13 December 2012

Mengurangi Resiko Bencana di Daerah


Oleh : yanu endar prasetyo

Tujuan Negara ini didirikan adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, termasuk didalamnya melindungi warga negara dari dampak buruk bencana.

Menganggap bencana sebagai takdir dan harus diterima begitu saja adalah cara pandang lama. Sebuah pemahaman yang harus diluruskan karena mendorong manusia untuk cenderung pasrah berpangku tangan. Bencana memang disebut takdir dalam pengertian setelah bencana itu terjadi. Namun sebelum bencana itu nyata-nyata hadir, maka manusia dengan segenap pengetahuanya dapat mengukur berbagai resiko yang mungkin akan diderita. Dengan syarat, kita mau mengenal, mengakrabi dan bersahabat dengan bencana itu sendiri.

07 December 2012

Aku Memilih Bercadar



PENGANTAR EDITOR

Dalam sosiologi agama, kedewasaan sikap keagamaan terkait dengan sikap iman umat beragama yang matang. Kriteria yang dipakai untuk mengenal sikap iman yang matang dan mantab adalah jika seseorang beriman memiliki ketahanan yang kuat dan tidak mundur (meninggalkan agamanya) apabila mengalami kesulitan-kesulitan berat yang datang dari luar. Itulah kiranya bagi penulis buku ini, sebagai hasil dari sebuah studi kasus yang berbobot untuk mengetahui “dunia” di balik jubah dan cadar perempuan. 

07 November 2012

Harta Karun Bung Karno


"....Pertengahan bulan November 2011, Saya dengan sengaja pergi ke Cirebon, Jawa Barat. Tujuan saya adalah untuk bertemu dengan salah seorang “pemburu” harta karun Bung Karno, sebutlah namanya Iskandar. Seorang lelaki berusia 50an tahun dengan perawakan kurus, tinggi sekitar 155 cm dan berkulit cokelat. Meskipun berbadan kurus, namun dari wajahnya terpancar semangat yang menyala. Terlebih ketika saya memulai pembicaraan tentang harta karun peninggalan Bung Karno, maka tatapan mata dan bahasa tubuh Pak Iskandar menampakkan pengetahuan dan kepercayaan diri yang sangat tinggi. Tutur bicara dan gaya obrolannya penuh gairah, dan cenderung sulit disela ketika ia bercerita.

04 November 2012

Inovasi Untuk Daya Saing Bangsa


Oleh : Yanu Endar Prasetyo

            Daya saing suatu bangsa memang dipengaruhi oleh banyak faktor seperti pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, insfrastruktur dan lain sebagainya. Namun salah satu faktor kunci yang tidak dapat dilupakan dalam upaya peningkatan daya saing tersebut adalah tingkat inovasi suatu bangsa. Salah satu penanda tingkat inovasi ini biasanya diukur dari seberapa banyak penerapan paten di suatu negara. Sebagai contoh, tahun 2008, Jepang menghasilkan paten terbanyak dengan mencapai lebih dari 500 ribu aplikasi paten. Hal ini tentu berbanding lurus dengan Anggaran RnD (Research and Development) yang disediakan negeri itu yang mencapai sekitar US$ 144 miliar. Dibawah Jepang adalah Amerika Serikat dengan jumlah paten lebih dari 400 ribu aplikasi dengan total anggaran RnD lebih dari US$ 400 miliar USD. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya memiliki anggaran RnD US$ 0,72 miliar dan hanya menghasilkan aplikasi paten sebanyak 23 buah saja. Angka ini jauh tertinggal dibanding dengan negara tetangga Malaysia yang menghasilkan 1.312 paten, dengan anggaran RnD US$ 2,3 miliar, ataupun Thailand sebanyak 986 aplikasi paten, dengan anggaran RnD US$ 1,46 miliar.

07 October 2012

Kaum Muda (Mau) Kemana?


Oleh : Yanu Endar Prasetyo

“…Didikan Barat superieur, karena ilmoenja teratoer dan techniknja tinggi. Terboekti djoega di Djepang jang mengambil didikan Barat oentoek pemoekoel Barat sendiri; terboekti djoega di Sovjet-Ruslang jang menjesoeaikan didikan Barat kepada toedjoean masjarakat sendiri…. Ilmoe mendidik pengetahoean dan pengetahoean mendjadi pangkal keberanian oentoek membantah apa jang salah dan menoentoet apa jang dipandang hak dan adil. Sebab itu, onderwijs jang sempurna mesti melahirkan kaoem revolutionair dalam tiap-tiap masjarakat jang pintjang kedudukannja. Ini adalah soeatoe hoekoem alam…”
(Mohammad Hatta, 1933)

Kutipan diatas merupakan salah satu bagian dari artikel Bung Hatta di majalah Daulat Ra’jat no 77 tertanggal 30 Oktober 1933. Artikel tersebut berjudul “Pemoeda Dalam Krisis”. Sebagaimana tulisan-tulisan Bung Hatta lainnya yang selalu menunjukkan kegelisahannya pada kondisi Bangsa, tulisan tersebut dengan gamblang menantang kaum intelektual muda Indonesia di masa itu untuk bangkit dari zona kemapanannya. Tantangan itu diuraikan dalam paragraf penutup tulisannya yang berbunyi :

“Semoeanja ini haroeslah menjadi pertimbangan kepada pemoeda Indonesia jang mendapat didikan Barat. Sebab itu, ‘pemoeda dalam krisis’ berarti pemoeda terpaksa mengambil kepoetoesan : maoekah kembali poelang ke masjarakat sendiri? Dan disini tidak ada entweder…oder! Tidak ada ini atau itu!”

06 October 2012

TEKNOLOGI & PENANGGULANGAN KEMISKINAN PEDESAAN


(Pengalaman Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Teknologi Tepat Guna di Indonesia)

Oleh : Yanu Endar Prasetyo[1]


ABSTRAK
Secara common sense, teknologi dianggap dapat memudahkan dan memecahkan permasalahan manusia. Oleh karena itu, implementasi Teknologi Tepat Guna (TTG) dianggap sebagai terobosan dalam upaya penanggulangan dan pengentasan kemiskinan, khususnya dalam mendorong pemberdayaan masyarakat (community empowerment) melalui aktivitas-aktivitas ekonomi yang berujung pada modernisasi produksi dan peningkatan pendapatan individu maupun masyarakat di pedesaan. Cara pandang seperti inilah yang paling banyak dianut saat ini, dimana kemiskinan dilihat sebagai kondisi minimnya pendapatan suatu golongan masyarakat (monetary approach/MA) sehingga diperlukan peranan TTG untuk memberikan nilai tambah dalam kegiatan ekonomi mereka. Namun demikian, kajian ini mencoba menegaskan bahwasanya cara pandang dan definisi tentang kemiskinan seperti diatas akan berimplikasi secara serius terhadap pemilihan pola intervensi TTG dan menentukan pula golongan miskin (poor) dan non-miskin (non-poor) mana yang akan menjadi sasaran pemberdayaan masyarakat? Melalui pengalaman kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis TTG di Kab. Belu (NTT), Kab. Subang (Jabar) dan Kab. Enrekang (Sulsel) makalah ini akan membedah kerangka paradigmatik tentang kemiskinan dan implikasinya terhadap pola intervensi TTG dalam menanggulangi kemiskinan di pedesaan.

         Kata Kunci : Kemiskinan, Pedesaan, Pemberdayaan Masyarakat, Teknologi Tepat Guna



[1] Mahasiswa S2 Sosiologi Pedesaan IPB 2010, Staf Peneliti di Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna (B2PTTG)-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

Abstrak Makalah Untuk Konferensi Nasional Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI), UMM Malang 19-20 Oktober 2012. 

25 September 2012

Sang Dewi Hujan


Dewi hujan. Demikian saya memanggil anak kedua saya yang baru lahir hari minggu kemarin (230912). Bukan karena dia kehujanan pas lahir, tetapi karena hujan seketika turun sesaat setelah ia hadir di dunia ini. Hujan malam itu menjadi sangat istimewa setelah berbulan-bulan kota Subang dirundung kemarau panjang. Bukan hanya di Subang, hampir di seluruh negeri memang sedang dilanda kepanasan. “Dinding neraka bocor”, demikian beberapa teman mengumpamakan suasana panas dan kering itu. Hujan malam itu adalah hujan pertama yang berlangsung sampai pagi hari. Benar-benar hujan yang tidak hanya membawa kesegaran, namun juga harapan baru.

Pun dewi hujanku, ia tidak hanya hadir membawa kesegaran baru ditengah keluarga kecil kami, tetapi dalam dirinya melekat harapan baru. Harapan tentang masa depan yang lebih panjang. Ya, terutama karena dia adalah seorang perempuan. Simbol kehidupan, lambang kesuburan. Dalam dirinya mengalir darah penerus peradaban. Dewi hujanku tepat jatuh ditanah yang tandus dan lalu menghidupkan. Ia membasahi jiwaku, perasaanku, dan hatiku seketika seperti seolah aku sendiri yang baru saja dilahirkan. Bahagia.

11 September 2012

Prosiding SNaPP2012: Sains, Teknologi, dan Kesehatan


EVALUASI TERHADAP KONDISI FISIK, PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO DI DESA PALAKKA KEC. MAIWA KAB. ENREKANG

Umi Hanifah, Yanu Endar Prasetyo, Arie Sudaryanto, Maulana Furqon


Sari


Desa Palakka termasuk desa terpencil di Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan. Desa ini tidak terjangkau oleh jaringan listrik PLN. Untuk memenuhi kebutuhan listrik, pada tahun 2007 telah dibangun sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) berkapasitas 50 kW, sebagai hasil kerjasama Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dengan Pemerintah Kabupaten Enrekang. Unit PLTMH Palakka terdiri dari tiga komponen utama, yaitu bangunan sipil, mekanikal-elektrikal, dan jaringan transmisi-distribusi. Konsumen PLTMH Palakka adalah seluruh masyarakat desa Palakka.Setelah tiga tahun beroperasi, PLTMH Palakka mengalami beberapa perubahan baik dari sisi bangunan fisik, pemanfaatan maupun pengelolaannya. Dalam makalah ini akan dipaparkan mengenai beberapa hasil evaluasi terhadap hal-hal tersebut. Penelitian dilakukan pada bulan April-Agustus 2010. Secara umum, fisik PLTMH masih berfungsi dengan baik. Kerusakan yang pernah terjadi yaitu pada flat belt, kontaktor, penyaring sampah, dan pipa penstok. Kerusakan ini telah diperbaiki.Pemanfaatan listrik PLTMH oleh masyarakat mengalami peningkatan yang signifikan. Pengelolaan PLTMH di Enrekang didasarkan pada Peraturan Bupati Enrekang. Pengelolaan PLTMH Palakka kurang berjalan baik, orang-orang yang bertugas menjalankan kepengurusan harian maupun operator kurang bekerja optimal, dan masyarakat kurang memiliki kesadaran untuk aktif membayar iuran listrik tepat waktu. Dari evaluasi kondisi tersebut maka diperlukan pembenahan yang cukup besar agar keberlanjutan PLTMH Palakka dapat terjaga.

Kata Kunci : PLTMH, pengelolaan, Palakka, Enrekang


download file lengkapnya disini

02 August 2012

Surat dari Ayah (1) : cq. Arafa Nuhbahtra

1 Agustus 2012
Dear Arafa Nuhbahtra,

Seperti baru kemarin melihatmu “terjun bebas” dari rahim bunda. Kulitmu yang merah, tangisanmu yang memecah gelembung ketegangan menjadi rona kebahagiaan pada setiap wajah orang di keluarga kita. Semua masih tergambar jelas. Benar-benar seperti baru kemarin. 

Bundamu saja masih serupa ketika pertama ayah meminangnya. Padahal hampir 4 tahun sudah kami berdua bersama, dan tiga tahun sudah kita hidup serumah bertiga.

Kehadiranmu tiga tahun lalu memang bak gempa, khususnya dalam kehidupan ayah. Semua hal berubah begitu cepat dan drastis. Khususnya dalam cara ayah memandang dunia. Ibarat dalam sebuah nyenyak yang terbuai mimpi, kamu membangunkanku hingga tak sempat tertidur lagi. Lebih gagah dari itu, kamu justru hadir bak “cermin hidup” bagi ayah. Tidak saja kerumitan yang membahagiakan, kamu juga hadir memberi pelajaran buat ayah. Pelajaran tentang kehidupan.

10 July 2012

Studi Banding Pansus RUU Desa Ke Brazil dan Cina = Mubazir!



Oleh : Arya Hadi Dharmawan

Harian Kompas edisi 09.07.2012 halaman 4 memuat berita tentang Pansus RUU Desa DPR RI yang sebagian pergi ke China dan sebagian lain akan ke Brazil serta yang lain memilih tak pergi ke luar negeri. Menanggapi keputusan mereka yang pergi ke China dan Brazil ini, aku lalu menulis pesan ke grup BBM yang di dalamnya ada beberapa teman anggota DPR yang kukenal baik. Begini kira-kira redaksi isi BBM-ku [diedit].  



Kawan-kawanku anggota DPR RI [Pansus RUU Desa] yang baik...



Mengapa Pansus RUU Desa DPR harus studi banding ke China dan Brazil kawan-kawan? Bukankah semua orang paham, bahwa struktur sosial, etika moral dan ideologi, serta budaya masyarakat desa di China/Brazil berbeda total dengan desa2 kita. Belum lagi soal landscape dan setting ekologi sebagai pembentuk "kesatuan masyarakat hukum" desa di Amerika Latin dan China, jelas berbeda 100% dengan Indonesia. Lalu apa yang hendak kalian pelajari buat desa kita? adakah manfaatnya?


03 July 2012

Working Papers : On Social and Economic Spheres


On Social and Economic Spheres
An Observation of the “gantangan” Indonesian tradition

Hokky Situngkir
[hs@compsoc.bandungfe.net]
Dept. Computational Sociology
Bandung Fe Institute

Yanu Endar Prasetyo
[yanuendar@yahoo.com]
Centre for Appropriate Technology Development
Indonesian Institute of Sciences

Abstract
Indonesian traditional villagers have a tradition for the sake of their own social and economic security named “nyumbang”. There are wide variations of the traditions across the archipelago, and we revisit an observation to one in Subang, West Java, Indonesia. The paper discusses and employs the evolutionary game theoretic insights to see the process of “gantangan”, of the intertwining social cohesion and economic expectation of the participation within the traditional activities. The current development of the “gantangan” traditionis approached and generalized to propose a view between the economic and social sphere surrounding modern people. The interaction between social and economic sphere might be seen as a kind of Lokta-Volterra’s predator-prey-like interaction, where both are conflicting yet in a great necessity one another for the sustainability of the social life. While some explanationsdue to the current development of “gantangan” is drawn, some aspects related to traditional viewscomplying the modern life with social and economic expectations is outlined.

Keywords: social and economic sphere, traditional village ecology, evolutionary game theory, social security.

Download Full Papers Please Click Here 

kekasih

Film Pendek Perdana Filmaker (Penulis + Kine club) Subang 

Judul : Kekasih 
cast :
Sally "esage" / Sally Aryanti
Deniar Sinatria / Deniar Perm
Akel / Akel Hasanudin

cerita/Sutradara : Oke Rosgana
edit : Oke Rosgana
Music : EMOTION by tritonas01

Kamera: Ikhlas Fajar Pratama Irawan
Produser: Yanu Endar Prasetyo, Tita Irama
Crew: Rakhmad Hidayattulloh Permana, Lilis, Dyan Rizky, Buce Bakti Firmanto, Deden Hanafi, Chizka SlaluCetia

terima kasih untuk semua yang telah mendukung :)