30 January 2019

Soal Nasib Gula yang Tak Semanis Rasanya


Oleh: Yanu Prasetyo

Ada guyonan menarik soal nasib gula dalam secangkir kopi. Katanya, jika kopi terlalu pahit, maka gula yang disalahkan. Karena terlalu sedikit. Kalau kopi terlalu manis, gula lagi yang disalahkan. Karena kebanyakan. Kalau kopi dan gulanya pas. Maka kopi yang mendapat pujian, “kopinya mantab!”. Gula pun dilupakan. Demikian sial nasib gula hingga tak pernah mendapat pujian.


Bukan hanya hubungan cintanya dengan kopi yang serba salah, hubungan gula dengan manusia juga tak kalah peliknya. Menilik sejarahnya, masa lalu gula adalah sejarah yang penuh dengan penindasan. Sejarah kelam kolonialisme dan perbudakan. Sejak bangsa Eropa, terutama Englishmen, mengenal Saccharum Officinarum L. (nama latin dari gula tebu) ini, dengan cepat komposisi diet mereka berubah. Banyak literatur yang menyebut gula pertama kali ditemukan atau diproduksi di India. Padahal jauh sebelum itu, bangsa-bangsa di pasifik seperti Papua Nugini, Philipina, dan Indonesia, sudah menanam tebu dan mengenal gula ini. Bukan hanya sucrose, mereka juga sudah mengenal sumber makanan manis lainnya seperti madu, cokelat, dan buat-buahan umumnya.

27 January 2019

The Wheel Estate: Dari Gaya Hidup Hingga Kisah Orang-Orang Biasa yang Bangkrut


Oleh: Yanu Prasetyo

Jessica Bruder, seorang jurnalis yang menelisik sisi lain kehidupan orang Amerika. Lebih dari tiga tahun ia mengikuti dan mewawancarai puluhan orang yang hidup di rumah berjalan: RV, mobil Van, bus sekolah, hingga trailers yang telah dimodifikasi. Mereka tersebar di seluruh penjuru Amerika. Dari North Dakota di utara hingga San Marcos di California. Dari Texas, Kentucky, hingga Brooklyn. Jessica mengabadikan kisah-kisah orang yang ditemuinya itu dalam bukunya berjudul “Nomadland: Surviving America in the Twenty-First Century”. Terbit tahun 2017 dan masuk ke dalam 100 notable books dari The New York Times book review. Di buku ini, Ia mencatat kisah orang-orang yang lebih memilih disebut “houseless” daripada “homeless”. Mereka yang terpaksa menjual “real estate” dan pindah ke “wheel estate” untuk bertahan hidup. Sebuah narasi tentang sisi gelap dari ketimpangan ekonomi di Amerika.

26 January 2019

The Sociopath

Oleh: Yanu Prasetyo


Punya teman yang gemar menebar cerita palsu untuk menaikkan nilai dirinya atau menurunkan martabat orang lain? Yang bahagia ketika melihat teman lain menderita? Yang menunjukkan perasaan bangga ketika berhasil melanggar hukum atau aturan? Yang kalau diberi amanah konsisten tidak bertanggung jawab? yang “berdarah-dingin”? agresif? impulsif? manipulatif? Terus, yang paling utama, Ia tidak menunjukkan rasa bersalah (menyesal) sama sekali setelah melakukan semua itu? Kalau jawabannya “Ya”, maka kamu harus lebih berhati-hati. Jangan-jangan temanmu itu (atau diri kita sendiri?) adalah sociopath!

Menurut Martha Stout PhD, penulis buku The Sociopath Next Door (2005), jika seseorang menunjukkan tiga saja gejala di atas sekaligus, maka Ia bisa dikategorikan sebagai seorang sosiopat (sociophathy). Nama ilmiahnya “antisocial personality disorder”. Beberapa ahli jiwa juga sering menyebutnya sebagai “psychopathy” alias psikopat. Meskipun, psikopat sebenarnya lebih ditujukan ketika si sosiopat tadi melakukan tindakan kekerasan atau penyerangan. Seperti pembunuhan, penyiksaan, mutilasi, atau menyakiti orang lain secara fisik. Kalau di film-film, psikopat sering digambarkan sebagai pembunuh berdarah dingin. Membunuh dengan tersenyum. No feelings of guilt. Not having a conscience. None at all.

24 January 2019

Radikal


Oleh: Yanu Prasetyo

Ada sebuah teori terkenal dalam kajian ilmu politik. Namanya “The Overton Window”. Diambil dari nama penemunya, Joseph P. Overton. Teori ini membahas bagaimana sebuah gagasan, isu, ideologi, atau yang paling teknis sebuah “kebijakan” bisa diterima atau ditolak oleh publik. Pada jamannya (Abad 20), teori ini sederhana dan banyak benarnya. Digambarkan dengan sebuah garis kontinum dari kiri ke kanan, atau atas ke bawah. Sama saja. Di kedua ujung garis itu, ada kondisi atau pandangan yang saling berlawanan. Ambil contoh, ideologi “kiri” (komunisme) versus ideologi “kanan” (neoliberalisme). “More Freedom” versus “Less Freedom”. “Demokrasi” versus “Khilafah”. Nah, ditengah-tengah garis kontinum itu ada yang disebut sebagai kondisi atau “jendela normal”. Tidak terlalu kiri dan tidak terlalu kanan. Bebas, tapi ada batasan-batasan. Kondisi “normal” inilah yang oleh penguasa suatu negara akan terus dipertahankan sebagai arus utama. Mainstream. Apa pun diluar jendela normal, akan dianggap sebagai radikal atau “unthinkable”.

21 January 2019

Fast Fashion


Oleh: Yanu Prasetyo

“Ajining raga saka busana” (manusia dinilai dari apa yang dikenakan). Setelah saya pikir-pikir, peribahasa Jawa inilah yang mungkin pertama kali memperkenalkan saya terhadap istilah “fashion”. Bahwa orang itu sebisa mungkin harus berpakaian baik dan layak. Begitu pesan orang tua saya. Tentu bukan pantas menurut diri kita sendiri. Tapi “layak” menurut lingkungan di sekitar kita. Kalau ke sekolah ya pakai seragam sekolah. Ke kantor pakai seragam kantor. Yasinan ya pakai sarung. Sepak bola ya pakai kaos. Kalau ke kantor pakai kaos atau sepak bola pakai sarung pasti dikira sedang agustusan. Tidak pantas. Kalau atasan warna terang, ya bawahan pakai warna gelap. Kalau badan agak gemuk, ya pakai baju motif garis-garis vertikal jangan yang horizontal. Nanti kelihatan makin lebar. Begitu ibu saya yang penjahit itu suka mengingatkan. Agar kita tampil lebih “fashionable” kata orang.

Soal Baasyir dan Mengapa Terorisme Lebih Ditakuti Daripada Gula?

Oleh: Yanu Prasetyo

Bagi pengagum beratnya, Ustad Abu Bakar Baasyir adalah figur pahlawan yang konsisten. Teguh pendirian. Contoh kongkrit dari menyatunya kata dan perbuatan. Gaya bicaranya blak-blakan. To the point. Terbukti penjara pun tidak melunturkan sikap dan pandangannya. Meski diminta untuk menandatangani surat setia kepada Pancasila, ia bergeming.

“Kalau Pancasila sesuai dengan ajaran Islam, kenapa tidak tunduk pada Islam saja” ungkapnya. Pemimpin negeri mana coba yang tidak gentar memiliki warga negara seperti Baasyir ini? Seandainya saja, ini cuman seandainya, Ustad Baasyir ini adalah imam besar FPI atau pemimpin tertinggi HTI yang diklaim memiliki jutaan pengikut itu, tentu akan lain cerita di republik tercinta ini. Untungnya tidak demikian.

Marie Kondo

Oleh: Yanu Prasetyo

Ialah sosok yang cukup menarik perhatian warganet di bulan Januari 2019 ini. Kalau kamu pecinta Netflix atau penghayat produk kreatif Jepang, pasti tidak asing dengan Marie Kondo. Bukan, bukan! Dia bukan bintang film porno atau semacamnya. Dia penulis buku yang kini melejit karena karya dan keahliannya diangkat menjadi reality show di Netflix. Kemampuannya pun unik: melipat baju!

Bukan hanya melipat baju, tapi juga ia mempopulerkan metode menata rumah dengan sentuhan minimalis abis. Ia menyebut metodenya itu dengan istilah "KonMari". Artinya? Tidak ada. Itu hanya potongan nama belakang dan depannya saja yang disatukan.

16 January 2019

Brexit: Gagal Exit?


Oleh: Yanu Prasetyo

Mendengar kata “Brexit”, mungkin yang terngiang di kepala orang Indonesia adalah soal kemacetan parah di pintu keluar tol Brebes Timur dua setengah tahun lalu: “Brebes Exit”. Ya, benar. Waktu itu, terjadi kebuntuan lalu lintas teramat parah di pintu keluar tol Brebes timur yang menyebabkan kemacetan sangat panjang dan menelan korban jiwa sebanyak dua belas orang. Tak disangka, chaos dan kerumitan kendaraan keluar masuk tol Brebes pada mudik lebaran 2016 itu, nampaknya hari ini benar-benar menggambarkan gonjang-ganjing di pemerintah dan parlemen Inggris. Koq bisa? Begini ceritanya.

14 January 2019

Debat Capres: Dylan vs. Rangga

Oleh: Yanu Prasetyo

Suka atau tidak, debat calon presiden dan wakil presiden adalah salah satu alat ukur terbaik untuk melihat kualitas demokrasi sebuah bangsa. Dari debat terbuka di televisi, misalnya, publik akan mampu menerawang kualitas calonnya. Terlepas soal ujian sudah dibocorkan atau tidak, tetap saja kemampuan menjawab “take-home exam” itu bisa menjadi pembeda kualitas kandidat dan kesiapan tim pendukungnya. Debat capres juga menjadi saluran yang sangat baik bagi kandidat untuk “berbicara” langsung kepada jutaan calon pemilihnya. Terlepas janji murni atau janji palsu yang akan disampaikan, tetap saja duel gagasan, program, dan cara pandang kandidat itu akan mampu mempengaruhi loyalitas calon pemilih. Besar maupun kecil. Tanpa debat, pilpres laksana sayur tanpa garam. Hambar.

12 January 2019

Slow Food Movement

Oleh: Yanu Prasetyo

Bermula dari Italia, gerakan Slow Food Movement berkembang dan menyebar ke seluruh dunia. Diam-diam, gerakan ini kini memiliki lebih dari 200,000 anggota aktif dan memiliki perwakilan di 50 negara (Weaver, 2012). Adalah Carlo Petrini (1949-2012) pria cerdas dan pemberani dibalik gerakan yang berdiri di akhir tahun 1980an ini. Keberanian Petrini sebagai seorang jurnalis beserta kawan-kawannya yang menolak masuknya jaringan raksasa McDonald’s di kota Roma itulah yang menjadikan gerakan ini melegenda. Dari perlawanan terhadap McDonaldization ini pula “slow food”, mendapatkan tempat sebagai antitesis dari “fast food”; “We don’t want fast food… we want slow food!” demikian kira-kira slogan yang menggema di Roma kala itu. Gerakan ini semakin lengkap dengan terbitnya Slow Food Manifesto pada 10 Desember 1989.

11 January 2019

“Krisis” Perbatasan Amerika-Meksiko

Inilah topik terpanas di Amerika Serikat hari ini. Sampai tulisan ini dibuat, pemerintahan federal AS masih lumpuh. “Government Shutdown” istilahnya. Kondisi dimana lembaga pemerintah federal tidak beroperasi untuk sementara dan tentu saja tidak bisa menggaji para pegawainya yang berjumlah lebih dari delapan ratus ribu orang itu. Keputusan ini diambil karena terjadi kebuntuan antara eksekutif dan Kongres dalam pengesahan anggaran baru. Dipicu oleh keinginan sang presiden, Donald Trump, untuk membangun tembok di sepanjang perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko. Seperti diketahui, Amerika serikat memiliki dua perbatasan darat utama. Utara dengan Kanada, selatan dengan Meksiko. Beberapa bulan terakhir, krisis ekonomi dan kemanusiaan di Amerika latin, yaitu negeri-negara tetangga AS, sedang memuncak. Seperti di Venezuela, El Salvador, Honduras, dan Guatemala. Dimana perang antar geng, kartel narkoba, dan hyperinflasi mendorong krisis ekonomi, krisis politik, dan krisis keamanan terjadi. Hal ini memaksa ribuan bahkan jutaan orang tua, perempuan, dan anak-anak harus mengungsi keluar negaranya. Salah satu tujuan para pengungsi itu tentu saja Amerika Serikat. The land of freedom and opportunity. Negeri yang diharapkan bisa memberikan peluang kehidupan yang lebih aman dan lebih baik bagi masa depan mereka.

08 January 2019

A Republic of Fat

“We are not only what we eat, but how we eat, too”
(Michael Pollan, 2006)
Dua abad yang lalu, Amerika dikenal sebagai “The Alcoholic Republic”. Dimana rata-rata konsumsi minuman beralkohol sangat tinggi. Pada masa itu, seperti dijelaskan sejarawan W.J. Rorabaough (1979), minuman beralkohol adalah bagian dari everyday American life. Dampaknya; kecelakaan, kekerasan, kecanduan, dan masalah sosial lainnya meningkat pesat. Pemerintah pun turun tangan. Peredaran minuman beralkohol dikontrol dan diawasi ketat. Bahkan sempat dilarang pada tahun 1920 melalui the 18th amandement sebelum akhirnya direvisi lagi empat belas tahun kemudian pada tahun 1933 (Miron & Zwiebel, 1991). Kini, julukan itu hampir dilupakan orang. Negeri Paman Sam memiliki julukan baru yang tidak kalah fenomenal: A Republic of Fat. Ya, julukan yang masih berkaitan dengan pola makan dan minum bangsa Amerika yang cenderung ekstrim. Mengapa bisa demikian?

“Kochtopus”: Sang Penguasa Amerika

Siapa sebenarnya dalang paling berpengaruh dalam gonjang-ganjing perpolitikan Amerika? Benarkah Donald Trump antitetis dari demokrasi di Amerika? Apa yang membuat jurang ketimpangan sosial dan ekonomi di Amerika belakangan semakin menganga?
Tiga pertanyaan di atas paling banyak menghantui mereka yang berusaha membaca perkembangan terkini negeri adidaya ini. Banyak pengamat politik mengatakan bahwa terpilihnya Donald Trump pada pemilu tahun 2016 merupakan penanda bangkitnya ideologi konservatif-kanan dan melemahnya gerakan liberal-progresif. Meskipun kenyataannya, dari hasil perolehan suara pemilu (popular vote), jumlah pemilih Clinton (65,9 juta suara) saat itu lebih banyak dibanding pemilih Trump (62,9 juta suara). Namun, disebabkan oleh sistem “electoral college”, maka meski jumlah pemilih Hillary Clinton lebih banyak dari Trump, tidak lantas membuatnya melenggang menjadi presiden perempuan pertama di Amerika.