Oleh: Yanu Prasetyo
Ada guyonan menarik soal nasib
gula dalam secangkir kopi. Katanya, jika kopi terlalu pahit, maka gula yang disalahkan. Karena
terlalu sedikit. Kalau kopi terlalu manis, gula lagi yang disalahkan. Karena
kebanyakan. Kalau kopi dan gulanya pas. Maka kopi yang mendapat pujian, “kopinya
mantab!”. Gula pun dilupakan. Demikian sial nasib gula hingga tak pernah mendapat
pujian.
Bukan hanya hubungan cintanya
dengan kopi yang serba salah, hubungan gula dengan manusia juga tak kalah
peliknya. Menilik sejarahnya, masa lalu gula adalah sejarah yang penuh dengan
penindasan. Sejarah kelam kolonialisme dan perbudakan. Sejak bangsa Eropa, terutama
Englishmen, mengenal Saccharum Officinarum L. (nama latin dari gula tebu) ini,
dengan cepat komposisi diet mereka berubah. Banyak literatur yang menyebut gula
pertama kali ditemukan atau diproduksi di India. Padahal jauh sebelum itu,
bangsa-bangsa di pasifik seperti Papua Nugini, Philipina, dan Indonesia, sudah
menanam tebu dan mengenal gula ini. Bukan hanya sucrose, mereka juga sudah mengenal
sumber makanan manis lainnya seperti madu, cokelat, dan buat-buahan umumnya.












