh organ tubuh lainnya tidak akan bisa bekerja dengan optimal. Berulangnya kasus Bupati Subang yang terjerat korupsi tentu saja menjadi indikasi bahwa “badan” dan “organ-organ” pemerintah Kabupaten Subang memang mengidap suatu penyakit parah yang tidak lekas disembuhkan. Akibatnya sering kambuh dan nyaris koma.